Kalau ada sebuah pertanyaan, apa yang paling rapi, terstruktur dan sistemik di Negeri ini ? Jawabannya adalah, pertama pembodohan, kedua realisasi kepentingan. 

Pembodohan dilakukan untuk mendukung realisasi kepentingan. Realisasi kepentingan adalah produk utama Iblis atas tugasnya menggoda Manusia. Di dalam itu semua ada macam - macam jenis keburukan. Kesombongan, kesewenang - wenangan, iri, dengki, dusta, khianat, ingkar janji. 

Kesombongan besar selalu menghasilkan kesombongan kecil - kecil. Kesewenang - wenangan besar selalu menghasilkan kesewenang - wenangan kecil. Begitu juga iri, dengki, dusta, khianat, ingkar janji. 

Kita ingat narasi tua tentang Simbah Adam dan Iblis. Saat itu Simbah Adam diperingatkan Allah untuk tidak mendekati sebuah pohon. Iblis menggodanya supaya mengabaikan perintah Allah. Dengan kelihaiannya Iblis berhasil menggoda Simbah Adam. Didekatilah pohon itu, dimakan buahnya. Simbah Adam diusir dari Surga. 

Yang perlu kita pahami dari narasi tersebut bukanlah sisi kebendaannya, misalnya, apa nama pohonnya, seperti apa wajah Simbah Adam, seberapa besar dan seberapa tinggi tubuh beliau, atau bagaimana rupa Iblis, tetapi hikmah dari peristiwanya. Peristiwa yang termasuk paling awal dari terbentuknya peradaban manusia tersebut memberikan peringatan kepada kita akan sebuah bahaya tentang kehidupan manusia yang memang sudah dikodratkan di bumi dengan berbagai sunnatullahnya. Maka, Allah selalu menegaskan beberapa hal. Di antaranya Iman, taqwa, tawakal. 

Bisa jadi itu klise. Sudah berapa banyak ustadz atau kiai memberikan wejangan supaya manusia mau beriman, bertaqwa dan bertawakal. Namun, seklise - klisenya peringatan tersebut, mau tidak mau harus kita akui bahwa hal tersebut urgent. Apalagi di zaman 1500-an tahun pasca Nabi Muhammad SAW, semakin urgent. 

Iman itu sederhana. Percaya dengan yang membuat kehidupan. Taqwa itu sederhana. Waspada. Tawakal juga sederhana. Hidup sesuai kehendak-Nya. 

Untuk meningkatkan itu semua bagaimana ? Terus upgrade software yang ada di dalam diri kita. Allah sudah meminjamkan akal, pikiran, hati kepada kita. Itu semua lebih dari cukup untuk meningkatkan software kita supaya lebih canggih. Sehingga bisa mengakses fitur - fitur istimewa dari-Nya. 

Bagaimana caranya ? Di dalam agama sudah lengkap tata cara untuk melatih itu semua. 

Agama ? Bisa jadi, ini juga klise. Sebagaimana kata iman, taqwa dan tawakal. Sudah begitu sering kata agama digunakan tidak pada tempatnya. Sampai - sampai orang menjadi agak alergi kalau mengatakan kata itu. 

Padahal, agama itu ya informasi yang langsung diberikan Allah kepada manusia. Dengan sumber utamanya Al - Qur'an. Itu yang saya yakini. 

Apakah Allah masih menjadi bahan pertimbangan dalam kehidupan, entah secara pribadi, atau di masyarakat baik skala kecil atau pun besar, lokal atau pun nasional. Apakah Al - Qur'an yang selalu dipakai untuk sumpah jabatan itu masih digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan ? Atau jangan - jangan itu hanya sebatas formalitas, supaya terlihat agamis, religius saja. 

Kalau itu masih kurang universal di bumi Indonesia, kita pakai yang ini, apakah Ketuhanan yang Maha Esa masih dijadikan bahan pertimbangan ? Kalau iya, mana mungkin kesombongan, kesewenang - wenangan, iri dengki, dusta, khianat, ingkar janji yang merupakan bagian integral dari pembodohan dan realisasi kepentingan yang rapi, terstruktur dan sistemik ada. 

Wallahua'lam


Sumber gambar : pixabay.com/Michi-Nordlicht

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading