Sesuai KBBI daring keluaran Kemdikbud, konsensus adalah kesepakatan kata atau pemufakatan bersama (mengenai pendapat, pendirian, dan sebagainya) yang dicapai melalui kebulatan suara. Sudah jelas bukan, bahwa sudah ada ketetapan dari suatu pihak, sehingga jangan diperdebatkan lagi.

Ada satu kata yang cukup sering diperdebatkan soal kebenarannya yaitu jomblo dan jomlo. Lantaran sudah sering dipakai dan lebih enak didengar serta diucapkan, jomblo tetap dipakai, meski dalam KBBI jomlo-lah kata baku.

Hak seseorang sih sebenarnya mau pakai yang mana. Tidak ada benar atau salah, karena bahasa adalah konsensus. Pakai pilihan satu atau dua, tetap tahu maknanya. Ingin orang lain berbahasa dengan benar? Lebih baik mulai dari diri sendiri. Jangan paksa mengikutimu saat itu juga. Nanti, perlahan-lahan, akan ada “pengikut” tersendiri. Intinya, mengedukasi, bukan menggurui.

Sementara itu, jika mengecek kata baku dalam KBBI, muncul opsi tidak baku di bawahnya. Menjadi sebuah pertanyaan bukan, kenapa harus seperti itu, padahal yang baku lebih baik dipakai? Lagi-lagi, konsensus.

Ketika merambah ke ranah komersil, sebut saja penulis konten, kata tidak baku menjadi halal. Misalkan saja, ketika klien memberikan kata kunci kaos yang sebenarnya kaus, maka mau tidak mau kaos-lah yang harus ditulis. Hal tersebut akan sangat berpengaruh pada hasil pencarian di internet. Merubah satu huruf saja tidak diperbolehkan.

Ada juga kasus di mana dalam istilah bidang tertentu dan kata baku di KBBI berbeda. Lantas, harus memilih yang mana? Ada dua pilihan. Memakai yang tidak baku, karena pembaca sudah segmented (dalam ilmu Linguistik, ada istilah variasi bahasa bernama register), atau memakai yang tidak baku, tapi dalam catatan kaki diberikan pengertian dari kata baku tersebut. Hal ini bisa berlaku pada penulisan fiksi.

Pada dasarnya, bahasa adalah ilmu sosial, sehingga tidak ada salah atau benar. Semua bergantung pemakainya. Jika ingin menekankan pentingnya penggunaan kata baku, ada saat-saat tertentu, misal dalam penulisan teks akademik. Paling penting, mulailah dari diri sendiri kalau ingin berbahasa dengan baik. Jangan lantas menghakimi ini salah, itu benar. Kalau sudah sepakat, mau bagaimana lagi? Diterjemahkan ke kata bijaknya sih, tetaplah berjalan di kebenaran dengan tenang, maka yang lainnya akan mengikutimu.


Sumber gambar:

https://steemit.com/story/@puanswarnabhumi/bahasa-menunjukkan-bangsa-pembelajaran-untuk-orang-orang-yang-bermain-main-dengan-bahasa


How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading