Kejadian demi kejadian terputar cepat dalam ingatan ini, memory yang dulu mati-matian tertutup kini dengan mudahnya terbobol dan menjadi batu loncatan untuk menekan perasaan ini. Bodoh, satu kata yang terucap dalam 17 tahunku menapaki bumi ini.


Hilir mudik permasalahan yang muncul tanpa tahu bagaimana cara menghentikannya, membuat sisi kepribadian gelap ini menggila, mengalir ide bodoh di otak yang semakin merangsek untuk terlaksana setiap kali tertekan. Bahkan sangat agresif bagi seorang anak yang selalu tersenyum dengan polosnya.


Aku adalah anak istimewa yang kuakui tidak ada persamaan di jenis manusia lainnya. Terbilang simple namun rumit dan aneh, terbilang latah tapi sangat dingin dan tak acuh, kembali pada keanehan yang baru tersadari beberapa hari ini.


Jika dalam garis besar ilmu psikologi, masokis adalah sebuah individu yang merasakan senang ketika disakiti. Dia akan menikmati kesakitan itu karena ada rasa bahagia di dalam dirinya, seperti sesuatu yang dapat menjadikan dia lega dan suka dalam satu waktu ketika menyakiti dirinya.


Merasa sedikit janggal dengan kata masokis, aku berpikir sejenak mengingat kepribadianku selama ini. Ketika mendapatkan luka, aku seringkali terobsesi dan tertantang untuk melakukan yang lebih sakit dari pada itu, bahkan kadang ada rasa lega telah merasakan kesakitan itu lagi, ingin sekali sakit itu terulang lagi dan lagi, seolah merindukan sebuah kejadian yang menepikanku ke dalam rasa lega.


Seperti hal kecil di saat aku terkena pecahan kaca, tanganku tergores hingga luka dan mengeluarkan darah. Aku belum sepenuhnya bisa memahami kata phobia darah, tapi memang selalu merasa syock dan takut walau muka tak selalu berujung pada pucat pasi. Kesakitan yang menjalar bukan malah membuatku menghentikan darah itu, aku malah menilik celah sayatan itu yang berujung menderaskan aliran darah itu.


Sengatan rasa sakit seketika menyadarkanku, tapi aku merasa terntantang dan ingin melakukannya lagi. Hal ini tidak dapat dikategorikan masokis dan self injury. Ah, beberapa hari lalu aku melihat kabar anak bangsa yang melakukan challenge sayat tangan. Mereka mengaku lega telah melakukan hal tersebut. Gila memang jika boleh dikatakan.


Entah bagaimana cara mereka berpikir, mereka rela mengorbankan tangannya untuk bahan percobaan dan challenge, awalnya mereka melihat salah satu temannya yang melakukan self injury dan mengaku merasa lega, konon anak itu adalah anak yang depresi berat akibat ditinggal ayah dan ibunya, anak itu kemudian melakukan aksi sayat tangan yang diakui dapat menghilangkan penat dan sedikit lega.


Hingga tersebar video itu ada salah satu anak yang menantang anak lainnya (membuat challenge) menyayat tangan, ada beberapa video self injury yang memperlihatkan anak yang setelah menyayat tangannya langsung menangie kesakitan. Semua itu akibat tekanan memang, lingkup kehidupan yang sudah sangat rawan dengan hal negatif, yang mereka menjadikan negatif sebagao positif dengan alasan yang ada-ada saja.


Kembali pada kelainan masokis itu, aku adalah anak yang tidak suka bertengkar, lebih baik aku mengalah dari pada adu mulut dengan yang lain. Makanya terkadang fitnah dan beberapa kesalahan lain menghampiriku dan kubiarkan begitu saja. Hal ini memacu anak lain mengolok dan membullyku.


Alasan kenapa aku diam saja, kukira dulu aku suka, karena dengan hal itu aku mampu mempunyai banyak teman yang memerhatikan setiap inci kehidupanku. Ternyata setelah kupikir aku hanya diam memahami kalimat mereka. Karena terkadang aku mampu menepis fitnah itu, dan terkadang pula hanya diam karena tidak ngeh di mana kesalahanku, hingga ketika aku sudah paham arah fitnah itu, aku berpikir untuk diam dan acuh, menganggap semua ini sudah sia-sia jika harus dijelaskan dari awal. Hal itulah yang membuatku semakin gencar menerima perkataan "Ih kom diem? Berarti benar ya?"


Aku bukan masokis karena perasaanku dan ragaku tidak merasa senang ketika mendapatkan sakit itu, bukan pula self injury karena aku tak pernah mencoba untuk melakukan tindakan yang dapat membuatku merasakan sakit untuk kelegaan semata.


Terlepas dari semua itu, sebenarnya jika kita hidup tidak parno dengan suatu masalah yang tengah menjadi viral, kita akan terlatih damai dan tidak peduli akan kabar yang dapat membuat kita merasa punya masalah seketika, apalagi jika sudah menyangkut urusan politik, semakin banyak fakta yang terkuak semakin pula membuat kita miris dan merasa tengah berada di sebuah masalah besar.


Sebenarnya, prasangka tidak baik yang sering terlintas di pikiran kita itu terpacu oleh sebuah tontonan ataupun bacaan, dengan secara tidak langsung kita mencerna sesuatu yang menjadi permasalahan atau topik dari segala yang sepeerti itu. Dengan perasaan seperti kata "Jika aku jadi kamu, maka aku akan bla bla." ini sangat menjadi faktor tantangan bagi kita yang memiliki tingkat kepo yang sangat tinggi, terkadang kita melakukan hal yang sama dengan tontonan dan bacaan itu dengan sadar namun bayangannya tak terkendalikan.


Maka dari itu, kita sebagai warga net harus tahu dan tegas. Jangan sampai kita percaya pada fiksi yang dapat membuat kita pecah dalam negara ini. Memang beberapa ilmu yang justru terbilang berbau psikologi itu sangat memengaruhi kehidupan kita. Bagaimana cara kita bisa mengetahui lebih bayak tentang perasaan kita, tapi bukan berarti kita harus mencocokkan setiap kelainan-kelainan yang kita ketahui.


Jika kita tidak terlalu berlebihan pada sesuatu maka kita akan dengan  mudah menampik pikiran negatif, yang bersarang dan akhirnya membuat alasan berbelit hanya untuk mendapatkan apa yang dimaksudkan.


Tangerang, 24 oktober 2018

Clariessa Fiy


Sumber pict: www.pixabay.com
https://pixabay.com/en/blue-denim-jacket-clothing-fashion-2564660/

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading