Hidup di zaman modern tidaklah mudah. Terutama untuk konsisten memegang nilai yang sesuai kehendak-Nya sampai Baginda Izrail menjemput.

Dimana kita mau mencari referensi tentang pemegang nilai yang sesuai kehendak - Nya yang benar - benar konsisten ? Di mana pun saja, orang pandai bertujuan untuk kaya, orang berkuasa bertujuan untuk kaya, bahkan orang baik pun bertujuan untuk kaya.

Materi menjadi puncak pengharapan. Materi menjadi tempat untuk menggantungkan segala harapan.

Jika kita melihat catatan sejarah, apakah pernah ada kehidupan yang bersandar materialisme yang damai, aman, tentram ? Saya kira tidak, yang ada pasti keroyokan, saling menjatuhkan. Dan kumpulan orang yang mengeroyok itu pun saling menjatuhkan. Akhirnya, semua jatuh, hancur.

Masih ingat cerita Nabi Isa, seorang pengikutnya dan 3 perampok ? Pengikut Nabi Isa mati setelah dibunuh oleh 3 perampok. Pengikutnya tersebut ditinggal oleh Nabi Isa setelah diberi batu emas oleh Nabi Isa untuk memancing pengikutnya supaya jujur setelah sepanjang perjalanan terus berbohong. Mengaku membawa 1 roti, padahal membawa 2, yang satu sudah dimakannya.

Ketiga perampok yang mengambil batu emas setelah membunuh pengikutnya Nabi Isa itu pun mati sia - sia. Setelah melakukan aksi pembunuhan mereka bertiga merasa lapar. Salah satu perampok yang bertugas membeli makanan berpikir untuk memberikan racun pada makanan tersebut supaya batu emas dimilikinya sendiri. Kedua perampok yang menunggu beripikir untuk membunuh satu temannya yang bertugas membeli makanan supaya batu emas itu dapat dibagi berdua. Ketika perampok yang bertugas membeli makanan sampai, kedua temannya membunuhnya. Selanjutnya, makanan yang sudah diberi racun dimakam oleh dua perampok yang tersisa.

Tidak ada satu pun diantara mereka berempat, pengikutnya Nabi Isa dan ketiga perampok, yang menikmati batu emas tersebut.

Kiranya seperti itulah puncak dari kegilaan materialisme.

***

Konon, pada abad ke 8 agama Islam tidak menyebar di Indonesia secara masif karena yang membawa adalah orang yang berdagang. Islam baru bisa menyebar secara masif pada abad 14 setelah dibawa oleh para wali.

Bukan berarti berdagang itu buruk. Dalam kasus tersebut berdagang hanya saya gunakan sebagai simbol dari orang yang tujuan utama hidupnya adalah mencari laba dan mencari laba. Dan wali dalam kasus tersebut saya gunakan sebagai simbol orang yang tujuan utama hidupnya untuk memegang teguh nilai - nilai sejati kehidupan, spiritualismenya matang, dekat dengan Tuhan.

Dari hal tersebut kita bisa membayangkan bahwa di masa lalu para leluhur kita pernah mengalami kehidupan di mana materi bukan menjadi puncak pengharapan. Nilai - nilai sejati kehidupan, sipritualisme, kedekatan dengan Tuhannlah yang menjadi fokus utama kehidupan. Orang tidak percaya jika agama baru dibawa oleh para pedagang. Orang baru percaya jika agama baru dibawa oleh orang - orang baik, orang yang memegang nilai sejati kehidupan, spiritualismenya matang, orang yang dianggap dekat dengan Tuhan, seperti para wali tersebut.

Apakah penyebaran Islam di Nusantara begitu berdarah seperti di Arab pada zaman jahilliyah ? Saya kira tidak. Karena, di Arab pada zaman itu agama Islam dianggap bertolak belakang dengan tatanan nilai sebelumnya dan di Nusantara, Islam dianggap sejalan dengan tatanan nilai yang ada sebelumnya. Ibaratnya, tumbu oleh tutup (sebuah wadah yang mendapat tutup)

Kini di abad 21 kita mengalami kejungkirbalikan nilai yang luar biasa. Materi menjadi nomor satu. Tuhan menjadi nomor yang entah ke berapa. Orang hidup yang penting kaya. Tidak peduli memegang nilai - nilai sejati kehidupan, spiritualismenya matang, dekat dengan Tuhan atau tidak. Untuk kaya, mau dan berani mengahalalkan segala cara.

Peristiwa - peristiwa seperti yang terjadi seperti yang dialami seorang pengikut Nabi Isa dan ketiga perampok sudah banyak sekali terjadi. Sayangnya cerita tersebut hanya berakhir sebagai hiburan di pengajian - pengajian, di sekolah - sekolah dalam pelajaran agama, di TPA (taman Pendidikan Al - Qur'an. Tidak benar - benar dijadikan pengingat dalam kehidupan.

Akankah peristiwa - peristiwa tersebut akan terus terjadi tanpa kita tahu kapan akan berakhir ?

Wallahua'lam.


Sumber gambar : pixabay.com/TheDigitalArtist


165 Like 2K+ Views     

Read more

Sign in to leave your comment

Loading