Apa benar hidup ini penuh dengan tuntutan?

Mungkinkah sebuah ekspektasi tinggi menjadi pecut untuk sebuah tujuan?

Bagaimana jika semuanya terkerjakan atas keterpaksaan?

Ya kembali lagi pada tuntutan.

Ketika dipercaya dan diberi kesempatan apa yang  kau lakukan?

Betulkah separuh atau bahkan lebih, niat atas sebuah tindakanmu merupakan wujud dari tuntutan? 

Bagaimana dengan kewajiban?


Baiklah, mari kita bicarakan!

Kerja suka-suka itu memang menyenangkan. Tapi, bagaimana dengan pilihan? Apakah itu tersedia? Hh... tidak memilikinya bisa membuat kita hidup dengan bergantung pada orang. Masuk ke dalam jaring-jaring perintah yang kadang tak mengenakkan. Karena jika disuruh makan, dibayarkan, tentu tanpa keberatan meski bibir dan sikap berupaya sungkan. Yang kumaksud sejak karena itu adalah definisi kadang, tentu saja tidak selalu.

Saya sering bertanya-tanya...

Hidup itu untuk apa?


Saya yakin, ada banyak orang yang bisa menjawab pertanyaan ini. Jawaban manusia di mata manusia mungkin bisa terlihat hebat. Tapi, jelas ... jawaban Tuhan-lah yang juara. Sekalipun tidak terlihat kesempurnaannya di mata mereka yang mengaku hamba, termasuk saya.  'Sekalipun' adalah sebuah disfungsi yang menyebabkan pertanyaan itu ada tapi tak serta merta mencari jawabnya dengan segera.

Sekiranya Tuhan tidak memberi pilihan, apa Tuhan akan memberikan tuntutan?

Ini bagi siapa saja yang merasa hidupnya dipersempit pilihan dan larut dalam tuntutan duniawi. Entah itu tuntutan kerja, tuntutan ekonomi, tuntutan sosial, bahkan elektabilitas diri.

Yang menjadi bagian di antaranya akan berkata IYA. Sementara yang penuh pertimbangan akan bimbang antara membenarkan atau menyanggah dengan keberatan.

Hidup sebagai kita saja sudah mengartikan bahwa manusia telah menjadi pilihan Tuhan untuk mengisi lembar-lembar kehidupan dan menjadi pemimpin, setidak-tidaknya untuk dirinya sendiri. Siapa yang tak punya akal, semua diberi. Ada kelebihan, ada kekurangan. Tapi disfungsi alam kesadaran manusia merusak hidupnya sendiri, merasa hidup diberikan hanya untuk dilalui.

Persepsi simpang siur, entah berantah, bersimpul arah menuju parah, hingga  salah kaprah untuk mengartikan tujuan hidup dan tuntutan yang sesungguhnya. Duniawi tak berkutik dalam semesta oleh Sang Pencipta.

Sibuk menerka apa yang terjadi selanjutnya akan mengoksidasi tingkat kecemasan hidup manusia. Terus larut hingga menemukan alasan untuk dilontarkan ketika kegagalan menyapa karena simbol-simbol persalahan dari dirinya sendiri.


"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS Al-Anbiya': 107)


Tidak sulit membaca itu milik siapa. Dalam bahasa manusia, tak ada yang bisa mengolah kata seperti-Nya. Bukti bahwa tiada yang tak ada sebabnya. Jika anugerahmu kau anggurkan begitu saja, hidup akan selalu penuh dengan tuntutan yang runtut. Sementara itu, kesibukanmu dalam ke-duniawi-an tentu Dia tak akan pernah luput. Sekalipun itu hanya ada di dunia perbatinan.

Tuhan memberi nafas tanpa perhitungan, sementara kita selalu sibuk mempertimbangkan kapan harus kerja, kapan harus memenuhi keinginan pribadi dan kapan harus memperbaiki diri. Di antara ketiganya, kapan pertama dan kedua jauh lebih dominan. Merasa cemas dituntut manusia, tapi biasa saja dengan kewajiban menjadi rahmat di alam semesta.

Perintah Tuhan tak utama. Yang penting tinggi di mata manusia. Kerja, kerja, kerja. Sekolah untuk kerja, kerja untuk dapat uang. Dapat uang untuk ini dan itu yang tiada habis butuhnya. Sementara hati miskin amal, tidak peduli sekitar.

Elektabilitas mana yang jauh lebih penting?

Keterpilihan di mata manusia atau di mata Tuhan?

Konsekuensi berlaku sampai akhirat, lebih dari sekedar pekerjaan yang tak beres, lebih dari sekedar tugas yang tak selesai, lebih dari lapar yang tak terpuaskan, lebih dahsyat dari apa yang diperkirakan.

Kesempatan hidup tidak untuk dijalankan dengan egosentris. Tak perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan kewajiban saat Tuhan sudah bersoal begini :


“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al Qiyamah: 36).

Manusia yang berakal sangat pandai menentukan mana yang baik dan buruk, yang benar dan salah, yang wajib dan tak perlu. Namun, penuh pertimbangan untuk memilih di antara keduanya. Kepercayaan manusia saja mahal harganya, lalu bagaimana dengan kepercayaan Tuhan?

Tuhan menuntut manusia untuk taat kepada-Nya, lalu setan pun menuntut untuk mengikuti hawa nafsu dunia.


10 September 2018


Sumber gambar : dokumentasi pribadi

How do you react to this story?



277 Like 460 Views   1 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading