Selamat sore Plukers, akhir-akhir ini di semua media massa tengah ramai dan riuh perbincangan tentang pemilihan umum ya. Eitt tunggu dulu, ini bukan artikel politik. Bukan. Tulisan ini hanyalah uraian opini subyektif dari saya.

Sempat ada beberapa obrolan saya dengan teman-teman, mengenai issu ini dan itu. Tidak di dunia maya atau dunia nyata, keduanya sama saja. Selalu ada yang membuka bahasan mengenai pemilihan umum. Saya hanya diam mendengarkan mereka, ketika ada yang bertanya "Kamu pro yang mana?" Apa jawaban saya "Saya belum tahu, dan bila saatnya tiba saya masih belum tahu, entahlah. Tunggu nanti saja." 

Sejujurnya, saya ini tidak tertarik untuk menentukan pilihan, kenapa? Karena saya terlalu bingung dengan banyak issu yang berkembang. Meski saya terkesan tidak peduli, sebenarnya saya memperhatikan banyak hal yang terjadi di media sosial. Saya pun tidak mau salah menentukan. Sebagai warga negara yang baik saya harus memilih.

Pernah sekali, karena terlalu jengkel dengan pertanyaan semacam itu, saya berkata "Saya tidak mau memilih, saya akan menyumbang kontribusi dengan cara saya. Membantu beberapa generasi muda yang membutuhkan bimbingan. Juga menorehkan tulisan positif agar layak dibaca dan diambil manfaatnya." Saya merasa geram dengan berbagai hasutan politik.

Kemudian teman saya menyanggah, "Kamu apatis sekali, suara kamu itu menentukan masa depan bangsa!" 

Saya mengangguk, lalu pergi menjauh. Saya memang terlihat apatis, tidak peduli pada masa depan bangsa dan negara. Itu menurut mereka yang berkecimpung di dunia politik. 

Tapi tidak, saya tidak apatis. Sebab, saya ingin melakukan perubahan dan perbaikan dengan secuil gerakan di dunia literasi. Saya menulis cerita tentang moral, pengendalian diri, pengambilan sikap. Saya juga membuka pintu rumah saya untuk anak-anak di lingkungan sekitar. Anak-anak tetangga usia SD, yang kurang bisa memahami materi pelajaran mereka di sekolah. Tidak ada patokan biaya atau apapun, saya hanya ingin membagi ilmu. Justru saya senang, rumah saya selalu ramai dengan tingkah lucu mereka. Ada tiga atau empat anak yang selalu datang setiap siang atau sore. Tidak ada jam khusus, saya hanya bilang pada mereka, "Kalau nggak bisa, main aja ke rumah. Kalau Kaka bisa pasti Kaka bantu," mereka sudah seperti adik saya sendiri. Ini bukan les private atau semacamnya, bukan. Saya hanya ingin memanfaatkan ilmu yang pernah saya dapat di sekolah. Malahan saya sering mengeluh ketika orang tua mereka datang membawa sesuatu ke rumah saya. Itu tidak perlu. Mengajari anak-anak itu menyenangkan. Sayangnya, saya tidak punya title untuk mengabdi jadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Mungkin yang saya lakukan memang terkesan remeh. Bahkan, bagi sebagian orang tidak akan berpengaruh banyak. Memang iya, tidak berpengaruh banyak. Tapi, setidaknya saya bertindak. Sikap saya adalah realistis. Melakukan apa yang saya bisa lakukan saat ini. Tidak hanya berkata peduli, tapi tidak melakukan hal yang menunjukkan peduli pada generasi, apalagi bangsa dan negara.

Kembali lagi soal pemilihan umum, saya lebih baik diam dan menentukan pilihan saya sendiri. Bukankah, salah satu asas pemilu itu Rahasia. Biarkan pilihan saya tetap rahasia, bahkan keluarga tidak perlu tahu saya pilih yang mana. Jadi, pihak manapun tidak bisa mengintervensi saya. 

Saran saya untuk yang sudah punya pilihan, tidak perlu mengorasikan pilihanmu. Apalagi menghasut orang lain untuk memilih nomor yang sama denganmu. Pilihlah pilihanmu, dan biarkan orang lain memilih pilihannya.

Stop, money politics! Dimulai dari diri kita sendiri.


Salam Aksara


Ilustrasi: http://pxhere.com/en/photo/733163

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading