Baru-baru ini sering ada inbox via facebook maupun whatsapp, apakah saya bisa diberangkatkan ke Palestina? Kira-kira inti dari pertanyaan mereka seperti itu. Lalu saya bertanya, kalau diberangkatkan lalu mau apa di sana? Mereka bilang mau membantu. Lalu saya bertanya, apakah mereka tenaga medis atau psikolog? Lalu sebagian besar (hampir semua) menjawab, tidak saya hanya ingin ikut berjuang melawan penjajah israel dan ingin bla bla bla.. Hmm, lalu saya kembali bertanya (pertanyaan saya untuk mereka sama dan jawaban mereka rata-rata pun sama 😁) apakah cukup diberangkatkan saja? Dan mereka menjawab, ya akomodasi, uang makan dan jaminan keselamatan. Dan alis saya pun naik (kadang satu kadang dua-duanya). Lalu inti mau kesana itu apa? Wisata gratis? Dapat beasiswa? Kalau semua maunya dibayari dan dijamin keselamatan. Para petinggi yang datang ke Palestina (terlebih Jalur Gaza) saja keselamatan tidak terjamin kok. Apalagi akomodasi dan uang makan. 62% warga Gaza itu hidupnya dibawah garis kemiskinan. Lebih baik memberikan mereka makan daripada membiayai kalian 😅, begitu kira-kira pikiran saya. Meski tidak saya ungkapkan ke mereka.

Lalu saya bertanya, kalau sudah di Palestina mau melawan Israel pakai apa? Jawabannya macam-macam, ada yang pakai tangan kosong lah, batu lah, molotov lah, atau senjata tajam. Lalu saya berkata, kalau hanya begitu mereka penduduk Palestina lebih ahli. Bahkan mereka bisa menyerang israel hanya dengan balon. Lalu mereka menjawab, saya ingin berguna untuk Palestina. Saya tidak bisa berdiam diri melihat kezaliman mereka.

Saya menghela napas, dan flashback ke masa lampau. Saya pernah merasa demikian. Ketika semangat juang tinggi, ketika ngotot ingin pergi ke Gaza. Sampai-sampai mengirim banyak proposal ke NGO Kepalestinaan. Ya saya pernah meresakannya. Lalu saya sadar bahwa tidak mudah untuk ke sana meski saya pakai uang sendiri, tidaklah mudah menembus Jalur Gaza. 

Sebenarnya jika ada tekad kuat, tidak usah menunggu "diberangkatkan". Kita bisa melihat contoh nyata sang aktivis kemanusiaan dari Swedia, Benjamin Ladraa. Selama 11 bulan berjalan kaki dari Swedia menuju Palestina. 4.800 km ia lalui dengan kakinya menuju Palestina tercinta. Setiap negara yang ia singgahi ia kabarkan tentang Palestina, ia kibarkan bendera Palestina. Tak mudah perjalanannya, bahkan ketika di Praha saat ia melintasi kedubes Israel dia dihadang dan digeledah. Keamanan curiga ia membawa bom. Tapi tak hanya itu, ia banyak disambut tokoh pendukung Palestina di negara yang ia lewati. Ia diundang menjadi pembicara dan sebagainya. Ladraa hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang memiliki tekad kuat demi mengunjungi Palestina.

Atau kita bisa melihat kapal pembebasan Freedom Flotilla. Entah sudah berapa banyak freedom flotilla menuju Palestina gagal berlabuh, bahkan semuanya dibajak oleh angkatan laut israel. Namun mereka tak pantang menyerah, meski ditangkap, diserang bahkan dalam peristiwa Mavi Marmara 9 orang syahid. Itulah tekad yang kuat, tidak usah menunggu "diberangkatkan" dengan banyak syarat yang bahkan saya bertanya, mau berjuang apa mau wisata? (Elf)

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading