Plukers budiman dan budiwoman sekalian di seluruh jagat Plukme!, apa kabar? Kuharap saat ini kalian kutemui dalam keadaan tak kurang suatu apa. Tak ada yang sedang kudisan, tak ada yang sedang bisulan, dan tak ada yang sedang panuan. Kalau pun ternyata ada yang sedang begitu, yah ... kuharap kalian semua sabar menjalani ujian dan nikmatilah penderitaan di kulit kalian masing-masing. Percaya saja, semua kita punya jatah penyakit kulit masing-masing, hanya masalah waktu saja kapan kita akan mendapatkannya. Yang belum dapat, jangan berkecil hati, mungkin penyakit kulitnya sedang dalam perjalanan menujumu.

Jadi, Plukers, Kamis hingga Sabtu kemarin, 01 November hingga 03 November 2018, tempat kerjaku menjalani proses survei akreditasi yang kabarnya menegangkan itu. Rangkaian agenda surveinya benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Meski sudah mempersiapkan segala sesuatunya sejak berbulan-bulan ke belakang, tak lantas membuat kami santai-santai menghadapi tiga hari kemaren. Kalau boleh jujur, tekanannya justru bertambah berkali-kali lipat, setidaknya begitu yang kurasakan sejak hari pertama hingga hari kedua. Tekanannya baru benar-benar terasa longgar justru menjelang akhir survei, hujung hari ketiga, iya ... pas acara penutupan.

Hari ketiga itu, kami mendadak melebur akrab bersama tim surveiornya, sampai ada teman-temanku yang mewek saat tim surveiornya dadah-dadah naik mobil. Duh ... pertemuan dan perpisahan memang sejoli alam yang tidak bisa dipisahkan ya. Di mana ada pertemuan, mesti deh di situ juga sudah menunggu perpisahan. Hikmahnya, karena kita sudah tahu dan sadar bahwa setiap pertemuan selalu berujung pada perpisahan, kita jadi lebih menghargai setiap detik waktu yang berlalu dalam kebersamaan. Sepertinya begitu juga yang terjadi pada kami tiga hari kemarin, karena menyadari sepenuhnya tentang pertemuan dan perpisahan, kami agaknya berhasil memanfaatkan setiap momen kebersamaan hingga kami merasa haru dan pilu ketika berpisah.

Wallahua'lam.

Agar tidak melenceng jauh dari judul entri ini, berikut adalah contoh konsep penyampaian Kesan & Pesan dari pihak yang disurvei yang kukonsepkan malam itu. Sengaja kuposting di sini, mana tahu di luar sana ada teman yang tempat kerjanya sedang disurvei lantas kebingungan membuat konsep kesan dan pesan untuk acara penutupan, lalu mengetikkan sebuah keyword di kolom telusur Google, kemudian entah bagaimana, mungkin dengan sedikit magic alam semesta, mesin pencari membawa mereka ke sini, ulala ....

Berikut adalah konsepnya :

***

KESAN DAN PESAN

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat siang, salam sejahtera untuk kita semua. Perkenankan saya berdiri sejenak di hadapan Bapak Ibu Tim Surveior dan teman-teman semua untuk menyampaikan beberapa patah kata kesan dan pesan.

Yang saya hormati, Bapak Ibu Tim Surveior yang luar biasa, yang saya hormati Pimpinan saya yang juga luar biasa, dan yang saya banggakan teman-teman sekalian yang lebih luar biasa lagi dilihat dari sudut pandang manapun.

Bapak Ibu Tim Surveior, setelah tiga hari disurvei, kami makin mengerti bahwa semua berawal dari proses. Kami makin paham, bahwa tidak semua hal yang kita hadapi bisa diubah. Tapi tidak ada yang bisa diubah sampai kita menghadapinya. Maka dari itu, jauh-jauh hari kami sudah bersemangat empat lima untuk menghadapi akreditasi yang kabarnya seram, dan membuat goyah lutut kiri dan kanan. Kami berani menghadapi step by step proses akreditasi untuk menuju perubahan ke arah yang lebih baik, dan meningkatkan mutu pelayanan. Mengutip kata-kata bijak dari Bapak Surveior, proses menuju akreditasi membuat kami kembali ke jalan yang benar, dan semoga kami tetap berada di jalan tersebut.

Bapak Ibu Tim Surveior, bicara kesan, rasanya tak cukup satu sesi ini untuk merunutkan betapa banyak bombardir kesan yang Bapak dan Ibu tembakkan kepada kami di sini. Buat kami, kesan yang seabrek itu pasti akan selalu membekas di hati, lekat dan erat, seperti tato super yang tidak akan hilang dihapus dengan metoda penghapusan tato manapun, kecuali dibuang sekalian dengan kulitnya. Banyak tawa yang tercipta, banyak momen akrab yang terjalin, dan lebih banyak lagi transfer ilmu yang membadai otak kami selama tiga hari ini.

Bimbingan Bapak dan Ibu buat kami adalah brain storming yang tidak dijajakan dalam forum diklat manapun. Terima kasih yang tak ada habisnya untuk bimbingan Bapak dan Ibu. Tak ada tanda terima kasih yang bisa menyetarakan apa yang sudah Bapak dan Ibu berikan buat kami selam tiga hari ini, biarlah tangan Tuhan yang mengganjar balasan paling baik buat Bapak dan Ibu, secara tanpa disangka-sangka dan membuat tercengang. Semoga ini bukan hari terakhir kita dipertemukan takdir bersama-sama dalam satu momen. Semoga ada momen-momen kebersamaan lain di hari-hari mendatang. Maunya kami, meski sempat membuat ser-seran, kemesraan ini janganlah cepat berlalu, seperti kata lagu.

Tapi apalah daya, kemesraan ini memang harus berlalu. Harapan kami, semoga kami tetap di hati dan ingatan Bapak Ibu. Sekiranya tak ada yang bagus dari kami untuk diingat dan dikenang, yang jelek-jeleknya pun bolehlah.

Lalu pesan untuk teman-teman sekalian yang tumpah-tumpah luar biasanya, semoga proses peningkatan mutu pelayanan kita tidak hanya meledak-ledak selama agenda akreditasi ini. Semoga survei akreditasi ini tetap menjadi bara yang memanaskan semangat kita untuk terus berproses dan terus meningkatkan mutu pelayanan bagi pasien dan masyarakat.

Demikian kesan dan pesan yang bisa saya utarakan. Sebelum menarik diri dari hadapan Bapak Ibu, perkenankan saya untuk pamer kata-kata bijak ... yang saya kutip dari gugel semalam. Berikut kata-kata bijaknya :

Be a strong wall in the hard time and be a smiling sun in the good time.

Mungkin kata-kata bijak barusan terdengar asing di telinga, khususnya buat teman-teman sekalian yang kurang bersahabat sama guru bahasa inggris waktu sekolah, tapi tenang saja, karena saya juga mengutip terjemahannya seperti berikut ini :

Jadilah perisai yang kokoh di masa-masa sulit, dan jadilah mentari tersenyum di masa-masa indah.

Sekian dari saya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

***


Sudah, hanya begitu saja. Kalau lebih panjang lagi nanti yang nyurvei takut mual dan muntah, yang mana kalau itu sampai terjadi bisa sangat memengaruhi nilai survei. Sekian, aku izin log out dulu.

#dadah-dadah




Aceh Utara, 06 November 2018

Ditulis oleh Jun Akhena untuk yang sedang disurvei akreditasi di seluruh nusantara

Pic source : Laptop sendiri

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading