Jiwaku, seperti siang dan malam yang silih berganti. Begitu pula tangis dan tawa, hidup dan mati. Semua bergantian tanpa henti.

Kini, aku berada di alam dunia. Kehidupan yang kujalani sebagai insan fana. Waktu memang sementara. Tetapi manusia biasa selalu lupa. Bumi berputar dan tahun berlalu. Semua akan sampai di ujung perjalanan panjang.

Namun, hawa nafsu di jiwa mencari-cari arti. Apa tujuan yang sesungguhnya? Ingin cepat-cepat sampai pada puncak kejayaan. Bagaikan mendaki gunung tertinggi di atas permukaan lautan.

Sulit! Tidak mudah. Jalan yang harus ditempuh penuh kerikil dan berbatu. Menanjak, sangat berat untuk melangkahkan kaki. Perlu persiapan yang matang dan tidak sedikit. Ilmu pengetahuan, perbekalan, dan segala kebutuhan mesti tercukupi. Butuh kekuatan dan ketekunan. Fisik, psikis, dan mental baja. Hati harus dibekali kesabaran dan ketabahan. Kesungguhan sejati, bukan sekadar asal-asalan.

Tanpa itu semua, celaka. Berbahaya bagi diri yang lemah. Bisa-bisa, kondisi memburuk, terpuruk, bahkan menjemput ajal. Ya, betapa sulitnya! Begitulah jalan kehidupan ini.

Sebagai manusia beriman, percayalah! Tidak ada yang abadi. Seperti halnya kesulitan, kesedihan, dan ketakutan tidak abadi. Hujan tidak selamanya turun membasahi. Ada kalanya hujan akan reda. Lalu, pelangi menghiasi. Hadirlah kemudahan, kebahagiaan, dan kedamaian.

Itu bukan hanya logika dalam benakku. Itulah janji Allah Sang Pencipta. Bahwa sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Ya, janji yang pasti terjadi. Janji Yang Mahakuasa atas segalanya. Sangat mudah bagi Allah!

Lalu, mengapa manusia masih sering mengeluh? Masih sering berputus asa. Bahkan, mengakhiri hidupnya. Seolah tidak percaya pada janji Allah yang Mahabenar. Bukankah segala logika pemikiran bisa salah?

Apa yang dipikirkan, bisa jadi pengaruh dari bisikan syetan. Khilaf, lalai. Sehingga manusia lupa memasrahkan diri pada Sang Ilahi. Lupa mengisi hati dengan rasa tawakkal. Setelah ikhtiar dan berdoa, pasrahkan hasilnya pada-Nya.

Jika memang belum berhasil saat ini, yakinlah suatu hari nanti. Allah tidak tidur. Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui semua yang dilakukan makhluk-Nya. Dia akan membalas segala perbuatan. Baik dan buruk sekecil apapun.

Maka, yakinlah jiwaku! Sebentar lagi kesulitan berganti kemudahan. Kesedihan berganti kebahagiaan. Ketakutan berganti kedamaian. Semua bisa berganti sebaliknya.

Membandingkan diri dengan orang lain pun berbeda. Setiap ujian, kesulitan, dan kemudahan tidak sama. Ada yang tanpa meminta pun langsung memiliki. Ada yang telah lama meminta tapi belum jua dapat dimiliki.

Diri ini hanya perlu melakukan yang terbaik sebagai hamba. Berniat ibadah sesuai tujuan Allah menciptakan jin dan manusia. Untuk apa? Tidak lain hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Urusan mempunyai atau tidak, mendapat atau tidak, sukses atau tidak, biar Allah yang menentukan. Dia lebih mengetahui yang terbaik untuk hamba. Cukuplah percaya, Dia hadir dalam setiap apapun kondisi kita.

Mengingat segala kesulitan, membuat manusia rendah hati. Agar tidak menjadi terlena, lupa diri, dan sombong ketika telah sampai di puncak keberhasilan. Tidak selayaknya pendaki jadi tinggi hati karena berada di puncak gunung. Justru, semakin membumi. Berbagai rintangan melatih diri lebih waspada.

Ujian dan cobaan menempa hati ini agar makin ikhlas: menerima sekaligus memberi. Meskipun sulit di dunia, akan mudah bagi perhitungan amal di akhirat nanti. Sebagaimana janji Allah swt yang pasti.

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh: 5-6)


Bicara sendiri ~ Talking to myself

Salam, hamba-Nya ~ Riski Diannita

Mojokerto, 3 Oktober 2018


Gambar: https://pixabay.com/en/person-mountain-top-achieve-1245959/

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading