Pada dasarnya, manusia akan merasa senang jika dipuji, walaupun banyak yang menyangkal hal ini tetapi pasti ada desir kebahagiaan di hati (walaupun sedikit) ketika mendapatkan sebuah pujian. Bahkan beberapa orang ada yang mendewakan pujian. Akan bersikap sangat berbeda jika sedang dipuji. Hal ini biasanya karena dia bahagia ketika diakui "kelebihannya" oleh orang lain, walaupun terkadang hal yang dianggapnya sebagai kelebihan itu cenderung biasa saja.


Aku sempat tak habis pikir atas sikap seorang pemilik toko pakaian bayi yang beberapa hari lalu kukunjungi.


"Bu, ada baju tidur untuk bayi usia satu minggu?" Tanyaku pada pemilik toko tersebut, namun dia tak menjawab, awalnya kupikir dia memiliki masalah pendengaran, sebab aku berbicara tepat di sampingnya dan kupastikan sangat dekat dengan telinganya.


Akhirnya aku coba bertanya lagi, kali ini dengan menepuk pundaknya

"Bu, adakah ... "


"Di sana!" Belum sempat rampung ucapanku, dia telah menjawab yang artinya tadi dia mendengar apa yang aku tanyakan, dan memang enggan untuk menjawabnya. Kali ini pun, jawabannya amat sangat tidak ramah untuk jawaban seorang penjual kepada calon pembeli.


Tentunya hal ini membuatku berpikir, mengapa sikapnya begitu kasar padahal aku ingin membeli dagangannya. Apakah ada yang salah denganku? Aku memperhatikan style-ku dari bawah ke atas, aku yakin tidak ada yang salah! sandal jepit sebelah kiri berwarna merah dan sebelah kanan berwarna kuning, juga kaus dengan bercak getah pisang mentah di bagian perut yang menambah kesan artistik motifnya, aku merasa fesyenebel dan keren saja. Lantas apa yang salah? 


Karena mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan, aku keluar dan tidak jadi berbelanja di toko itu. Aku dan seorang kawan yang menemaniku pun terlibat pembicaraan saat menuju ke tempat parkir.


"Astaga, kasarnya paga itu pa'balu ee (Astaga, sangat kasar sekali sikap penjual itu.)" Ucapku


"Kau je' aji mi itu, tidak maui kalo tidak dipanggil aji, na tidak mu panggil aji. Bu ji mu panggilkan i, manassa peccu (Kamu sih, dia itu sudah Haji, dia tidak mau kalau tidak dipanggil Haji, tapi tidak kamu panggil Haji, malah kamu panggil 'Bu' saja. Jelaslah dia marah.)" Jawab temanku.


See? Sampai bersikap demikian kekanak-kanannya dia hanya karena ingin mendapatkan pengakuan. Entah sejak kapan orang yang telah menunaikan ibadah haji diberi gelar 'Hj' di depan namanya. Padahal sesungguhnya berhaji adalah sebuah ibadah, tidak ada sangkut pautnya dengan gelar. Murni urusan Tuhan dengan hambaNya.


Ada juga beberapa orang yang uring-uringan jika gelar tingkat pendidikan yang mengekor di belakang namanya salah, keliru ataupun tidak dicantumkan. Padahal sejatinya, kuliah adalah untuk mencari ilmu, bukan mencari gelar. Beberapa manusia ingin diakui gelarnya, lalu mereka menjadi bahagia dan lupa bahwa sesungguhnya bahagia tidak butuh pengakuan.



Fatimah Ridwan

Parepare 9 Agustus 2018


Sumber gambar : pixabay/Eak_kkk


320 Like 870 Views     

Read more

Sign in to leave your comment

Loading