Media berperan besar membentuk asumsi kita. Informasi berupa fakta atau opini yang tersebar di media lambat laun akan memenuhi isi pikiran kita. Hal tersebut akan mempengaruhi kita membentuk gambaran tentang banyak hal. Selanjutnya mempengaruhi pola pikir, cara berpikir kita sesuai dengan informasi - informasi tersebut. 

Kalau dulu, sebelum teknologi informasi berkembang pesat, lingkunganlah yang paling banyak mempengaruhi kita. Tetapi sekarang, selain lingkungan, media juga sangat berperan penting memberikan pengaruh kepada kita. 

Berapa banyak dalam satu hari kita menghabiskan waktu beraktivitas dengan gadget ? Jika dikerucutkan lagi, berapa banyak waktu yang kita pakai dalam satu hari untuk bermain sosmed, youtube, browsing ? 

Jika hal tersebut dimanfaatkan untuk memberikan influence positif, bagus. Tetapi jika sebaliknya, justru akan merugikan kita. 

Saya pernah membaca sebuah tulisan seorang pentolan media. Media yang digawanginya pernah menyelenggarakan sebuah konser dari band ternama di Negeri ini. Sebelum konser, konon band tersebut mempunyai permintaaan kepada media tersebut. Media tersebut tidak mau memenuhi permintaan band tersebut dengan alasan permintaan dari band tidak sesuai karakter media mainstream. Salah satu karakter media mainstream adalah mengejar rating. Menurut media tersebut permintaan grup band tidak bisa menggenjot rating, maka ditolak. Melalui beberapa perundingan akhirnya konser tersebut diselenggarakan dan disiarkan secara live oleh media tersebut. 

Dalam kasus lain, pengejaran rating seringkali dilakukan dengan berbagai cara. Bahkan jika harus membuat acara yang tidak bermutu. Dan agaknya cenderung membuat masyarakat semakin tidak dewasa. 

Lha mau bagaimana lagi, namanya saja media mainstream. Tujuannya ya rating. Berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk produksi, termasuk menggaji orang - orang yang ikut andil dalam pembuatan acara tersebut. Mungkin itu alasan mereka yang mengejar rating dengan menghalalkan segala cara.

Tapi, apakah power yang dimiliki oleh sebuah media tidak begitu kuat untuk membuat sebuah trend positif, untuk mendewasakan masyarakat misalnya, dengan menampilkan konten - konten, acara - acara, informasi berupa fakta atau opini yang berkualitas ? Kalau trend positif yang terbentuk, dan masyarakat akan menyukainya rating pasti juga akan didapatkan. Keuntungan tidak akan ke mana. 

Itu kalau memang pragmatisme-materialisme tidak bisa dihindari. Dan kelihatannya memang tidak bisa dihindari. 

Agaknya, kalau mau agak lebih bijaksana, akan lebih baik. Media digunakan bukan hanya sebatas pragmatisme-materialisme yang sudah pasti money oriented. Tetapi media untuk menyebarkan kebaikan. Walaupun tidak secara langsung mendidik masyarakat. Bisa memberikan influence yang positif. 

Kalau hal tersebut belum bisa dicapai, agaknya festival lebay belum akan hilang dari jagat media di negeri ini.  


Sumber gambar : pixabay.com/Pexels

How do you react to this story?



229 Like 776 Views   1 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading