Apakah Plukers pernah merasakan bahwa hidup ini makin terasa berat ? Mungkin tidak sepanjang waktu, namun ada fase-fase kehidupan yang kita jalani terasa jauh lebih berat dari yang kita perkirakan. Saking beratnya, kita jadi gampang sakit, di raga dan di jiwa. Kedua wilayah ini saling berkaitan. Jika raga yang sakit, jiwa ikut merana. Jika jiwa yang sakit, raga pun meng-gejala.


Orang yang raganya sakit bisa saja merasa tak sakit, karena menolak untuk merasa sakit. Apakah kemudian dia bisa sembuh dengan sendirinya ? Kemungkinan bisa, karena sebenarnya tubuh kita ini punya kemampuan self healing. Dan kemampuan seperti itu terpusat pada pikiran. Jika seseorang selalu berpikiran bahwa dirinya sehat dan terus mensugesti dirinya sehat, maka hal itu akan bisa membuatnya sehat. Pikiran yang sehat membantu tubuh untuk tetap sehat.


Lalu bagaimana ketika justru pikiran yang sakit ? Penyakit yang berawal dalam pikiran akan bisa dilihat gejalanya dari perubahan perilaku, perubahan pola pikir atau suasana hati. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa kesehatan pikirannya terganggu, atau batinnya terluka, emosinya teramat lelah. Jika dibiarkan dalam waktu yang lama, kondisi itu bisa mengakibatkan penyakit batin. Kekhawatiran, kecemasan yang berlebihan dan kesedihan yang berlarut-larut, bisa meningkat menjadi stress yang tak mampu dikelola dengan baik, lama- lama bisa menjadi depresi yang berkepanjangan.


Menurut catatan WHO ada sekitar 322 juta orang mengalami depresi yang ditandai dengan kesedihan yang berkepanjangan, kehilangan minat untuk beraktivitas, bahkan kemampuannya pun ikut berkurang. Jika keadaan ini dibiarkan berlarut- larut, tidak segera ditangani dengan baik, diabaikan begitu saja, maka resiko – resiko kesehatan lainnya akan bermunculan dan semua mengarah pada terancamnya kesehatan raga dan jiwanya. Resiko yang muncul bisa penyakit diabetes atau penyakit jantung yang akan menyerang raga. Resiko kecanduan obat dan keinginan bunuh diri juga mengancam jiwa.


Apa yang membuat orang depresi ?

Banyak hal yang tadinya merupakan sumber kegembiraan, direnggut dari kehidupan seseorang bisa menimbulkan depresi, mulai dari putus cinta, tak punya uang, kehilangan keluarga, kehilangan pekerjaan atau tak dianggap dalam lingkaran pertemanan adalah faktor- faktor yang bisa membuat seeorang depresi.

Biasanya orang yang mengalami masalah- masalah batin enggan untuk membicarakan masalahnya. Semua disimpan dan dirasakan sendiri. Pada saat itu lah seharusnya peran keluarga atau orang terdekat dibutuhkan. Namunjika seseorang menyadari bahwa dia tengah mengalami depresi, akan lebih baik baginya untuk mencari metoda yang bisa dilakukan sendiri tanpa harus mengikutsertakan orang lain jika memang tak menginginkan ada campur tangan orang lain untuk beberapa alasan pribadi.


Berikut ini ada beberapa metoda yang bisa dilakukan. Sederhana dan siapa pun bisa melakukannya :

Menghabiskan waktu untuk diri sendiri saja.

Sebagian besar masalah yang kita hadapi berkaitan dengan orang lain. Saat sibuk memikirkan orang lain, terkadang lupa memikirkan diri sendiri. Terlalu fokus membahagiakan orang lain, membuat seseorang lupa memperhatikan diri sendiri. Jadi meluangkan waktu untuk diri sendiri melakukan apa pun yang ingin dilakukan bisa membuat diri jadi lebih berbahagia. Membuat kita merasa bahwa pusat dari segala kehidupan ini adalah diri sendiri. Orang lain hanyalah pelengkap kebahagiaan. Orang menyebut metoda self healing ini dengan istilah Me Time.


Berdamai dengan diri sendiri.

Kita cenderung menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain dan bahkan menyalahkan diri sendiri atas sesuatu yang menimpa kita. Setiap kali teringat peristiwa buruk yang membekas, rasa marah kembali membakar hati dan perasaan kita. Hati yang terluka sangat dalam akan sulit sembuhnya, namun bukan berarti tak bisa disembuhkan. Satu- satunya cara untuk menyembuhkan luka batin adalah berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri sendiri. Menerima keadaan dengan menganggapnya sebagai guru yang akan membuat kita jadi pribadi yang kuat, adalah pilihan yang bijak.


Berdialog dengan diri sendiri

Proses berdamai dengan diri sendiri bisa dimulai dengan bicara pada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya diinginkan. Lebih baik jujur daripada melampiaskan segala perasaan buruk kita pada sesuatu atau pada seseorang. Satu-satunya orang yang bisa membuat kita bicara jujur adalah diri sendiri.


Asah terus kemampuan untuk memahami emosi diri

Jika kita memiliki kemampuan untuk memahami keadaan emosi , tentu kita juga bisa memberikan respon emosi yang tepat atas penderitaan yang dialami. Dan hal ini dapat menolong diri kita sendiri untuk merngendalikan emosi- emosi kita saat tekanan datang dalam berbagai bentuk permasalahan.Kemampuan kita memahami emosi kita sendiri dapat meningkatkan kepedulian terhadap diri sendiri. Merespon peristiwa buruk dengan perasaan lapang dada, akan mampu membuat kita bebas dari duka yg berkepanjangan.


Taruh masa lalu di tempatnya, dalam perspektif yang tepat

Jika masa lalu hadir di masa kini, maka jangan disesali. Cukup untuk dimaknai dengan mengambil hikmahnya, petik buah pelajarannya, dan pengalaman itu akan memperkaya nilai –nilai dalam hidup kita. Memaknai pengalaman masa lalu dengan respon yang positif sangat membantu penyembuhan hati dan perasaan yang terluka.


Jadi semua hal yang terjadi dalam hidup kita akan menjadikan kita seperti apa, maka pikiran yang sehat membantu kita menemukan banyak hal yang membahagiakan pada akhirnya. 

 


Gambar : Pixabay.com /Johnhain


How do you react to this story?



240 Like 741 Views   6 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading