Tulisan ini adalah tulisan ke-260 yang tercatat di kolom posted  Plukme. Tulisan pertama tercatat 010118: tanggal 1 bulan Januari tahun 2018. Hari pertama tahun 2018 saya menulis Satu Biji Kebenaran Vs Seribu Biji Kesalahan. Sejak tulisan pertama hingga tulisan ke-260, dalam waktu sepuluh bulan bergabung di Plukme, beragam tema tulisan mengalir begitu saja.

Tidak ada tulisan spesial yang saya hasilkan—semua lahir secara spontan dan lebih sering dadakan. Akibatnya, setelah saya mencermati apa yang saya tulis, semuanya muter-muter  alias mengulang satu tema untuk tema tulisan selanjutnya. Alangkah dangkal pengetahuan saya.

Jadi, abaikan saja semua saran tentang apapun saja, juga saran bagaimana seharusnya kita menulis, yang pernah saya sampaikan. Saya tertawa sendiri saat membaca atau mendengar ulang. Kata orang Jawa, saya termasuk orang kemeruh  atau sok tahu, padahal aslinya tidak tahu. Supaya lebih sadis: aslinya saya tidak tahu apa-apa.

Sudah tidak tahu apa-apa, saya juga termasuk orang yang pelupa. Benar-benar lupa apa yang saya tulis sepuluh menit lalu setelah tayang di Plukme. Kebiasaan lupa ini selain merepotkan orang lain juga pasti menjengkelkan. Protes keras dari seorang kawan saya tanggapi secara polos: “Lho iya ta? Maaf ya.” Dan ternyata saya sudah lupa salah satu isi tulisan yang ia protes itu.

Tidak sedikit yang menilai saya kemenyek, sombong, jaim  atau entah istilah apa lagi yang mengungkapkan bahwa saya tidak cekatan membalas komentar. Lambat menyapa kawan. Lemot  merespon sapaan pembaca. Tanggapan saya: semua itu tidak salah alias benar adanya. Saya bukan pengguna online  yang mantengin  gawai selama 24 jam. Kalau saya selesai submit  satu artikel, paling cepat akan saya tengok lagi setelah tiga sampai lima jam. Kadang saya baru membalas komentar setelah lewat tiga hari atau bahkan lebih.

Apa yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini adalah saya bukan pengguna media sosial yang baik. Tidak fast respons sebagaimana tuntutan perilaku orang menggunakan media sosial. Celakanya, perilaku slow respons  saya bawa ketika menulis di Plukme yang tampil sebagai platform media sosial.

Sungguh, ternyata perilaku saya ketika bermedia sosial mengecewakan banyak kawan. Walaupun saya tidak akan switch off  dari dunia online, namun kendali kapan online dan offline  berada di tangan saya sepenuhnya. Kendali tersebut menyebabkan perilaku saya di media sosial tidak sejalan dengan arus utama para pelaku lainnya yang hampir terus menerus online.

Hingar bingar dan situasi yang sarat dengan kecemasan di media sosial perlu diimbangi dengan suasana tenang dan kedamaian di dunia offline. Bertatap muka secara langsung, menatap ekspresi senyuman, menghirup udara di sekitar tempat pertemuan, berjumpa secara fisik di lokasi tertentu akan mempertahankan keterikatan yang langgeng.

Arus komunikasi tidak akan secepat ketika percakapan berlangsung secara online. Lebih lambat memang—namun, arus komunikasi yang lambat akan mengantarkan kita pada percakapan yang reflektif dan mendalam. Tidak sekilas saja melainkan fokus pada lingkaran tema yang dipahami dari berbagai sisi. Komunikasi offline membuka peluang itu semua.

Berjumpa secara fisik dan ngobrol  secara langsung dengan tiga orang teman secara kualitatif lebih bermanfaat daripada terlibat percakapan di grup media sosial yang diikuti oleh ratusan anggota. Interaksi sosial di media sosial kadang menampilkan adegan asosial. Setiap orang mempertahankan temanya masing-masing lalu mendorong semua anggota agar fokus pada tema tersebut.

Sering didapati percakapan di media sosial melompat ke sana ke mari, bergeser-geser sangat cepat, sporadis sesuai mood  anggotanya. Tidak jarang pula setiap orang mempertahankan pendapatnya untuk urusan yang sepele sambil memaksa orang lain agar sependapat dengan dirinya.

Betapa melelahkan menjalin "hubungan sosial" di media sosial. Kadang lelah itu dipicu oleh ketidakseimbangan antara menjalani sesuatu dan menjadi sesuatu. Di dunia nyata  kita didorong untuk menjalani sesuatu. Sedangkan di dunia maya kita dicuacai untuk menjadi sesuatu. Yang tidak seimbang adalah manakala kita menghabiskan sebagian besar waktu di media sosial untuk menjadi sesuatu.

Tentu ada jarak antara menjadi sesuatu dengan menjalani sesuatu. Orang zaman now  atau para akitivis media sosial kadang lebih sibuk menjadi sesuatu. Semoga di lain kesempatan saya bisa menuliskan hal ini lebih detail.

Itulah kenapa saya menolak sebutan maestro, karena itu label menjadi sesuatu, bukan terutama menjalani sesuatu. Padahal yang saya jalani setiap hari bukan hanya menulis: saya mandi, sarapan, mengantar anak ke sekolah, nguras  bak kamar mandi, mencuci piring, mengisi diklat, tidur, naik kereta api, membaca buku.

Dalam satu hari saya menjadi apa saja sesuai peran, tugas dan fungsi menurut konteks ruang dan waktu. Lalu apa sebutan yang pas ketika kita bisa menjadi sesuatu atau menjadi apa saja dalam sehari?

Anda pilih menjadi sesuatu atau menjalani sesuatu? []

Jagalan 051118

Image: pexels/Sharon McCutcheon

How do you react to this story?



230 Like 1K+ Views   4 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading