Berbicara tetang dunia anak pasti tidak akan ada habisnya. Kelucuan, kepolosan, kenakalan, dan ceria mereka yang selalu menghiasi dunia ini. Mulai dari  bangun tidur sampai anak tidur lagi pasti ada saja seauatu yang baru yang anak ciptakan. Didalam bukunya  Dorothy Low Nolte yang berjudul "Anak-anak Belajar Dari Kehidpannya". Buku ini sangat bagus untuk dibaca. Apalagi untuk membentuk generasi emas pada masa anak-anak. Didalam lingkup keluarga,  berhadapan dengan anak-anak memang harus serba hati-hati, baik itu dalam tindakan, berbicara dan cara berfikir. Anak-anak itu ibarat sebagai kertas putih yang masih bersih belum tergores pena sama sekali. Nantinya yang menggoreskan pena itu orang tua, kakak, adik, nenek, kakek dan orang-orang terdekat.            Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka mereka akan berkelahi. Seperti inilah puisi pada baris pertama di dalam buku Dorothy Low Nolte. Jika kita mencoba merenungi, memang kalimat tersebut sangat benar. Bagaimana tidak, anak adalah perekam tercanggih yang sejajar dengan smartphone termahal di dunia. Semua tingkah laku kita dapat diserap dengan baik dan otomatis ditiru kemudian dipraktikkan. Didalam ilmu psikologi anak bersifat imitasi (meniru) apa yang telah anak lihat. Tidak peduli meskipun itu baik ataupun buruk. Jika kita misalnya sebagai kakak selalu mengajarkan adik kita yang masih kecil untuk bermusuhan dan suka membenci teman, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang suka berkelahi.         Jika anak dibesarkan dengan rasa ketakutan, maka ia belajar cemas. Rasa takut memang selalu ada. Apalagi demi keselamatan dan kenyamanan. Namun, jika anak dibesarkan dengan serba kehati-hatian yang terlalu, apa-apa dilarang, nanti kotor, nanti kalau sakit, nanti jatuh atau nanti rusak dan sebagainya. Tentu itu kata-kata yang membuat anak akan berhenti untuk berkreasi. Setiap kali mereka akan menciptakan sesuatu hal baru, anak tersebut akan berpikir dua kali dan selalu teringat kata-kata dari orang tua maupun sang kakak. Anak akan mudah merasa cemas dan susah untuk yakin pada diri sendiri.         Jika anak dibesarkan dengan dorongan semangat, maka anak akan percaya diri. Sesuai dengan tingkat dorongan dari orang tua maupun orang terdekat. Semangat yang selalu ia dengar setiap hari akan mempengaruhi pola pikir anak. Menjadikan anak selau berpikir positif dan terus maju. Sebaliknya, jika anak dibesarkan dengan ejekan, maka ia akan merasa rendah diri. Menganggap dirinya tidak bernilai dan selalu membandingkan dirinya dengan teman lain. Dari ejekan-ejekan yang anak dengar setiap hari, akan mempengaruhi pola pikir anak dan menjadikannya rendah diri dan juga pemalu.          Untuk itu, berhati-hatilah. Anak tumbuh sesuai dengan lingkungannya. Lingkungan yang baik akan menjadikan anak baik bahkan lebih baik. Namun, sebaliknya lingkungan yang kurang baik dapat mengakibatkan dampak negatif dan bisa berbahaya bagi pertumbuhannya. Sebagai orang tua, sebagai kakak atau orang- orang terdekat, tentunya ingin sekali memiliki anak yang berpotensi tinggi dan juga memiliki keterampilan yang signifikan. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Jadi memang perlu adanya lingkup keluarga yang selalu menyayangi dan mendukung potensi sang anak. Untuk mewujudkan generasi emas yang berprestasi dan memiliki karakter positif.


Sumber gambar: Ktawa.com

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading