Pada saat itu, aku sungguh masih muda. Aku hanyalah seorang anak kuliahan yang bekerja paruh waktu demi mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhanku. Aku sedang dalam perjalanan untuk bekerja. Saat itu Kamis malam dan giliranku mulai jam 9:00 malam. Aku terlambat. Aku sungguh terburu-buru saat mengendarai motorku.

Di persimpangan, lampu hijau berubah menjadi merah dan dunia seolah berhenti. Hal berikutnya yang aku ingat adalah aku terbangun di ambulans. Paramedis bertanya apakah aku tahu apa yang terjadi. Mereka bertanya apakah aku tahu di mana aku berada, tetapi aku hanya terdiam.

Aku tidak ingat bagaimana itu terjadi. Aku tidak ingat banyak hal pada saat itu. Hanya saja aku sedang mengemudi untuk bekerja, dan hal berikutnya yang aku tahu ada seorang bapak-bapak yang mengatakan bahwa dia sedang meminta bantuan dan ambulans akan segera tiba di sana.

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kenapa dia memanggil ambulans? Apa yang terjadi? Apakah seseorang terluka? Realitasku terpecah. Beberapa barang yang kubawa tercecer di jalanan sementara yang lain (motorku) terpental beberapa meter jauhnya. Aku pingsan.

Seorang petugas polisi datang saat aku berada di rumah sakit. Dia mengatakan bahwa aku telah ditabrak oleh sebuah mobil. Ada seorang pria di dalamnya. Dia baik-baik saja.

Aku mulai mengingat kecelakaan tersebut beberapa hari setelah itu terjadi. Aku ingat bahwa aku terpuruk di pinggir jalan dengan beberapa luka di tubuhku.

Pada saat itu aku tidak menyadari aku terluka, aku bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi. Yang kuingat hanyalah pikiran yang “menembus” kepalaku. Aku tidak berpikir bahwa aku akan lumpuh atau terluka parah. Justru yang aku pikirkan saat itu adalah, “Aku akan terlambat bekerja.”

Pada saat itu, bukannya memikirkan hal-hal yang aku pedulikan, semua kewajiban melandaku sekaligus.

Pengalaman itu membuatku berpikir, mengapa hal pertama di pikiranku hanyalah pekerjaan? Mengapa alam bawah sadarku menarik perhatian pada hal-hal ini? Mengapa bosku, dari semua orang yang pertama kali ingin kuhubungi? Apakah kehidupan dan keluargaku kurang penting daripada pekerjaanku?

Aku banyak berpikir tentang malam itu dalam beberapa bulan berikutnya. Itu adalah momen paling menakutkan dalam hidupku hingga saat ini. Bukan karena aku bisa terluka parah atau lebih buruk, tetapi karena itu adalah pertama kalinya aku menyadari bahwa prioritasku semuanya salah. Hal-hal yang aku tekankan dan khawatirkan tidak terlalu penting dalam banyak hal.

Sudah beberapa tahun sejak kecelakaan itu, tetapi pada tahun-tahun itu aku menyadari beberapa hal:

1. Semuanya bersifat sementara, entah rasa sakit atau kesenangan

Otakku yang saat itu masih terlalu muda mulai menyadari hal ini setelah kecelakaan tetapi tidak sepenuhnya bisa memahaminya sampai beberapa tahun kemudian. Pada saat itu, aku menderita luka namun menyakitkan, harus tetap dewasa untuk pergi bekerja maupun acara keluarga, tampak seperti hal terburuk di dunia. Aku tidak ingin melakukan semua itu. Sewaktu-waktu melalui kampus, aku mengalami kesedihan yang serupa ketika kehidupan sepertinya menumpuk dan menghancurkanku di bawah beban tanggung jawab.

Bahkan ketika dunia merasa seperti akan berhenti, itu tidak terjadi. Hidup terus berlalu. Kita mencari cara untuk melanjutkannya, dan rasa sakit itu akhirnya hilang.

2. Selalu bersyukur

Bersyukur bahkan ketika kita merasa tidak punya apa pun untuk disyukuri. Jadilah yang paling bersyukur di saat-saat sulit karena mengingatkan kita betapa beruntungnya ketika kita memiliki hal-hal baik. Belajar untuk menerima apa yang diberikan kehidupan dan bagaimana mencintai perjalanan membutuhkan latihan, kesabaran, dan hati yang bersyukur.

Untuk sesaat setelah kecelakaan, aku menjalani hidup dengan perasaan marah. Aku marah karena motorku rusak. Aku ingin menuntut orang yang menabrakku. Butuh waktu, tetapi aku menyadari apa yang terjadi padaku bukanlah akhir dunia. Aku memiliki semua anggota badanku dan aku masih memiliki sisa hidupku untuk dijalani.

3. Kita tak perlu membuang waktu untuk menekankan hal-hal kecil yang akan selalu kita khawatirkan

Begitu sampai pada kesimpulan bahwa semua hal bersifat sementara, akan lebih mudah untuk melepaskan hal-hal kecil karena kita tahu bahwa kita tidak perlu merasa tertekan ataupun terlalu khawatir tentang hal itu.

4. Kita semua memiliki jumlah waktu yang sama setiap hari, dan terserah pada kita bagaimana menggunakannya

Aku pernah berbicara dengan seseorang yang menekankan fakta bahwa kita semua memiliki jumlah detik yang sama dalam satu hari, dan terserah kita untuk menggunakan waktu itu dengan bijak. Kita membiarkan prioritas mendiktekan penggunaan waktu kita, tetapi apakah prioritas kita tertata? Apakah kita menggunakan waktu kita dengan baik? Untuk belajar sebanyak yang kita bisa dan terus berkembang?

Aku memutuskan bahwa hal terpenting yang dapat aku lakukan dengan detik-detik milikku adalah apa yang membuatku bahagia, yaitu melihat diriku belajar dan tumbuh, melalui tulisan, melalui tantangan hidup, dan melalui berkah-berkah kehidupan.

Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia? Maksudku, bukan bahagia sementara. Yang aku maksud adalah jenis kebahagiaan yang tetap hidup, yang dapat kita pikirkan dan tetap utuh, jenis kebahagiaan yang kita dapatkan dari cinta yang luar biasa, atau melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah kita pikirkan.

Terlalu sering kita mendasarkan kebahagiaan kita pada benda-benda nyata — rumah, mobil, pakaian, dan hal-hal bodoh yang memberi kita kepuasan instan. Hal-hal yang hanya akan memberi kita sukacita untuk satu kedipan mata.

Kebahagiaan sejati datang dari menggunakan waktu kita dengan cara yang terasa otentik dan berarti bagi kita. Bagi beberapa orang, itu mungkin berarti membuat perubahan besar dalam hidup, tetapi ini juga dapat berarti menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kita cintai, atau menikmati hal-hal kecil yang mungkin kita rasakan ketika kita fokus pada pekerjaan dan tujuan kita.

Hidup tidak menjamin banyak hal, tetapi itu menjamin bahwa akan ada 86.400 detik dalam sehari. Kita memiliki hak untuk detik-detik itu, namun aku tidak dapat menjamin bahwa kita akan mendapatkannya, tetapi, denganmu atau tanpamu, waktu akan terus berdetak.

Ketika kita memiliki kebuntuan pekerjaan setiap hari, ketika kita berada dalam hubungan yang tidak bahagia yang tidak ada apa-apanya, dan ketika kita menghabiskan waktu merasa tidak puas dengan kehidupan yang telah kita lakukan, maka ingatlah bahwa kita memiliki 86.400 detik setiap hari, dan itu adalah pilihan bagaimana kita menggunakannya. Apakah kamu sudah membuang-buang waktumu?

Jika kamu pikir bahwa kamu harus membuang waktumu, atau kamu berpikir bahwa detik tidak sepenting jam dan hari, jika kamu terus-menerus mengatakan kepada diri sendiri bahwa kamu akan melakukannya besok, ingatlah ini:

Pada saat kamu membaca artikel ini.. mungkin saja.. Seseorang meninggal dalam kecelakaan, seseorang sedang diculik, seseorang sedang melakukan bunuh diri, seseorang menikah, seseorang melahirkan bayi, seseorang bersatu kembali dengan orang yang dicintai, seseorang dihukum karena bersalah, seseorang diganggu, seseorang menangis, seseorang mengalahkan kanker, seseorang meninggal karena kanker, seseorang berselingkuh dengan istrinya, seseorang menemukan harapan, dan lain-lain.

Semua itu dan lebih banyak terjadi ketika kita duduk dan membaca ini. Ada hal-hal buruk yang terjadi di dunia ini, dan ada hal-hal indah yang terjadi di dunia ini. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, jadi mengapa menyia-nyiakan waktu kecil yang mungkin kita miliki?

Temukan apa yang membuat kita senang dan lakukanlah. Jangan menunggu saat yang tepat, itu mungkin tidak akan pernah terjadi. Jangan mengarang alasan karena selalu ada jalan. Kita mungkin tidak dapat membuat perubahan besar secara instan, tetapi kita dapat membuat perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari dan mengambil langkah kecil menuju kehidupan yang ingin kita ciptakan.

Terlalu banyak orang membuang waktu berharga mereka mengkhawatirkan tentang apa yang mungkin, bisa saja terjadi, dan tidak akan pernah terjadi. Jadilah tipe orang yang menghabiskan waktu untuk mencintai, hidup, dan melepaskan apa yang tidak penting.

“Hidup adalah apa yang terjadi ketika kita sibuk mengkhawatirkan segala hal yang perlu kita ubah atau capai. Pelan-pelan, penuh perhatian, dan cobalah menikmati momen itu. Saat ini adalah hidupmu.”

Arigato..


Image Source: giphy.com

How do you react to this story?



200 Like 1K+ Views   6 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading