( Ipoh - Kuala Lumpur)

Day 3 until midnight

Tepat pukul 12.15 mobil grab yang kami tumpangi sampai di depan loby utama Terminal Amanjaya Ipoh. 

Berbeda dengan suasana TBS (Terminal Bersepadu Selatan) di Kuala Lumpur, terminal di sini lebih mirip dengan terminal Arjosari Malang atau Bungurasih di Sidoarjo. Loket tiket berbagai jenis Bus terpisah sesuai dengan nama Bus.

Saya segera mencari Bus dengan jadwal pemberangkatan tercepat menuju Kuala Lumpur. Syukur Alhamdulilah ada bus bernama Pushliner yang berangkat pukul 12.45. Saya langsung membeli 2 tiket. Harganya ternyata lebih murah dari Bus yang saya naiki dari KL - Ipoh. Bus Pushliner ini harga tiketnya hanya 20 RM per orang. Saya senang bukan kepalang.

Saya dan suami segera menuju gate pemberangkatan yang berada tepat diujung lorong penjualan tiket. Kami langsung dipersilahkan masuk ke dalam bus.

Saat masuk ke dalam saya baru memahami kenapa bus Pushliner harganya lebih murah dari bus Sri Rahayu. Ternyata bus ini memang bus kelas ekonomi dengan penataan seat 2-2 yang mirip dengan bus patas AC di Indonesia. Dari segi kenyamanan kursi di dalam bus ini memang sangat berbeda dengan Bus Sri Rahayu. Lebar kursinya standart dan tidak ada sandaran kaki yang lebar dan bisa diangkat secara otomatis.

***
Perjalanan kembali ke KL melewati jalur tol yang sama dengan perjalanan pergi. Di sepanjang jalan kami melewati hamparan kebun sawit yang tersusun sangat rapi di kanan kiri jalan. Selain itu kita akan disuguhi pemandangan bukit-bukit batu serta tebing hijau yangbmengelilingi kota Ipoh. Sangat adem dan membuat rileks. Plukers pasti nggak akan bosan. Tambahan lagi saat perjalanan pulang Ipoh diguyur hujan lebat. Suasana syahdu dan sendu pun mengiri perjalanan saya ke KL.

Tak terasa 3 jam perjalanan berlalu dengan cepat. Kami sampai di KL sekitar pukul 16.00 Waktu Malaysia.

Saya dan suami kembali turun di pemberhentian terakhir yaitu di TBS. Melalui jalur yang sama saat akan pergi dan memilih moda transportasi LRT menuju Hotel WP tempat menginap terakhir kami di Malaysia.

***
WP Hotel terletak di dekat Tune Hotel berjarak sekitar 500 meter dari stesen LRT Sultan Ismael.

Alasan saya memilih hotel ini karena tergiur dengan foto penampakan rooftop Infinity Pool yang menyajikan pemandangan twin tower.

Keletihan dan kelelahan membuat saya dan suami ingin segera beristirahat di kamar. Sayangnya saat saya akan check in ternyata meja resepsionis sangat ramai dengan keluar masuk turis lain. Saya harus menunggu hampir 30 menit untuk mendapatkan kamar. Saya tidak menyangka hotel yang diberi bintang 4 ini memiliki pelayanan yang setara dengan hotel bintang 3. Sangat disayangkan.

Kami mendapatkan kamar di lantai tertinggi dengan 2 ranjang berukuran besar dan pemandangan tengah kota yang lumayan menyegarkan mata.

Setelah berendam di bathtub air panas dan bersih diri, saya dan suami memutuskan untuk melanjutkan explore Kuala Lumpur dengan mengunjungi masjid Jamek. Dari hotel kami tinggal berjalan lagi ke arah stesen sultan Ismael, menaiki LRT tujuan Little India.
Kegemporan dan keletihan seolah melayang begitu saja saat ingat ini adalah malam terakhir kami menjelajah Kuala Lumpur.

Masjid Jamek Sultan Abdul Samad terletak disebrang stesen Masjid Jamek. Bangunannya mungil satu lantai tapi sangat indah. Saya jadi ingat dengan desain arsitektur masjid Nabawi di Madinah. Kalau boleh dibilang masjid jamek seperti miniatur masjid Nabawi. Di sekeliling masjid juga ditanam pohon kurma walaupun tidak berbuah. Saya jadi merasa kembali ke timur tengah.

Saya dan suami sampai di masjid Jamek bertepatan dengan adzan maghrib.
Setelah sholat maghrib berjamaah dan jamak sholat Isya saya dan suami menyempatkan diri berfoto di depan masjid.

Menjelang gelap perut kami mulai bergejolak. Saya memutuskan untuk meluncur ke Central Market atau Pasar Seni yang letaknya tidak jauh dari Masjid Jamek. Kami menaiki LRT dan turun tepat di Stesen Central Market.

Seperti yang banyak dikatakan oleh blog traveler, di central market memang terdapat banyak sekali penjual coklat. Saya yang lapar dan kalap segera memborong beraneka coklat yang dijual dengan harga mulai 10RM - 50RM per bungkus. 

Setelah puas belanja kami langsung berburu makan malam. Lagi-lagi saya dan suami merasa ragu untuk makan di sembarang tempat. Pilihan kami akhirnya jatuh di sebuah rumah makan India yang menyajikan nasi kandar dan berlabel halal. Kami hanya menemukan satu restauran India yang ramai dan berlabel halal. 

Setelah menyantap nasi kandar yang sebenarnya rasanya 11-12 dengan nasi padang, saya dan suami meneruskan perjalanan menuju keramaian yang lain. Tepat di seberang Central Market ternyata ada lagi pusat kuliner dan shopping jalanan yang cukup terkenal yaitu Petaling Street. Tempat ini mirip dengan Pecinan di Glodok Jakarta. Jadi untuk berkuliner bagi Muslim Traveller seperti saya, tempat ini kurang cocok.

Kami akhirnya menjelajah Petaling street dan membeli beberapa souvenir gantungan kunci dan kaos oblong dengan gambar landmark Malaysia.
FYI. souvenir di sini memang lebih murah dari pada di Central Market ya.

Tak terasa waktu sudah menunjuk pukul 23.00 malam saya dan suami yang sudah tidak kuat lagi memutuskan untuk segera pulang ke hotel.
 Malam ini, kami seperti melayang di udara karena kami tidak bisa lagi merasakan kaki-kaki kami saking capek dan linunya. 😅 efek berjalan maraton dari pagi hingga tengah malam.

Bersyukur di hotel kami bisa berendam di bathtub dan terapi air panas di bawah shower. 

Benar-benar nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Bersambung ...

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading