Saya memohon maaf kepada semua sahabat, Plukers, atau pembaca atas keterlambatan membalas komentar. Beberapa minggu ini saya jarang membalas komentar tersebut. Tidak karena apa-apa—saya tetap membaca semua komentar itu. Kekurangan saya adalah tidak menyempatkan diri untuk menulis balasan.

Saya memang manusia jalanan. Hidup sering berada di luar rumah. Seorang sahabat mengirim pesan pada pukul tiga dini hari. Saya membalas pesan itu. Kaget dia. Dipikir saya sudah tidur. Saat itu saya terkantuk-kantuk dalam perjalanan pulang dari Sidoarjo. Tiba di rumah bareng dengan adzan shubuh.

Hendak mengambil air wudlu, pesan yang lain masuk. Sahabat dari Mojokerto, seorang relawan yang tangguh, mengingatkan bahwa jam delapan pagi ia akan menjemput saya. Kami akan berangkat ke Nganjuk, mengunjungi desa binaan di lereng gunung.

Setelah saya pikir-pikir, susah bagi saya berkata "tidak". Pukul 24.30, ketika badan setengah melayang, seorang kawan dekat mengajak bertemu di warung kopi. Bodohnya, saya membalas pesan itu: “Siap. Tunggu lima belas menit lagi.” Jam satu dini hari saya nongkrong hingga menjelang shubuh.

Ini hidup cap apa! Siang jadi malam, malam jadi siang. Irama hidup terbalik-balik. Tidak karena tidur berapa jam atau jam berapa tidur. Apabila dibandingkan dengan para sesepuh dan mereka yang mewakafkan diri kepada masyarakat, hidup saya belum ada apa-apanya.

Hidup orang-orang yang saya sebut itu lebih “gila” lagi. Belum sanggup saya mengikuti ketatnya jadwal, padatnya aktivitas, tingginya mobilitas mereka. Selalu dapat mengatasi bukan cuma rasa capek—energi hidup mereka melimpah dan terus mengalir sehingga menciptakan atmosfer positif bagi orang-orang di sekitarnya.

Yang pasti mereka bukan manusia suplemen yang gampang masuk angin. Tangguh, kuat, daya tahan tinggi.

Berbeda dengan kita yang bergantung pada racikan ekstra kuat, minuman multivitamin, ramuan herbal anti pusing. Berjalan tidak sampai satu kilometer mengeluhnya amit-amit. Diterpa hawa dingin sambatan tak habis-habis. Diguyur hujan deras mengumpat setinggi langit.

Tidak telaten menikmati proses menjadi kecenderungan karakter generasi zaman digital. Serba cepat dan terburu-buru. Tengok saja bagaimana kebiasaan kita berkendara di jalan raya. Semua ingin cepat tiba di tempat tujuan. Miskin imajinasi. Jalan raya menjadi panggung teater yang para pelakunya melakonkan drama monolog di tengah parahnya kemacetan.

Pelaku drama monolog berpikir hanya untuk, dari, dan oleh diri mereka sendiri. Ketika terpikir di otaknya untuk berhenti, saat itu juga, spontan, ia berhenti. Mau belok ke kanan, mendadak langsung belok. Perkara ada yang kaget, mengumpat, misuh-misuh  akibat keputusan serba mendadak itu, pemain drama monolog di jalan raya tidak wajib merasa bersalah.

“Yang berhenti mendadak saya, lalu yang kaget Sampean, kenapa saya disalahkan!”  

Sesekali amati dan catat nuansa psikologi mereka yang lalu lalang memadati jalan raya. Riset psikologi itu layak ditulis jadi disertasi.

Terlalu gegabah apabila saya menyatakan bahwa masyarakat kita tengah sakit. Mereka sehat dan baik-baik saja. Mentalnya pemberani sehingga motor itu meraung-raung dipacu dengan kecepatan 70 km/jam di jalanan yang padat. Seolah-olah ia tidak boleh terlambat. Begitu tiba di tujuan, ia menyalakan rokoknya.

Mobil mereka kinyis-kinyis. Pasti pemiliknya seorang kaya terpelajar sehingga dengan suka rela mobil diparkir depan pintu gerbang. Yang miskin dan tidak terpelajar harus berpikir untuk menemukan logika bahwa mobil boleh menghalangi kendaraan lain karena ditinggal pergi oleh pemiliknya yang terpelajar itu.

Kita memang hebat, tapi tidak dalam satu hal: kita tidak memiliki ilmu tentang takaran. []

Jagalan 060818

Image: pexels/Mike Chai


171 Like 835 Views  1 Shares   

Read more

Sign in to leave your comment

Loading