Ada apa dengan Semarang?

Ada seseorang yang membuatku merasakan jatuh cinta

Jatuh yang sakit, mencinta dalam diam

Kau di sana dan aku di sini

Berharap dandelion menghantarkan perasaanku padamu

Sayangnya kau tidak mengerti bahasa yang diutarakan

Kata demi kata yang entah bagaimana bisa terketik pada splash Plukme tersebut akhirnya terposting. Pagi ku yang melo, ditemani aroma bunga mangga yang semerbak. Karena hujan malam dan pagi ini beberapa bunganya telah jatuh ke tanah, tak dapat meneruskan proses menjadi buah yang dapat aku nikmati nanti, entahlah apakah aku sempat kembali dari Semarang menikmati buah mangga yang jika berbuah, keponakanku yang berumur lima tahunpun dapat menjangkaunya.

“Dek, semua dokumen sudah dimasukkan? Periksa lagi dompetmu? KTP, SIM, kartu debitmu sudah di bawa? Charger jangan lupa juga!” ocehan panjangg Ibuku menemani hujan yang mulai mereda.

“Iya sudah Bu, Adek ke bank dulu ya mau nabung uang yang Ayah kasih tadi malam” aku bangkit dari kamar dan melirik Ibu yang masih sibuk dengan masakannya, sepertinya bekal perjalananku nanti bakalan banyak.

“Uang tambahan? Berapa banyak Dek?” tanya Ibu penasaran, sepertinya Ayah tidak cerita soal tambahan uang ini.

“Ibu mau tahu aja atau mau tahu tempe, beda harganya lho” godaku.

“Hah…bungsuku yang satu ini, sudah sana nanti hujannya lebat lagi, nggak sempat-sempat kamu nabungnya” perintah Ibu membatalkan rasa penasarannya akan uang pemberian Ayah.

“Okey Ibu boss, Adek pergi dulu ya, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam….pakai jas hujan Dek!”

“Iya Bu boss, laksanakan” aku menjawab dari atas kendaraan dan tancap gas tanpa mengindahkan perintah Ibu untuk menggunakan jas hujan, lagian tempatnya juga dekat lima menit nyampe.

Pukul 13.00 WIB kami telah berada di bandara, Ayah, Ibu, Kakak dan Abangku ikut serta. Ini perintah Ibu Boss, jadi tidak ada yang bisa menolak, padahal hanya mengantarku ke bandara, Ayah saja sudah cukup, tapi siapa yang bisa menolak perintak Ibu Boss kami ini.

“Jangan lupa, sampai di bandara langsung hubungi Ibu, sms Ayah, Kakak dan Abangmu. Jangan lupa barang bawaanmu ya, jangan sampai tertinggal atau tertukar!” Ibu mendiktekan lagi tugas yang harus aku lakukan setelah sampai di Semarang.

“Sudah Bu, Adek hanya jalan-jalan kok, di sana dia juga sama temannya” Ayah menenangkan Ibu yang khawatir melepasku pergi hanya unutk berlibur pekan ini.

“Ayah mah gitu, anak gadis dan bungsumu ini mau pergi malah adem ayem aja, nggak khawatir apa?” Ibu cemberut, Ayah hanya tersenyum sudah paham dengan sifat belahan jiwanya ini.

Pesawatku lepas landas satu jam kemudian. Sesampainya di Bandara Ahmad Yani Semarang, aku pergi ke tempat penginapan yang telah aku pesan. Besok aku baru akan melanjutkan perjalanan ke Magelang dengan menggunakan bus. Pukul 11.35 WIB bus yang aku tumpangi melaju, aku segera berjalan-jalan ria di Plukme untuk mengisi waktu perjalanan. Membaca beberapa tulisan Plukers, membaca beberapa komentar yang ada. Hingga aku menemukan di salah satu tulisan yang pada bagian komentarnya ada seorang pengguna yang mengatakan bahwa ia juga sedang dalam perjalanan dari Semarang ke Magelang menggunakan bus. Karena penasaran, aku bukalah profil pluker tersebut untuk mencek foto, siapa tahu kami berada di bus yang sama.

Sama saja sepertiku, ia tidak menggunakan foto wajahnya, jadi aku berniat kembali lagi membaca artikel plukers yang lain. Dan di saat aku menoleh ke arah kanan, aku mendapati seorang pria yang senyam senyum menatap layar smartphonenya, dan aku mengenali logo Plukme di sana, untung aku pakai kacamata jadi bisa dipastikan itu logo yang benar. Aku pun kembali ke artikel yang memuat obrolan perjalanan salah satu pluker tadi dan mencari namanya.

“Masnya yang pakai jaket navy ya?” tanyaku melalui chatMe!

Satu menit…dua menit…

“Maaf maksudnya apa ya?” okey, di balas.

“He..he..maaf, tadi saya membaca komentar di artikelnya Mbak VXYZ (nama pengguna disamarkan) dan Masnya lagi dijalankan? Yang pakai jaket navy celana jeans abu tua?” jawabku, untuk menjelaskan apa maksud pertanyaanku yang kurang sopan tadi, dan mungkin pertanyaan kali ini juga dianggap tidak sopan.

Tidak di balas, dan pria yang ada di samping kananku ini celingak-celinguk. Aku langsung menekan tombol home dan membuka aplikasi WhatsApp , untungnya kami tidak persis duduk bersebelahan, masih terpisah oleh jalan.

“Mbaknya di mana?” balasan chat dari pluker yang satu bus bersamaku ini.

“Yang satu bus sama Masnya lah” jawabku.

“Iya lah Mbak satu bus, bagaimana Mbaknya bisa tahu pakaian saya kalo kita nggak satu bus, Mbaknya yang duduk di belakang saya ya?” tanyanya lagi.

“Bukan Mas, saya di samping Masnya” jawabku menyerah, ya nggak mungkinlah aku ngajak bercandaan orang kelamaan.


~~~~~


Ngajak bercanda ni orang, Ibu yang duduk disebelahku kan sedang tidur. Aku coba chat lagi plukers yang tiba-tiba menchat dan menebak baju yang aku kenakan saat pergi ke Magelang unutk mengunjungi temanku.

“Mbaknya ngajak bercandaan ya?”

Lama…dia tidak membalas lagi, aku kembali membaca artikel Mas BCDF (dirahasiakan), dan meninggalkan komentar. Kemudian pemberitahuan masuk, dan itu chat dari Mbak Plukme tadi.

“He..he..itu saya tahu Mas, ibu yang disamping Mas sudah tertidur setelah minum obat anti mabuknya tadi” jawabannya yang kini membuatku menoleh ke arah kiri.

Wanita tersebut tersenyum saat aku menengok ke arahnya, dan aku tertawa kecil, ia juga ikut tertawa, aku baru akan memulai obrolan saat rentetan suara klakson menggema dan senyum diwajahnya seketika berubah menjadi wajah khawatir. Bus beserta isinya oleng, lepas kendali, kemudian menghantam pembatas belokan jalan hingga akhirnya dapat terhenti karena menabrak sebuah pohon, penumpang yang masih sadar atau setengah sadar segera berhamburan keluar, ibu disampingku entah masih tidur atau telah pingsan segera dihampiri seorang bapak yang duduk di kursi depan penumpang. Aku bangkit dan ingin segera turun dari bus, namun kakiku terhenti, aku berbalik kulihat darah keluar dari pelipisnya. Aku segera membawanya keluar, nafasnya masih bisa aku rasakan dari udara hangat yang keluar dari hidung, syukurlah ia masih hidup.

Gambar: hasil jepretan sendiri

Ini hanya cerita fiksi belaka, kecuali Plukme dan Plukers, Jika ada kesamaan tempat, waktu dan kisah mohon dimaklumi, mungkin imajinasi saya ada kecocokan dengan cerita keseharian plukers..he.


How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading