Bahasa dapat merefleksikan banyak hal. Secara umum, bahasa merupakan suatu alat komunikasi. Namun bahasa juga unik, sehingga dapat menjadi sebuah identitas yang khas. Bahasa pun dapat melahirkan sebuah atmosfer antara pihak yang saling berinteraksi. Bahkan, bahasa dapat menjadi alat pemecah belah dan pemersatu. Kendati demikian, bahasa juga dapat melahirkan karya sastra yang indah, yang tersusun atas diksi yang bagus dan sarat makna.


Baiklah, aku menulis ini bukan karena aku paham soal bahasa. Tulisan ini berawal dari membaca kolom komentar di tulisanku sebelumnya. Aku menemukan sebuah diskusi kecil dari 2 Plukers. Mbak Lady Rain dan Mas Andris Susanto berdiskusi soal bahasa Sunda yang secara konseptual mirip dengan bahasa Jawa. Bertingkat, dari biasa/kasar, halus, hingga sangat halus. Antartingkatan pun memiliki istilah yang berbeda. Misalnya, “makan” dalam bahasa Jawa dari tingkatan ngoko, krama madya dan krama inggil adalah mangan, nedha, dhahar. Sementara dalam bahasa Sunda, dhahar, neda, lalu tuang.


Menariknya, “dhahar” ini dalam bahasa Jawa merupakan yang paling halus, sementara dalam bahasa Sunda justru kasar. Kebayang kan kalau orang Jawa ingin berlagak ngomong halus tapi salah sasaran? Pasti terjadi kesalahpahaman.


Bahasa Jawa akan tepat sasaran ketika kita berbicara dengan orang Jawa, atau paling tidak dengan orang yang mengerti bahasa Jawa. Begitupun bahasa Sunda, bahasa Melayu, bahasa Batak, dan berbagai bahasa lain akan tepat apabila disampaikan pada orang yang mengerti. Bahasa ilmiah, bahasa kedokteran, tak akan tepat sasaran bila disampaikan pada pasien sakit maag yang notabenenya seorang pedagang misalnya.


“Pak, Bapak mengalami gastritis. Gaster Bapak inflamasi, maka wajar jika terjadi gejala hematemesis.”


Jika seorang dokter mengatakan seperti itu pada pasien, si pasien bukannya mengerti, justru malah megap-megap mendengar kata-kata asing yang bisa jadi tak pernah mereka dengar seumur hidup. Sudah sakit, susah berkonsentrasi, kok disuruh mikir keras. Akan berbeda ketika mengatakan, “Pak, Bapak mengalami sakit maag. Perut/lambung Bapak ada peradangan, maka wajar kalau muntah darah.”


Menggunakan istilah-istilah akademis untuk disampaikan ke orang-orang non-akademis mungkin akan memberi kesan bahwa kita lebih “berisi”, pandai, dan berpendidikan. Padahal, pesan yang ingin kita sampaikan belum tentu bisa dipahami. Tak jarang jika orang justru akan bosan dan malas mendengarkan. Jika tak paham, maka sulit untuk merespon.


Begitu pula ketika menulis. Orang yang membaca tulisan kita belum tentu berlatar belakang sama dengan kita. Oleh karena itu, percuma jika apa yang kita tulis memuat informasi yang tak dapat dimengerti oleh pembaca. Aku pun mengalami sendiri. Ketika membaca tulisan di luar sana (di Plukme jarang  menemukan kok) yang menggunakan istilah-istilah asing, maka aku akan mulai merasa bosan. Agak malas jika harus browsing arti tiap kata yang tak kumengerti.


Ketika berbicara, pesan akan tersampaikan apabila kita juga menempatkan diri sebagai lawan bicara. Sementara ketika menulis, kita juga perlu memposisikan diri sebagai pembaca yang akan memahami tulisan kita. Beda sasaran akan beda bahasa.


Sekian. Jika ada yang salah pada tulisanku, mari saling mengingatkan. Jika ada pendapat yang berbeda, mari diskusi. Selamat malam.


ilustrasi: pexels.com

How do you react to this story?



299 Like 540 Views   4 Repost 

Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading