Apa hukum berbohong? Ndak tentu. Sebagaimana pertanyaan apa hukum menyampaikan kebenaran? Jawabnya sama: ndak tentu. 

Bagaimana ini hukum kok ndak tentu? 

Ya memang ndak tentu. Misalnya Anda berkata jujur demi mengucapkan kebenaran secara polos kepada orang yang mripatnya picek, "Cek, Picek apa kabar?" Detik berikutnya adalah bogem mentah mendarat di mulut Anda. 

Atas kejadian itu Anda tidak bisa menyalahkan Si Picek karena sebelum ia mendaratkan bogemnya, Anda telah melakukan kekejaman verbal kepadanya. 

Anda juga tidak bisa beralasan bahwa Anda berkata jujur untuk menyampaikan fakta kebenaran. Kejujuran yang menyakiti orang lain sebaiknya tidak diucapkan. Persis Anda akan tersinggung kalau aib Anda diutarakan secara jujur dan terbuka di hadapan publik.

Jadi, apa hukum menyampaikan kebenaran? Ndak tentu--bergantung situasi ruang dan waktu, serta kepada siapa kebenaran ditujukan. 

Sewajib-wajibnya kebenaran disampaikan, misalnya kepada anak atau istri, ia memerlukan cara yang baik dan bijaksana. Tidak sertamerta atas nama dan demi kebenaran, lantas kita membabi buta mengucapkan kebenaran. 

Nasrudin sedang nangkring membenahi atap rumahnya yang bocor. Seorang tetangga datang.

"Nasrudin, bisakah Engkau turun sebentar?" pinta tetangganya.

"Ada apa?"

"Turunlah sebentar saja. Aku akan menyampaikan sesuatu kepadamu."

Nasrudin jengkel dengan ulah tetangganya. "Katakan dari bawah. Aku bisa mendengarnya dari sini!"

"Sangat penting. Engkau harus turun."

Nasrudin mengalah. Ia turun dari atap rumah. Tetangganya membisikkan sesuatu di telinga Nasrudin.

"Nasrudin," bisiknya, "Aku mau pinjam uangmu."

"Berapa?" tanya Nasrudin dengan suara yang keras.

"Jangan keras-keras! Kalau tetangga mendengar, malu aku."

"Bantu aku membenahi atap rumahku. Nanti aku beritahu saat kamu di atas."

Sesaat kemudian tetangga Nasrudin berada di atas atap dan membantunya sampai pekerjaan selesai.

"Ayo, mana uang yang akan kau pinjamkan?" bisik tetangganya.

"Maaf ya, Kawan. Aku tidak punya uang," kata Nasrudin. 

Mendengar jawaban yang mengecewakan tetangga Nasrudin marah. "Aku sudah membantumu membenahi atap rumah. Mengapa kamu tidak mengatakannya sejak di atas tadi?"

"Jangan keras-keras! Nanti tetangga tahu kalau aku tidak punya uang."

Hidup bebrayan ala Nasrudin memang asyik. Ia menang tanpa ngasorake. Yang dikalahkan tidak merasa dikalahkan karena menang atau kalah sering menipu dan berwajah semu. 

Sayangnya kita kehilangan sense of bebrayan. Yang kita teriakkan adalah kebenaran atas "kepicekan" orang lain. Hidup jadi tegang dan penuh rasan-rasan, bisik-bisik, kasak-kusuk.[]

Jagalan 101018

Image: pexels/rawpixel.com

How do you react to this story?



302 Like 972 Views   3 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading