Tiga seri tulisan tentang Bajulmati telah tayang. Kalau diterus-teruskan serial Bajulmati tidak akan pernah habis. Dimensi, lipatan, tikungan, mozaik dan sapuan lembut pengalaman, ilmu, hikmah, cakrawala akan selalu terhampar di sana. Belum manusianya, belum sisi psikologi mentalitasnya, belum kedalaman telaga rohaninya, belum getar-getar dialektika antara langit dan bumi.

Masih terhampar belum-belum yang lain—dan itu semua sejatinya tengah kita butuhkan, minimal, untuk menemukan kembali ordinat kemanusiaan kita yang ketilingsut  di tengah tumpukan benda-benda materialisme.

Tidak dibutuhkan lagi tegur sapa sesama “manusia mesin”. Manusia robot tidak memerlukan kemesraan kemanusiaan. Pertemuan antar manusia mesin terjalin karena adanya hubungan mekanik fungsional. Mereka bergerak dan berputar untuk menjalankan pabrik ekonomi politik budaya pendidikan tanpa gairah kemanusiaan. Kering dan garing. Sesekali dipelumasi oleh oli motivasi. Namun, batin terasa tetap kerontang.

***

Rombongan guru dari kota itu akhirnya terdiam. Wajah mereka tertunduk. Jiwa mereka bergetar. Mereka tengah mengalami kemarau panjang hingga tanah batin mereka terkelupas.

Pasalnya, di hadapan guru-guru kota yang berpenampilan klemis dan anggun, duduk seorang perempuan desa sambil menggendong bayi. Perempuan itu menceritakan pengalamannya setelah sekian tahun menjadi guru dengan gaji 2 M alias Maturnuwun Mas.

“Gaji saya tidak tentu. Jumlah rupiahnya pun tidak seberapa. Kadang gaji yang saya terima berupa sembako dan beberapa tundun pisang,” tuturnya.

“Mengapa Ibu bertahan menjadi guru di sini?” tanya seorang guru dari kota.

“Karena saya bahagia dapat membantu pendidikan di dusun ini.”

Lalu hening menyergap. Bening air telaga bagai kaca mengambang di bola mata guru-guru dari kota.

“Pak Izar dan Pak Mahbub selalu membesarkan hati kami,” ungkap perempuan itu, memecah hening yang menekan. “Beliau berdua tidak membiarkan kami berjuang sendiri.”

Guru-guru dari kota itu mematung, seperti kehabisan kata-kata dan ungkapan rasa takjub. Mereka berhadapan dengan kenyataan yang bergerak di luar batas pengalaman mereka yang setiap hari bergelimang kemudahan.

Lalu, tiga bulan berikutnya, rombongan siswa kelas enam dari sekolah dasar yang terkenal berbiaya mahal, datang berkunjung ke dusun itu. Mereka menyambangi sekolah darurat.

“Sekolah ini tidak terawat,” ucap siswa putri secara spontan. “Kita harus bersyukur karena lebih beruntung dari saudara kita yang tinggal di dusun Bajulmati. Kapan-kapan kita harus datang lagi ke sini untuk membantu mereka.” Para guru pendamping diam diliputi haru.

Adegan itu berlangsung tujuh tahun lalu. Dua hari menginap di rumah warga, bersosialisasi dengan tuan rumah, bercengkerama dengan para tetangga. Saya yakin pengalaman itu akan mengendap di memori mereka.

Dalam situasi penuh kesederhanaan kita menemukan mutiara kemanusiaan. []

Jombang, 050718

Foto: Dok. Pribadi


208 Like 276 Views     

Read more

Loading