Kampung halaman selalu menjadi hal yang kita rindukan-setiap orang rindukan. Masih terbayang jelas memori saat aku kecil dulu bermain dengan teman-teman. Saat-saat indah ketika berangkat sekolah dan mengaji bareng jalan kaki.

Apa saja yang sudah berubah dari kampung halamanku?

Bagi aku pribadi perubahan itu bisa dilihat dari segi permainan para anak-anak serta pohon-pohon yang mulai sedikit, juga bisa dilihat dari adanya bangunan-bangunan rumah baru.

Dulu, waktu aku masih kecil, permainan aku dan teman-teman banyak sekali (mungkin beberapa sudah terasa jadul dimakan zaman), tetapi bagiku dan teman-teman kecilku, semua permainan itu lah yang membuat masa kecil kami menjadi berkesan, seru dan asyik.

Waktu masih kecil, aku dan teman-teman sering bermain benteng, gala asin, gala uter, deprok, lompat tali, bepe-bepean (semacam boneka dari kertas yang dijual), enceng gondok dibuat boneka, tanah lempung, petak umpet dan lain sebagainya. Bagi aku pribadi dulu semua permainan itu seru banget. Baru kemudian ketika beranjak remaja dan dewasa, aku dan teman-teman sudah tidak kumpul-kumpul lagi seperti dulu. Kami sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Sementara itu, kulihat anak-anak di bawah-bawah angkatanku, ternyata berbeda. Mereka lebih tertarik dengan gadet, main PS atau pergi ke warnet untuk main game. Aku tidak melihat lagi anak-anak kecil bermain petak umpet, lompat karet, gala asin dan lain sebagainya. Semua permainan mengasyikan itu seolah punah. Aku sendiri pun karena sudah terlalu lama tidak bermain lagi, jadi agak lupa dengan cara-caranya. Iya, kampung halamanku sudah berubah. Tidak ada lagi pemandangan ceria dan ramai anak-anak bermain. Kecuali sepak bola, anak-anak lelaki masih sering memainkannya. Itu berarti teori evolusi Charles Darwin berlaku, ya. Permainan-permainan yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman dilupakan, sementara yang eksis seperti sepak bola tetap bertahan. Hmm.

Kemudian penuturan Ibuku beda lagi. Beliau lebih kefokus pada perubahan-perubahan yang terjadi secara fisik alam itu sendiri. Ibu bercerita bahwa dulu kampung halamanku adalah rawa-rawa, sawah dan sungai. Jika ingin berpergian dari suatu daerah ke daerah lain, maka mereka harus naik 'getek' yakni bambu-bambu yang dirapatkan, perahu atau sampan kecil. Selama di perjalanan, orang-orang terbiasa berbekal. Isinya bukan nasi dan lauk pauk seperti tempe atau tahu, tetapi isinya adalah nasi dan garam yang dipepes. Sampai di daerah Tambun, baru ada jalan, itu pun jika kita ingin pergi ke Kota atau daerah atas setelah Tambun, maka harus naik delman karena memang tidak ada kendaraan lain lagi.

Kemudian, driver yang membawa kami menuju RS berceletuk, "Tidak ada remaja yang berpacaran sembarangan di jalan dong, Bu?"

Ibu menjawab, "Tidak. Dulu tidak ada yang namanya berpacaran karena memang anak-anak yang telah beranjak dewasa langsung dijodohkan."

Pak driver menimpali, "Wah, kalau anak sekarang sih enggak mau dijodohin. Iya enggak, Neng? Neng mau dijodohin nggak?"

Kali itu saya cuma tersenyum kecil, kembali asyik mengajak adik mengobrol.

Sebenaranya, saya ingin bercerita sedikit bahwa dulu banyak orang dari kampung saya yang pergi ke Kota untuk berjualan atau dagang. Biasanya barang yang didagangkan adalah minyak atau abu gosok. Kakek saya pun salah satu orang itu. Namun, seiring banyaknya muncul produk sabun cuci piring, abu gosok sudah tidak diminati.

Iya kampung halamanku memang sudah banyak berubah. Namun, di sana lah tempat ternyaman bagiku. Tempat di mana pertama kali aku dilahirkan hingga sudah sebesar sekarang. Di sana lah tempat pertama kali aku belajar merangkak, berjalan dan mengenal sekitar. Di sana lah tempat pertama kali aku bersosialisasi dan berteman dengan anak-anak sepantaranku. Dan di sana lah tempat aku menyimpan banyak kenangan serta harapan.




TANAH AIRKU
Ciptaan: Ibu Sud

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biar pun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walau pun banyak negeri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sana lah ku rasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biar pun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai








Sumber gambar: taufiqurrahmansn.blogspot.com




Nopita Sri Mulyani, Bekasi Jawa Barat
Minggu, 21 Oktober 2018

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading