Lombok. Mendengar nama pulau tersebut, gambaranku saat ini berbeda dengan gambaranku 1 bulan yang lalu. Beberapa hari lalu, aku memang sengaja me-nonaktif-kan segala macam gawaiku karena bulan ini adalah satu bulan menuju ujian susulan dan materiku ya katakanlah relatif banyak. Dan 3 hari berlalu tanpa informasi dari luar.

Hingga pada hari ini, aku berencana untuk kembali mengakatifkan gawaiku. Tepat pukul 7 malam, sahabatku (A) memberiku informasi tentang Lombok. Jariku gemetar ketika mendengar suara dari seseorang tak dikenal di Lombok yang meminta bantuan segera didatangkan. Oh Tuhan... seketika aku mengingat 1 nama yaitu sahabatku (F).

Teringat tentang segala kesalahan yang pernah kubuat, perihal ceritanya, tawanya, ekspresi ke-kepo-annya, kejailannya kini memenuhi otakku. Beradu argumen dengan hati, dosa apa yang ia perbuat hingga aku begitu kejam padanya. Memang, setelah selepas lulus SMA, aku dan dia saling tidak tegur sapa. Lalu informasi tambahan dari sahabatku (A) mengatakan bahwa ia sudah ditelfon teman teman sekelas dan nomornya tidak aktif serta dia menghilang tanpa kabar, seketika pecahlah tangisku.

Kuberlari menuju kamar mandi, kuambil wudhu dengan mata yang mengeluarkan air mata penyesalan. Terlintas dipikiranku, bagaimana bila aku tak sempat mengucapkan maaf?. Bahkan air sejuk ini belum bisa menyejukkan hatiku. Kubentangkan sajadah, 2 rakaat sunnah setelah wajib. Mengadu pada Tuhan, meminta tolong, bersujud. Ya Allah, selamatkanlah ia karena tak ada yang dapat menyelamatkannya tanpa izin ataupun kekuatan dariMu, apapun yang terjadi, lindungilah ia wahai Yang Maha Melindungi, ya Allah ampunilah hamba karena tak ada yang pantas  mengampuni dosa ini selain Engkau. Hatiku terasa teriris, tenggelam dalam rasa bersalah. 30 menit setelah aku mematikan lampu kamarku, aku bangkit dan tangisku terhenti dengan informasi dari adik kelasnya sahabatku (F) mengatakan bahwa ia baik baik saja.

Egois. Aku beranggapan bahwa dia bukanlah apa apa, nyatanya dia telah mengisi lembar lembar buku kehidupanku. Nyatanya aku menangis ketika aku mendengar namanya. Kenyataan bahwa aku rindu pada setiap perkelahian kecil darinya. Selama ini yang kuingat hanyalah kesengsaraan, tak pernah terbayangkan dariku bagaimana keindahan keindahan kecil itu tercipta olehnya. Tiga tahunku semasa SMA juga bersamanya dan sahabatku yang lainnya, seketika aku rindu. Begitulah kekuatan dari "rasa terpendam" yang keluar, ia akan jujur, membuka setiap pintu "keindahan", "rindu", "kesadaran" satu persatu. Kesadaran bahwa ia telah memberikanku kehidupan yang "tidak biasa" baru terbuka hari ini.

Maka bukalah kembali buku buku kehidupan yang pernah kau tulis. Karena ketika kau marah, yang terbaca disana hanyalah kesedihan yang telah terbuat. Bagaimana dengan yang "tersembunyi"? jika kau ingin tau jawabannya, bayangkan saja bagaimana jika tiba tiba kau mendengar tentang hilangnya dia?. Atau siapa yang sebenarnya telah mendominasi bukumu dari halaman 29065 hingga 29390?

Note : untuk Lombok, aku turut berduka cita.. doaku terus untukmu, Indonesiaku.


171 Like 1K+ Views     

Read more

Sign in to leave your comment

Loading