Mendaki Gunung sudah menjadi bagian dari hidupku, setiap kali liburan panjang tiba aku pasti ada disana, di gunung yang membawaku untuk pergi kesana.

Pendaki Gunung memang terbilang keren karena keberaniannya, hasil gambar beserta pencapaian setelahnya. Namun, jangan dikira pendaki gunung tidak pernah merasakan kegagalan dalam pendakian, ketakutan, kecemasan, keresahan, bahkan pengalaman menakutkan, Semua Pendaki pasti pernah merasakan. Karena setiap mendaki gunung tidak selalu berjalan mulus selalu ada liku-liku didalamnya.

Maret, 2016

Pada waktu itu Ujian Sekolah Akhir Semester 2 untuk kelas 12 akan segera dilaksanakan. Tentunya bisa menjadi kesempatan bagi aku untuk merencanakan pendakian gunung. Sebab, setiap UAS kelas 12. Kelas 10-11 biasanya sekolah libur dalam jangka waktu seminggu sampai mata pelajaran selesai. Moment ini menjadikan kesempatan bagiku untuk merencanakan pendakian ke gunung papandaian yang selama ini aku belum pernah menjamahnya. Kata orang sih sejuta keindahan ada didalamnya, apalagi ciri khas dari hutan mati yang eksotis, beserta ladang edelwis yang membentang di atasnya. 

Aku mengajak kedua temanku, rizki dan deden, setelah kita bertemu di kantin sambil membicarakan persiapan dan hari yang tepat untuk pemberangkatan. Sebelumnya tidak ada penolakan, keduanya sangat setuju dan hal yang membuatku tersenyum sendiri, ketika keduanya mempunyai pemikiran yang sama ingin mendaki gunung saat liburan UAS kelas 12 yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi. 

Rizki dan deden sangat ingin sekali pergi mendaki ke gunung papandaian sejak dari awal tahun baru 2016. Tapi, niatnya tidak kesampaian karena meskipun hari libur cuaca sangat tidak mendukung, selalu turun hujan angin.

Tiba-tiba ada yang memotong pembicaraan kita. Aradea salah satu murid kelas 11, kami bertiga baru kelas 10 semester 2. Mendengar pembicaraan kita berdua, aradea merasa tertarik mendengar rencana pendakian kami ke gunung papandayan. Sebelumnya aradea belum pernah mendaki, merasa minder dia meloby kita untuk bisa mengajaknya, saya menyetuji aradea akan ikut bersama kita bertiga.


Dan yang sangat beruntungnya aku mengajak aradea, ternyata aradea asli orang garut tepat sekali dengan lokasi Gunung Papandayan. Salah satu pemikiranku berkata, saat sampai disana kita harus menginap dimana? Ternyara aradea adalah jawabannya. Setelah aku tanya aradea, ternyata aradea sudah memikirkan itu dan mengajak kami untuk menginap dirumahan selama satu malam persiapan peralatan dan logistik yang dibawa.

Alasan kami menginap karena perjalanan kami menggunakan sepeda motor, bukan perkara lelah, tapi harua tetap stabil menjaga badan agar tetap fit.

Kami berangkat membawa 2 sepeda motor , berangkat pagi melalui jalur kidul salopa, selain dekat ke tasik. Jalan kidul meminimalis biaya yang kita punya juga menghindar dari polisi karena kami benar-benar tidak punya SIM (Surat Izin Mengemudi) pada waktu itu.

Kami berangkat pagi hari sekitar jam 09.00 WIB pagi dan sampai di garut pukul 13.00 WIB.
Perjalanan yang sangat pasa dengan rencana selama 4 jam perjalanan sudah sampai garut. Lekas kami tiba di kediaman orang tua aradea dari Ibunya di Garut, aradea sudah berbicara sebelumya bahwa rumahnya tidak terlalu besar, aku, rizki dan deden sangat tidak keberatan. Karena yang kami butuhkan hanya tempat istirahat untuk berdebah dari lelahnya perjalanan.

Setelah sampai kami langsung di sediakan tempat tidur sederhana beserta teh hangat yang menghangatkan tubuh kita dari suhu dingin di Garut.

Alasan kami ingin sekali mendaki Gunung papandayan di bulan maret yang kebetulan libur, biasanya dibulan itu cuaca akan cerah sekali, kami hanya bisa berharap dan berdoa saja semoga itulah yang akan terjadi nanti. Alasan aradea untuk ikut pun ternyata ada maksud lain untuk menemui kakek dan neneknya, sudah lama sekali tidak bertemu ujarnya. 

Bangunlah kami dengan sejuta ingatan, bahwa hari itu kami akan melakukan pendakian, setelah malam kami selesai persiapan dan membicarakan jalur pendakian.

Hari sangat begitu cerah, membuat hati kami benar-benar dalam keadaan tidak sadar diri karena begitu senangnya harapan dan doa kami baru saja terkabul. Kebetulan semalam kami dikasih tahu sama kakeknya aradea tentang Gunung Papandayan, bahwa disana harus sangat berhati-hati dengan Babi hutan, ada babi hutan terbesar yang berwarna putih bisa disebut rajanya disana, orang sekitar sering menyebutnya Babi Omen. Cerita yang disampaikan kami dengarkan baik-baik beserta larangan yang tidak boleh dilakukan disana.

Kami berangkat naik motor menuju base camp papandayan jarak yang ditempuh dari rumah kakek aradea hanya 10km. Sampai disana kami diberi tarif 10.000/motor di gerbang pertama saya kira itu tiket saya untuk mendaki, ternyata masih ada di atas base camp pendakian yang kami pun ditarif kembali 15.000/orang untuk registrasi beserta  20.000/motor unuk keamanan. Mahal juga ujarku dalam hati. Yaudahlah kami rela membayar dengan tarif semahal begitu.

Pagi yang sangat cerah itu membaw kami semakin semangat saat mendaki, tiba-tiba kabut turun menutupi Base Camp Gunung Papandayan, kami sangat merasa aneh cuaca cerah kok bisa turun kabut setebal itu padahal udah mau siang. Kami berpikir positif ajah. Kami menyewa tenda,kompor dan sleeping bag. Harga sewaannya cukup lumayan mahal juga.

Sampai dikawah blerang semuanya baik-baik saja, tanpaa kami kira blerang mengeluarkan asap dan baunya yang sangat menyengat. Jadi teringat sok hok giee penulis pendaki yang meninggal karena asap blerang. Semoga semuanya tidak terjadi apa-apa, kami pun segera memasang masker dimulut.

Perasaan kami sudah gak enak, dari mulai kabut yang tiba-tiba turun dan blerang yang bau dan asapnya tiba-tiba mengeluarkan bau menyengat. Setelah  pos 1-3 sudah kita lalui menuju pos 4 tempat kami akan melakukan camp di area tegal bumbrun. 

Tidak pernah kami pikirkan sebelumnya bahwa cuaca digunug akan berubah secepat itu, tiba-tiba angin kencang menghembus kami dan 2 kelompok pendakian yang mendaki bersama kami, awan hitam beserta gerimis turun mengguyur kami.

Untungnya kami sudah memasang tenda yang kami sewa sebelum awan menurunkan airnya, akhirnya kami pun masuk tenda. Suhu mulai terasa mendingin, waktu semakin sore. Aku mulai merasakan hal yang gak enak, ternyata sleepin bag yang aku bawa benar-benar tidak ada di cerier. Aku teringat waktu belerang di kawah tiba-tiba keluar, pas waktu aku membawa masker di tas ternyata sleeping ba aku simpan di atas batu yang setelahnya tidak aku beresin kembali. Aku yakin pasti ketinggalan disana. Dengan memberanikan diri walaupun keadaan cuaca udah agak gerimis aku bergegas pergi mencari sleeping bag, alasan aku mencarinya karena sleeping bag itu aku sewa, betapa kagetnya hatiku. Bagaimana jika hilang.

Berlanjut berjalan menuju pos 2 , ternyata belum juga ketemu. sialnya hujan semakin besar, aku tidak bisa mengeluh hanya bersabar. Aku berteduh dibawah batu yang menyerupai payung, disitulah aku diam kedinginan dan bertambahnya rasa takut. Hujan pun reda di pos 3 menuju pos 4 ada warung yang buka. Padahal sebelumnya aku tidak melihat warung itu terbuka, dengan pikiran positif aku menghampiri warung tersebut, didalamnya ada bapak-bapak yang sedang duduk di depan unggun api, ternyata si bapak baru saja kehujanan tepat sama dengan aku. Aku pun berbincang hangat tentang apa yang terjadi barusan dan keanehan selama aku mendaki gunung papandayan. Suatu perbincangan yang membuat bulu roma ku berdiri ketika si bpk marno bilang " gunung papandayan akan erupsi" pas dimana kami dan kedua kelompok itu akan mendaki ke puncak besok pagi.

Nasihat si bapak marno membuat aku hangat lagi, sebab itu hanya prediks warga setempat yang tidak pasti terjadinya, aku sebagi mausia hanya bisa berharap dan berdoa.

Tibalah aku di tegal bungbrun bergegas masuk tenda karena hujan mulai turun kembali, kembali tanpa membawa sleeping bag yang aku sewa. Aku langsung menceritakan apa kejadian sebenarnya yang aku dapatkan dari si bpk yang aku temui di warung antara pos 3-4.
Saat aku menceritakan semuanya, kita berempat merasakan kecemasan yang sama.

Apalagi mejelang magrib, babi hutan keluar mencari makanan, sialnya aradea lupa menaruh bekas sarden di luar tenda. Tidak menghitung waktu lama, babi hutan itu benar-benar ada. Alhamdulillah tidak mengganggu kami selama tidur.

Paginya kami berniat mendaki ke puncak, berhubungan masih hujan kami memutuskan untuk menunggunya reda. Setelah sampai hutan mati kami langsung berfoto ria, namun ada suatu hal yang salah. Kami malah mendaki ke puncak bayangan yang dibawahnya jurang curam batu. Untugnya kami ingat membawa peta yang diberi di basecamp, benar apa yang dikatakan di base camp. Bahwa kita harus tetap melihat peta. Kami benar-benar bodoh soal navigasi.

Kami pun harus turun kembali ke tegal bungbrun untuk melihat peta jalur yang akan kita lalui. Sungguh aku tidak menyangka pendakian yang akan aku harap baik-baik saja malah berbalik 180 derajat. 

Selama pendakian gunung papandayan kami benar-benar tidak menemukan puncak, dan sampai turun lagi ke base camp.

Tidak selamanya hidup akan berjalan mulus, masa lalu yang benar-benar harus aku rasakan dan lalui sebagai sejarah dalam hidup.

Ilustrasi : My galeri

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading