Beberapa hari terakhir saya ditagih agar segera menyelesaikan Kata Pengantar buku Asmara di Negeri Somplak dan Salikah

Rencananya, dua buku tersebut dilaunching berbarengan dengan Workshop Penulisan yang diselenggarakan Plukers Jateng dan DIY di Semarang, 11 November 2018. 

Saya mensyukuri kepercayaan yang diberikan kawan-kawan penulis kedua buku tersebut. Rasa syukur dari momentum pertemuan yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Terutama sejak Mbak Anis mengundang saya di workshop yang pertama kali diselenggarakan di Pujon. 

Penerbitan buku Asmara di Negeri Somplak dan Salikah adalah "secuil" nikmat yang sangat besar di antara samudera kenikmatan yang diberikan Tuhan. 

Saya menghitung nikmat tersebut, misalnya sejak hadir di workshop Pujon lantas bergulir ke workshop di Kafe Sawah, menimba ilmu dari Mbak Novie Surabaya hingga jam sepuluh malam, membuka pintu peluang menulis profil desa Pujon Kidul, hingga Workshop Semarang--lengkap beserta pernak-pernik dimensinya, lipatan-lipatannya, unsur-unsurnya, yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata--sungguh membuat saya "menyerah".

Niscaya tidak akan sanggup kamu menghitung nikmat yang Aku berikan, demikian pernyataan Tuhan. 

Diliputi oleh kekerdilan menghitung nikmat Tuhan dan rasa syukur yang tidak sebanding dengan kemurahan Tuhan, saya menulis Kata Pengantar kedua buku karya Plukers itu. 

File kedua buku itu mengendap di HP saya selama beberapa hari. Belum saya baca sama sekali hingga Mbak Anis menagihnya. Dua hari saya tenggelam membaca kegilaan Negeri Somplak dan kesunyian Salikah. 

Tema dua buku itu jelas berbeda, namun bertemu dalam satu irisan yang sama. Apa itu? Di tengah zaman edan yang semakin kehilangan parameter keedanan, menjadi orang waras yang "digilakan" adalah kenikmatan yang langka. 

Orang cenderung ikut arus. Tidak sedikit dari mereka malah terseret arus zaman edan hingga tidak berjarak lagi dengan keedanan. Mereka merasa waras-waras saja. 

Satu dari sekian banyak orang itu adalah Salikah yang terus bertahan dan mempertahankan martabat diri, harga diri, dan nyawanya. Ini fenomena unik dan langka dari refleksi perjalanan hidup seseorang.

Refleksi seorang Salikah bisa menjadi cermin bagi mereka yang digilakan oleh lingkungan.

Salikah menyadari dan sengaja mengambil jarak dari kegilaan mayoritas yang justru memasang stigma gila pada dirinya. Fenomena somplak yang dialami Salikah berbeda dengan kegilaan Negeri Somplak. 

Namun, kedua somplak itu bertemu dalam satu momentum: berani mengambil jarak dengan dunia dan berani menertawakan diri sendiri. 

Jujur, kita sering merasa kecut bahkan tidak punya nyali untuk berjarak dari dunia--lengkap bersama kegilaan di dalamnya. Kita terlalu serius pada saat kita bisa tertawa. Lalu malah tertawa di saat harus serius. 

Terhadap naluri yang paling alami: kapan tertawa, kapan menangis, kapan tersenyum, kapan mengkritik, kapan menghargai kita hilang kepekaan.

Itulah mengapa pada Kata Pengantar buku Salikah saya menceritakan kisah Barkh Al-Aswad. Seorang pejalan sunyi yang menertawakan Tuhan sehari tiga kali. 

Maka, jangan terpedaya oleh penampilan. Barkh Al-Aswad kumal jubahnya. Tapi doanya langsung dijawab oleh Tuhan. Jangan pula terpaku pada kata-kata. Dalam doanya, Barkh malah memarahi Tuhan. Pada segi ini Barkh adalah orang somplak.

Silakan ditunggu dua buku karya para penulis somplak. Jangan lupa sambil bersyukur. Kadang kegilaan memang patut untuk disyukuri.[] 

Jombang 7 Okt 2018

Image: pexels/Vinicius Vilela

How do you react to this story?



332 Like 1K+ Views   9 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading