Entah jam berapa tadi saya tertidur. Saya tidak ingat, yang saya ingat, sore tadi sedang nonton televisi sembari berbaring di samping istri. Jam 00:00, terbangun, televisi masih menyala. Dan yang membuat saya tergeragap, di layar televisi terpampang sebuah pertandingan sepak bola. Antara sadar dan tidak, saya mengucak-ucak mata. Berusaha mencermati tayangan televisi. Hati saya berbisik,"Ah, sepertinya saya melewatkan momen pertandingan delapan besar." 


Adalah karena dorongan bisikan itu, maka saya paksakan diri melawan kantuk dan serius menonton. Saking semangatnya, sampai saya bela-belain ngeloyor ke dapur, buka kulkas, ambil sebotol minuman C-1000 rasa lemon plus satu kecil toples camilan di almari dapur. Komplit. Segera saya kembali ke kamar, menenggak minuman lalu ngemil. Hingga kantuk benar-benar hilang dan mata benar-benar fokus. 


Saya lihat, pertandingan antara Swedia vs Meksiko. Sudah di menit 53. Tiba-Tiba ada serangkum keraguan menggelitik pikiran saya. Benarkah ini babak delapan besar? Seingat saya, Meksiko tidak lolos. Karena keraguan itu makin besar. Saya pun sempatkan membuka situs olah raga. Hasilnya? Alamak! Ini tayang ulang fase penyisihan grup  yang berakhir dengan skor 3:0. Duh! Kecewalah saya. Sudah bela-belain melawan kantuk, ternyata saya salah sangka. Ternyata ekspektasi saya terlalu tinggi terhadap tayangan yang membangunkan saya tengah malam ini.


Kejadian ini kemudian menyadarkan saya. Memang seperti itulah manusia. Seringkali dipermainkan oleh apa yang ada dalam pikirannya, apa yang menjadi prasangkanya. Saat melihat sesuatu yang 'wah' cenderung menghadirkan ilusi dalam pikiran tentang seperti apa sejatinya yang terlihat. Sering menghidupkan sebuah prasangka berlebihan di dalam hatinya terhadap apa yang membuatnya tertarik, kagum. Saat membaca sebuah karya bagus. Kita akan berpikiran bahwa penulis itu pasti orang hebat, orang pandai, orang alim karena melihat tulisannya begitu menyentuh. Kita kemudian membuat gambaran-gambaran sempurna tentang sosok penulis tersebut. Mulai dari latar belakang, profesi, kadar keilmuan dan lain sebagainya sesuai yang kita inginkan.


Apakah salah ketika kita membangun, menciptakan realita di balik sesuatu yang kita kagumi dengan berdasarkan prasangka, asumsi-asumsi? Tentu tidak salah. Persoalannya siapkah mental kita menerima kenyataan sebenarnya saat kenyataan itu terbuka? Itu saja.


Kenyataannya. Manipulasi otak kita terhadap sebuah obyek. Kerapkali dipengaruhi oleh cara pandang, pola pikir yang timpang. Kita terbiasa melihat sesuatu yang istimewa adalah hal yang dicipta, berasal dari orang istimewa. Kita terlanjur memahami bahwa mutiara hikmah hanya menjadi domain orang alim, kyai, ulama. Kita terbiasa terjebak bahwa ilmu pengetahuan selalu dilontarkan oleh seorang cerdas, intelek dan terpelajar. Sementara pada kenyataannya tidak demikian. Bisa saja dari orang biasa-biasa saja, bahkan dari seorang gembel sekalipun. Bila sudah demikian, maka cara pandang kita terhadap apa yang awalnya memesona itu menjadi bergeser. Sikap kita menjadi berubah, keyakinan kita menjadi goyah. Manusia sekali.


Semestinya tidak demikian. Bila mental kita telah terdidik dengan baik. Bila alur pemikiran kita telah tertata rapi, bila pola pikir kita tidak terjebak pada mainstream pikiran. Kita kemudian lebih bisa menghargai hasil dari yang menghasilkan, kita menjadi lebih bisa menghormati, mengapresiasi ciptaan dari penciptanya. Ketika kita mendengarkan hikmah kebaikan, kita akan menerima itu sebagai kebaikan. Terlepas apakah pelontar hikmah tersebut adalah ustaz, guru, atau pengemis sekalipun. Ketika membaca tulisan bagus, inspiratif, kita akan menerima itu sebagai sebuah hal yang patut kita apresiasi, kita kagumi, kita kaji dan lakukan. Terlepas apakah itu ditulis oleh penulis profesional, ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, atau bahkan anak kecil sekalipun.


Karena kebaikan tetaplah kebaikan meskipun dilakukan oleh orang yang dipandang kurang baik. Bukankah nilai kebaikan itu ada pada perbuatan? Bukan pada pelaku perbuatan. Bukankah bobot sebuah tulisan ada pada tulisan itu sendiri? Bukan pada penulisnya. Mari kita sama-sama belajar menempatkan sesuatu pada tempatnya yang pas. 


Saat menerima sebuah pencerahan, ilmu pengetahuan baru. Terimalah itu sebagai anugerah, sebagai sebuah keberuntungan yang kita terima dalam hidup. Lalu, jadikan itu pegangan tanpa menghadirkan ekspektasi berlebihan pada sumbernya. Mari menuntun hati agar memandang ilmu sebagai ilmu, pencerahan sebagai sebuah pencerahan. Dan, kalaupun mau mengagumi pemberi ilmu, pencerahan. Maka kagumi sebagai seseorang yang patut dikagumi karena apa yang dihasilkan bukan karena siapa jati dirinya. Ah, saya jadi teringat dengan statemen Sayidina Ali R.A, manusia luar biasa yang oleh Rasulullah dijuluki sebagai 'Babul ilmi', sebagai Gerbangnya ilmu pengetahuan.

انا عبد من علّمني حرفا واحدا

"Saya adalah budak bagi orang yang memberi saya pengetahuan (ilmu) meskipun hanya satu huruf."


Teladan terpuji dari manusia terpuji. Hingga menganggap bahwa pengetahuan adalah anugerah terbesar. Dan karenanya, untuk pemberi pengetahuan memiliki hak tertingginya. Terlepas siapa yang memberikan itu. Kata 'man' adalah kata nakirah/am (universal) yang bisa ke siapa saja. Mau ulama, guru, pengemis, atau anak kecil sekalipun. Sebuah ajaran yang oleh ulama besar Imam Fakhruddin Al Arsabbandi, dipraktekkan langsung terhadap gurunya, Imam Abu Zaid Ad-Dabbusy. Demi menghormati guru, beliau dengan suka rela melayani gurunya selayaknya budak melayani tuannya. Hingga kurang lebih dalam kurun 30 tahun menjadi juru masak sang guru, tanpa sedikit pun ikut mencicipinya. Subhanallah.


Menilai sesuatu dengan berdasar asumsi berlebihan itu sangat kurang baik. Karena situasi hati yang kerapkali mengalami perubahan frontal saat menemui kenyataan yang sebaliknya. Lagi pula, bukankah hakikat hati adalah perubahan? Hati senantiasa mengalami perubahan-perubahan (kecenderungan) setiap detiknya. Makanya dalam bahasa arab disebut 'qalbun' (kalbu) dari kata dasar 'qalaba' artinya berubah. Sekarang suka, nanti benci. Sebaliknya sekarang benci bisa jadi nanti suka.


Belajar wajar dalam menilai sesuatu. Tidak berlebihan, tidak mengagung-agungkan. Itu saja. Kita boleh mengagumi seseorang karena prestasinya. Namun, sewajarnya saja. Jangan berlebihan dan dengan ekspektasi tinggi terhadap apa yang kita kagumi. Itu lebih baik. 


Nah, halnya dalam mencintai seseorang. Sederhana, sewajarnya saja. Karena kita tidak tahu dengan perasaan kita di bekakang hari. Begitu kan, Mblo? Wekekekekek. 


Ah, saya jadi teringat kata mutiara arab yang waktu di pesantren kerapkali saya pakai buat membesarkan hati santriwati yang mewek curhat. Ups! Keceplosan. Begini kata-katanya.

احبب حبيبك هوناما عسي ان يكون بغيصك يوما ما وابغض بغيضك هوناما عسي ان يكون حبيبك يوماما

"Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya saja, barangkali suatu hari dia akan menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sewajarnya saja, barangkali suatu hari dia menjadi orang yang kamu cintai."


Wes, embuh! Wong Gendeng mau tidur lagi saja.


~Mlipir lagi, nenteng sendal mencari bantal~


06.07.18 - 02:40

Gresik

Sumber Gambar :

m.kaskus.co.id/thread/gembel


201 Like 652 Views  2 Shares   

Read more

Loading