Andai sanggup, aku akan menanggalkan semua kenang dan ingat tentang pertemuanku dengannya. Melupakan manis sikap dan hangat perhatiannya di pagi berhujan sembilan tahun yang lalu.

"Kau mau ke seberang? Aku akan menunggu hujan reda sambil mengopi di sana."

Tak ada sedikit pun daya padaku untuk menghapus percakapan pertama antara aku dan dia. Pun tak ada kuasa yang mampu memberangus pergi aroma jaketnya yang menaungiku melintasi jalan hari itu. Nyatanya, semua tentangnya sudah pun bersenyawa di dalam diriku, masih bersenyawa hingga ke hari ini, mungkin akan terus begitu sampai ajal akhirnya berhasil menyusulku.

"Hei ... bagaimana jika aku menganggap diriku sebagai pacarmu? Apakah kau keberatan?"

Ucapannya masih berseliweran di kepalaku sepanjang hari. Menemaniku ketika memeriksa denyut nadi pasien, atau mendengar suara tarikan napas mereka melalui stetoskop, bahkan ketika hening kamar operasi hanya mengizinkan bunyi bip peralatan, ucapnya akan selalu kudengar.

Tapi ... ada ingat dan kenang yang memorak-morandakan hati dan pikirku hari ini. Melebur masa lalu dan masa kiniku, mengaduk putus asa dan harapanku menjadi formula mengejutkan.

Aku baru saja selesai mengatur peralatan kerjaku di atas meja ketika gelombang kenangan itu melabrakku tanpa ampun. Kenangan itu adalah melodi siul yang masuk melalui ventilasi jendela lantas merambat melintasi atmosfer ruang menuju indera dengarku. Siulan ini, persis siulan yang kerap kudengar dulu dari mulutnya. Dendangnya sama, Begawan Solo, dendang favoritnya di segala musim. Itu adalah siul yang sama, dengan tinggi rendah yang sama.

Aku menggigil di atas sepatuku, persis seperti pasien typhoid diserang demam tinggi. Kilasan sosokku dan badan jangkungnya yang berhadap-hadapan di peron bertandang kemudian.

"Suatu hari nanti, jika kau mendengar siulan Begawan Solo, mungkin itu aku yang akhirnya menemukan kembali jalan pulang menujumu."

Ucapannya di hari kelabu itu masih terdengar jelas hingga kini, begitu pula tatapnya yang berjelaga pedih. Harusnya hari itu aku merantaikan diriku padanya, menyertai ke mana pun dia melangkahkan langkah baktinya, dan melawan dunia berdua.

"Kita mungkin tak berjodoh di kehidupan kali ini, tapi kupastikan kita akan berjodoh di kehidupan lainnya."

Ibunya memanggil langkahnya pulang. Seorang wanita ningrat telah pun disiapkan untuknya.

"Aku mungkin tak akan pernah ikhlas, tapi aku akan belajar ikhlas. Jika kau pergi karena baktimu pada ibu, maka aku juga akan melepasmu karena baktiku pada cinta."

Aku melepasnya di peron dengan kalimat itu, dengan mata basah, dengan hati pilu. Takdir cinta sudah tertulis jelas untuk diriku dan dirinya saat itu, bahwa kami tak mungkin bersatu ... tapi siul yang baru saja mengusik pendengaranku seakan minyak tanah yang disimbah pada bara. Siulan itu membahangkan kembali harapku yang sekian kurun ini tetap kujaga baranya.

Aku menanggalkan sneli dokterku dan lalu kucampakkan ke kursi. Langkahku memburu ke pintu, mengejar siul yang makin sayup. Di satu koridor panjang, sepatuku terpaku ke lantai.

Dia di sana, dengan wajah yang sama, dengan rindu di matanya yang sama besar dengan rindu di sekujur tubuhku. Seorang gadis kecil bergeser ke kanannya, memegangi gagang dorong kursi roda yang didudukinya. Gadis kecil itu memiliki mata jernihnya. Tak sulit buatku menebak kalau mereka adalah ayah dan anak.

"Akhirnya kau mendengar siulanku, Uma ..."

Lebih dari segalanya, aku rindu suaranya ketika melisankan namaku. Hanya dia, yang mampu mencipta efek magis pada diriku hanya dengan menyebut nama.

Aku berlari cepat menujunya, menghemat setiap detik untuk masuk ke lengannya yang merentang.

"Apa yang terjadi pada Begawan Solo setelah tahun-tahun terlampui?" tanyaku di dadanya.

"Tak ada ... sejak dulu sampai dunia berubah, Begawan Solo tetaplah Begawan Solo," katanya. "Maukah kau mengakrabi siul Begawan Soloku sekali lagi?"

Semesta tahu, bahwa mendengar siul Begawan Solonya adalah satu-satunya pekerjaan yang paling kudambakan di seluruh jagat.




Aceh Utara, 05 Juli 2018

Ditulis oleh Jun Ishaq untuk Plukme!

Pic Source : Pixabay/MihaiParaschiv


245 Like 705 Views     

Read more

Loading