Hai Plukers, selamat sore, tetap semangat di bulan Juli yang super panas.

Sore ini, saya ingin menulis tentang kemarau dan air bersih. Karena biasanya kalau sudah kemarau maka air bersih semakin sulit. 

Dan ini bukan dari berita yang saya baca tetapi kali ini saya mengalaminya sendiri di kampungku, hehehe ...


Pertengahan bulan Juli memang memberi cobaan. Siang makin panas, malam semakin dingin. Angin kencang menerbangkan debu tanah sedangkan pepohonan meringis berhemat. Hewan ternak dan manusia ikut layu.


Sumber air semakin jauh.


Baru beberapa hari kembali ke kampung halaman, saya langsung dihadapi masalah yang paling pelik di kampung kami. Sebentarnya bukan hanya kampung kami tetapi kecamatan kami. Masalah utama kehidupan yakni air bersih.

Daerah kami adalah daerah yang kering dengan hanya mengandalkan air hujan untuk usaha pertanian sudah sejak dulu kesulitan air bersih.

Bukan berarti tidak ada sumur. Kami memilikinya tetapi jika rasa air sumur setara dengan rasa air laut, apakah bisa digolongkan sebagai air bersih? Tidak kan?

Selain itu tanah kami gersang dan kering, jauh dari kata subur dan hijau sehingga sangat sulit untuk menemukan mata air yang benar-benar layak konsumsi. Dan dengan keadaan demikian, kami tidak berpangku tangan lalu menyerah pada keadaan.

Berkat usaha bersama antara pemerintah kecamatan dan masyarakat puluhan tahun yang lalu akhirnya air bersih masuk desa kami. Air yang diambil dari kecamatan yang jauhnya dua kecamatan dari kecamatan kami. Sekitar puluhan kilometer. 

Berawal dari insiatif pemerintah desa, pada awal tahun 90-an, pemerintah daerah memberi sumbangan berupa pipa-pipa dan segala perlengkapannya untuk menyalurkan air dari sumbernya yang cukup jauh, puluhan kilometer. Jika jalannya lurus dan rata mungkin tidak seberapa jauhnya namun jalan yang berbukit, lembah, ladang, hutan dan penuh bahaya menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk pemasangan pipa cukup lama meskipun dilakukan secara bergotong royong.

Banyak hal yang dikorbankan untuk mendapatkan air bersih ini. Bukan hanya waktu yang dikorbankan tetapi juga ada korban jiwa.

Ya itu semua terjadi puluhan tahun yang lalu. Saya sendiri juga belum lahir, hehehe.

Tetapi berkat usaha pemerintah dan masyarakat akhirnya air bersih masuk desa pertama kali sekitar tahun 1992. Masyarakat senang, sudah pasti. Tetapi hanya sebentar karena medan yang dilewati pipa-pipa adalah medan yang cukup ekstrem sehingga air bersih harus macet.

Sejak itu banyak cara perawatan yang dilakukan pemerintah desa sehingga air bersih tetap mengalir meskipun tidak setiap hari.

Apalagi jika masuk musim kemarau. Air bersih semakin sulit. Sumur-sumur asin yang biasanya hanya diperuntukkan untuk ternak kembali difungsikan. Meskipun masyarakat semakin cerdas menyediakan penampung air yang banyak, tetapi jika pipa putus di mana-mana (efek pohon tumbang, atau pun masalah alam yang lain) maka ramai-ramai membeli air tangki yang cukup mahal. Sekalipun membeli air tangki, masyarakat enggan menggunakannya untuk memasak, hanya untuk mandi dan mencuci.

Dan hari ini, air kembali mengalir tetapi sayang lagi karena belum bisa masuk ke penampung-penampung umum, akhirnya masyarakat memanfaatkan air curahan dari pipa yang cacat seperti gambar di atas.

Budaya mengantri air yang sudah lama hilang, kembali dilakukan. Ya meskipun semua orang mengeluh, saya justru senang. Senang karena bisa mengulang kembali kebiasaan lama yang hilang. Dan sekalipun harus menunggu lama sampai kadang-kadang berebutan tetapi saya tetap menikmatinya.

Ah, nostalgia di dalam keadaan yang tidak menyenangkan. 

Dan sekalipun sudah mengantri, air bersih masih cukup sulit didapat meskipun sudah beberapa hari ini banyak perbaikan dan usaha dari pemerintah dalam hal ini pengurus air bersih di desa. Ya kemarau masih panjang dan sumber air juga masih jauh.


Sekian coretanku


Maaf tulisannya kurang jelas hehehe, maklum kurang air kurang konsentrasi hehehe

Salam


Elisabeth B

Sumber. Dok.pribadi

Lembata, 21 Juli 2018.17:39


208 Like 238 Views  1 Shares   

Read more

Sign in to leave your comment

Loading