Malang tak dapat dielak Mujur tak dapat ditolak. Ibarat terbang ke langit lalu duduk di atas awan. Terkadang bisa menjadikan diri lupa daratan. 

Pada jaman reformasi bergulir, mencoba peruntungan untuk mendapatkan kesempatan kembali ke kampus biru. Pucuk dicinta ulam tiba. Pihak pemda mendorong staf staf meningkatkan sdm dengan program mencetak 1000 sarjana termasuk pasca sarjana, pihak kampus mendukung suami atau istri yang sudah kuliah untuk mendampingi kuliah juga. Jadilah kembali hidup di Jogja sekeluarga setelah lama merantau di Sumatra. Alhamdulillah.

Tidak mampu menolak juga ketika diminta menjadi ketua himpunan mahasiswa intra. Dengan pertimbangaj, karena bagaimana mau mendapat jabatan di kantor sepulang dari tugas belajar, kalau di kampus saja menolak tugas dan tanggung jawab pelatihan tingkat kepemimpinan. Alhamdulillah, tugas kuliah tugas keluarga tugas organisasi sudah dijalani.

Tesis pun diarrange supaya dapat bermanfaat besar di tugas tugas kantor. Ketika masa akhir tahun pun mendekati hari hari, maka muncullah peemintaan supaya dapat maju ujian, sehingga kalau ada peluang promosi, Insya Allah bisa dapat rejeki. Dosen pembimbing pun senyum senyum, karena ingat kalau kuliah biasa menghidupkan kelas dengan ramai diskusi. Sampai sampai kadang distop, coba yang lain dulu, khawatir kalau mendominasi, padahal hanya karena belum mampu mengelola emosi, untuk selalu berusaha unjuk diksi.

Waktu ujian tesis yang begitu singkat, Sampai kawan yang ikut nunggu di luar bertanya dengan  heran. Karena kebetulan ujian di bulan puasa, saya jawab saja, kalau mungkin pengujinya melihat wajah saya lucat, makin heran lah kawan dengan jawaban yang sangat tidak relevan itu. 

Mereka tidak tahu yang terjadi di dalam. Dengan senyum lebar dozen pembimbing yang paling senior dari dozen penguji lainnya, sudah memperkenalkan diri saya sebagai Puja Kesuma. Sebutan untuk Putra Jawa Kelahiran Sumatra. Kontan langsung disambut oleh Ketua Prodi S1 salah satu penguji yang kebetulan dari Sumatra Utara. Alhamdulillah, alamat bakalan baik nih ujian gue.

Dengan tenang dan suara kecil tapi mantap, menaruh kertas di in focus dan mulai menjelaskah isi tesis tahap demi tahap. Namun baru sampai landasan teori untuk digunakan sebagai dasar penyelesaian masalah yang dipandang penting perlu bermanfaat dan mendesak untuk ditangani, tiba tiba terdengar gebrakan di atas meja. 

"Kami sudah tahu kalau masalah teori. Coba anda sebutkan hasil analisa saudara!" tegur KaProdiS1. 

Untung pengalaman sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Intra masih dapat membentuk mental yang cukup menghadapi lawan diskusi dalam berbagai even. Ujian pun berlanjut dengan sesi Ketua Penguji. Banyak koreksi dari Ketua Penguji, termasuk keputusan untuk memilih metode penyelesaian masalah, mengapa tidak menggunakan metode lain yang lebih sophisticated. Berbalas pantun dengan santun merupakan makanan saya sehari hari dengan kawan kawan di himpunan. Alhamdulillah. Akhirnya lulus dengan perbaikan. Jangan tanyakan bagaimana peran dosen pembimbing. Beliau solmed karena saya Ketua Himpunan.

Namun gegar jiwa datang ketika pulang ke tempat kerja. Biasa waktu di Jogja dapat kiriman gaji hanya tus tus. Lalu kalau pas ada rejeki nomplok datang kiriman bea siswa jut jut. Nah sampai di kantor dipromosikan pindah kantor untuk dapat jabatan. Masih diberi kepercayaan pula tanggung jawab sebagai pimpro mil mil. Masya Allah. Bagaimana ini ?

Dan terjadilah pengalaman baru.

Suatu hari di benua biru.

Saat saat masih lugu.

Baru pulang yang ke dua dari kampus biru.

Lihat dan perhatikan badan yang masih kuru.

Apalagi berada di benua biru dengan Jas wagu.

Mengejar petualangan Bos Rahmad Rahim yang tenggelam berbulan bulan di benua biru.

Atas dukungan tanpa reserve dari Antoni Jahari, Ferdiansyah Kh, Ryan Yan yang selalu padu.

sumber foto docpri

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading