Banyak jalan menuju Roma. Artinya, banyak jalan dapat ditempuh untuk mencapai satu tujuan, salah satunya kesuksesan. Dan kekeliruan yang kerap kita lakukan adalah salah satu dari berikut:

1. Mencoba terlalu banyak jalan, berpindah-pindah, tidak pernah mau menekuni satu atau beberapa jalan saja sehingga waktu kita banyak terbuang tanpa pernah membuat kita benar-benar sampai ke tujuan.

2. Menyepelekan jalan-jalan lain yang tampak kecil, padahal itu juga jalan-jalan yang dapat ditempuh untuk sampai ke tujuan bahkan boleh jadi lebih sepi dan pendek sehingga akan membuat kita lebih cepat sampai.


Di dunia kepenulisan, penerbitan karya dapat menempuh berbagai bentuk kerja sama. Sering kali, sebagai penulis pemula, kita gegabah menyepelekan bentuk-bentuk kerja sama yang ditawarkan penerbit atau media massa. Misal, naskah kita dipinang penerbit untuk diterbitkan dalam bentuk buku digital dengan sistem beli putus alias penerbit hanya memberikan honor satu kali untuk penerbitan buku digital tersebut. Namun jika minat pembaca atas buku tersebut bagus, penerbit akan menerbitkan versi cetaknya dan penulis akan mendapatkan honor yang lain, yang diatur dalam perjanjian kerja sama yang baru.


Dengan idealisme sangat tinggi, kita mungkin akan serta-merta menolak bentuk kerja sama demikian karena yang ada dalam benak kita, buku baru disebut buku yang terbit secara resmi jika dapat ditemukan di toko-toko buku dalam bentuk buku cetak, bukan buku digital. Kita bahkan mengabaikan rekam jejak yang luar biasa baik dari pemberi penawaran kerja sama, banyaknya peminat yang telah mati-matian mencoba menembus pintunya yang rapat dan belum juga berhasil, hanya karena bentuk kerja samanya kurang cocok dengan selera kita. Rasanya tidak marem kalau buku kita tidak langsung dipajang di rak-rak toko buku. Tidak bisa difoto, tidak bisa dipegang wujudnya.


Itu hak penuh setiap penulis. Sebagai pencipta naskah yang telah berpayah-payah, ia sangat berhak memutuskan bentuk penerbitan seperti apa untuk naskahnya. Namun yang disayangkan, jika kita sebagai pemula mencibir habis-habisan apalagi dengan kata-kata yang tak elok untuk model kerja sama penerbitan seperti itu seolah-olah kita dan karya kita sudah jelas pantas mendapatkan penawaran yang lebih. Ingat, kita masih pemula dan sungguh-sungguh dalam posisi tidak tahu jalan mana yang justru akan mengantarkan kita ke tujuan lebih cepat.


Kita tentu tahu, sejumlah artis ternama yang eksis dengan karya-karyanya hingga saat ini juga mengalami perubahan besar dalam karier dan kehidupannya justru bukan dari peluncuran album pertama melainkan melalui kanal-kanal lain, salah satunya Youtube. Orang boleh saja menyebutnya keberuntungan. Tetapi saya sangat yakin bahwa keberuntungan pun tidak jatuh begitu saja. Keberuntungan memiliki cara kerjanya sendiri. Sebagaimana orang yang duduk atau berdiri di bawah pohon jauh lebih mungkin kejatuhan daun ketimbang yang berdiri di tengah lapangan.


Saya melihat media seperti Youtube yang mereka gunakan untuk memperkenalkan diri dan talenta mereka sebagai salah satu pengejawantahan dari peribahasa 'banyak jalan menuju Roma' itu. Kalau bukan siapa-siapa, khalayak belum tahu talenta kita, tentu susah benar hendak tiba-tiba masuk dapur rekaman, memproduksi album pertama, lalu menyebarkannya ke seluruh pelosok tanah air apalagi dunia.


Maka ditempuhlah jalan-jalan yang sekiranya paling terjangkau untuk saat itu, pun masih segaris dengan tujuan utama, hanya saja disederhanakan dalam sejumlah tahap untuk memudahkan langkah sendiri. Tahap yang paling awal ya tentu memperkenalkan diri, talenta, dan karya pada publik; menunjukkan pada mata dunia bahwa kita ada.


Menimbang-nimbang selalu diperlukan. Tetapi pertimbangan yang baik tentu melalui sebanyak mungkin sudut pandang. Siapa kita dan di mana posisi kita saat ini, siapa kita dan di mana posisi kita kelak yang ada dalam bingkai harapan, bentangan jalan di antara kedua hal tersebut yang harus terus diperpendek, pengalaman masa lalu, serta pintu yang selalu terbuka untuk segala kemungkinan di masa depan. Pun rajin-rajin menengok perjalanan para senior dari belum menjadi siapa-siapa sampai sekarang kita mengenal mereka sebagai para penyandang nama besar. Saya yakin, dari situ, kita akan menjadi lebih bijaksana dalam menimbang peluang-peluang yang menghampiri, banyak jalan menuju Roma itu.


Demikian pun saat kita menulis di sini, di Plukme ini. Tak sedikit orang barangkali menganggap menulis di sini main-main belaka. Tetapi menurut saya, kita tidak pernah tahu kapan dan di mana orang yang memiiki hubungan kuat dengan dunia kepenulisan profesional akan menemukan kita dan tulisan-tulisan kita. Seperti permata yang tinggal diasah atau malah sudah jadi dan tinggal dilempar ke pasar yang tepat.


Semoga kita semua yang tengah berusaha, apa pun bidang dan tujuan besarnya, tak menjadi seperti judul artikel ini. Menyepelekan yang kecil, yang besar pun tak dapat. Datang dengan tangan kosong, pulang pun dengan tangan kosong, masih pula harus menelan gunungan penyesalan yang menyesakkan dada.


Sumber gambar: Pixabay.com/csliaw-5258730

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading