Menjadi perantauan di negeri orang sebetulnya bukanlah pilihan hidup seorang Purwanti Impact, Plukers asal Lampung yang nekat menjadi seorang Tenaga Kerja Wanita, pahlawan devisa negara, di Hongkong. Negara yang bertolak belakang budaya dan bahasa. Bermodal ijazah SMA dia mengajukan lamaran menjadi pekerja di sana.


"Kebutuhan hidup  makin tinggi, sedangkan aku tulang punggung buat keluarga, ayah sudah meninggal sejak aku umur 8 tahun."


Itu alasan yang dikatakannya padaku ketika kutanya mengapa dia harus pergi jauh dari tanah kelahirannya. Ya, aku tahu betul posisi sulitnya. Tanpa ayah, tanpa penopang ekonomi kadang menjadikan kita tak punya pilihan. Kebutuhan hidup ini makinlah meningkat, jangankan berpikir melanjutkan pendidikan, untuk bisa bertahan hidup mendapatkan sesuap nasi yang bisa dimakan hari ini saja, butuh perjuangan, penuh darah penuh nanah.


Aku merasakannya, aku mengalaminya, bisa mengerti bila Mbak Purwanti mengambil jalan berani , berangkat ke luar negeri, sendiri. Sebagai anak tertua,  dia adalah tulang punggung keluarga. Meskipun wanita, tak bisa dia menggantungkan hidup pada ibunya yang makin bertambah usia. Demi membiayai hidup beberapa nyawa dalam keluarga serta sempitnya lahan kerja di negeri sendiri  maka dia memantapkan diri, berkemas, menuju negeri nun jauh dari pangkuan bumi Pertiwi demi sesuap nasi.


Dua tahun pertama adalah masa sulit menjadi seorang TKW, Tenaga Kerja Wanita, sebagai muka baru di ranah pembantu rumah tangga, dia merasakan getir yang luar biasa, menjadi pengasuh 2 anak  yang masih berusia 3 tahun dan baru lahir, membutuhkan energi tersendiri, secara dia sendiri belum pernah mengalami. 


 Malam sepi dilalui dengan tangis rindu pada bunda di Indonesia. Hanya semangat membahagiakan keluarga yang membuatnya bertahan di negeri orang hingga 8 tahun lamanya. Dua  tahun pertama adalah awal perjuangan, loyalitas yang ditunjukkan membuat keluarga yang diikutinya percaya. Dia kini telah dianggap sebagai bagian keluarga. Buah dari kesabaran dan kegigihan. Kini dia mulai memetik hasilnya. Kerasan di tempat kerja adalah sesuatu yang mahal harganya. Hongkong sepertinya telah menjadi tanah air kedua baginya. 


Bersama teman lain sesama TKW dia bisa melakukan kegiatan bermanfaat yang menyenangkan. Di Victoria Park kesempatan berkumpul dengan seksama TKW asal Indonesia dilaksanakan. Berbagai kegiatan dari dan untuk TKW dihadirkan sebagai pelipur lara, sebagai pengusir lelah, gundah setelah enam hari bekerja.


" Ada kegiatan ketrampilan menjahit, merajut, bikin bunga hias, belajar bahasa inggris. Bikin tas tangan dari rajutan. Aku sendiri ikut kegiatan 'Tabus', tata busana. Untuk bekal kalau aku nanti kembali ke Indonesia." Tuturnya tentang cara mengusir kerinduan pada kampung halaman.


Kesukaannya menulis dilampiaskan pada diary note hand phone,  pemberian  majikannya sejak dipercaya setelah 2 tahun mengabdi. Malam hari jelang tidur dia menulis, kadang posting di Facebook. Seorang kawan menyarankan memasuki Komunitas Bisa Menulis untuk meningkatkan kualitas tulisan. Maka disana dia mengeksplor tulisannya. Berkenalan dengan Ainun Bell dan Novie Purwanti, nama terakhir adalah sahabatku yang juga penulis Negeri Somplak,  dia mengajak mbak Purwanti ke Plukme.


Sudah dua bulan dia menghuni Plukme. Melihat, membaca, ternyata jatuh cinta pada Negeri Somplak pula. Untuk melepas penat katanya. Ya, cerita di Negeri Somplak memang mengundang tawa, aku yang menulis saja kadang tergelak usai membaca, membayangkan iler Textra, bulu ketiak Ikmal Wong Gendeng, sanggul pagoda Cina Mueeza, baju karnaval pink Jun, Pedang Rin Muna, ekor duyung Sri Sundari, belum lagi alur cerita imajinasi parodi. Semua merupakan rangkaian hiburan. Pelepas penat sesudah menulis hal-hal yang membutuhkan keseriusan.


Begitu membaca Negeri Somplak akan rilis, dia langsung memesan. Meski ongkos kirimnya mahal dia tetap berkeinginan membeli, mendapatkan, harapnya buku itu bisa menjadi motivasi untuknya tetap menulis, hingga suatu saat bisa ikut membuat buku pula. Dia pilih membaca story lucu Negeri Sompak, sebagai pelipur lara dari kisah sedihnya, hidup jauh di rantau meski sudah nyaman tetap saja menyimpan kerinduan pada teman, pada keluarga di kampung halaman. 


Aku terharu sekaligus bahagia membaca penuturannya lewat chat WA, sebuah buku ternyata bisa begitu bermakna di tangan penikmatnya. Dari beberapa kisah sedih TKW Indonesia di luar negeri yang sering kudengar, penuturan Mbak Purwanti mampu memberikan nuansa berbeda. Ada sisi bahagia dalam kesusahannya. Pelipur lara, pengobat duka, dari kisah kisah miris tentang seorang TKW yang disiksa majikannya, padahal sejatinya dia adalah Pahlawan Devisa bagi negara kita.


Aku bahagia buku Negeri Somplak telah berada di tangan pemesannya, bukan hanya di Indonesia yang masih akan launching 11 November 2018 di Semarang nanti, bahkan sampai  ke Hongkong pula. Harapku buku ini mampu menjadi peneman sahabat kita yang ada di perantauan. Menjadi hiburan melupakan sejenak kepenatan. Bahkan lebih dari itu, mungkin bisa memberikan inspirasi pada sahabat kita di sana untuk mulai menulis, berbagi cerita. Karena di dunia penulisan kita tidak dilihat dari SIAPA kita, tapi APA yang kita sampaikan. 

Dalam akhir penuturan Mbak Purwanti Impact menyampaikan pesan." Bagi seluruh teman seperjuangan TKW dimanapun, jangan merasa minder dengan status kita yang hanya seorang pembantu. Apa yang kita kerjakan halal tidak perlu minder dengan mereka yang berpangkat. Terus Semangat."


Ya, semangat, sebuah kata yang tak akan menyurutkan langkah kita. Terimakasih dari kami penulis Negeri Somplak pada yang telah bersedia memesan buku kami, yang telah sedia berbagi cerita tentang perjuangan di perantauan. Salam senyum manis untuk plukers manis di daratan Hongkong. Salam suka membaca dan menulis. 



Sumber Gambar: Doc Pribadi kiriman Purwanti Impact


Jelang, senja, Ngroto, 5102018. Hitung Mundur kurang 6 hari menuju #WorkshopMenulis11 November 2018


Di MTR, menuju rumah bos. Kata mbk Pur

How do you react to this story?



264 Like 1K+ Views   4 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading