Seperti bernapas, berkedip, berdegup jantungnya, berdenyut nadinya, manusia juga berpikir otaknya secara refleks, sebagai konsekuensi dari hidup. Pikiran manusia sangat dinamis, eksklusif, tak terkendali, juga tidak bisa dikendalikan oleh siapa-siapa, kecuali oleh dirinya sendiri dan oleh Tuhan.


Dari melakukan kegiatan berpikir, manusia bisa bertahan hidup di lingkungan yang paling purba: tahu bagaimana cara mencari bahan makanan lalu menyimpannya, mengolah makanan tersebut agar layak dan enak disantap, melindungi tubuh dari dingin dan panas dengan sandang dan papan, serta memeroleh formulasi bagaimana cara agar bisa saling berkomunikasi satu sama lain dengan produk kebudayaan yang bernama “bahasa”.


Dari melakukan kegiatan berpikir pula, manusia bisa mengaktualisasi dirinya sendiri untuk membentuk peradaban yang lebih tinggi. Ditemukanlah ragam teknologi yang bisa memudahkan urusan mereka. Manusia membuat cahaya dan panas dari ragam sumber energi, membuat kendaraan agar bisa menggunting waktu, membuat media komunikasi sehingga jarak jadi sirna, atau mengoperasikan jaringan internet sehingga seluruh dunia bisa saling terhubung sebagai kampung global.


Manusia juga bisa membuat dunia jadi indah dan betah dihuni dari kegiatan berpikir. Kita banyak menyaksikan orang mencipta puisi dan prosa, kita saling jatuh cinta dan menyayangi, kita membuat lagu, lukisan, film. Semua produk seni itu menjadi nutrisi untuk jiwa, tapi juga bisa dianggap menyesatkan jika tak sesuai dengan adab dan norma-norma yang dibuat kalangan mayoritas.


Manusia juga berkesempatan untuk mengakui adanya Tuhan dari kegiatan berpikir. Karena itu pula, manusia jadi tahu tujuan hidup mereka yakni kembali pulang ke dalam kasih sayang Tuhan. Manusia lantas berpikir dan melakukan ragam interaksi spiritual dengan Tuhan agar tidak kembali ke tempat yang menyengsarakan.


Berpikir adalah keajaiban dan sebuah anugerah yang mahal, tapi tidak sedikit dari kita yang menyia-nyiakannya. Kufur nikmat.


Padahal sebab berpikir, kita bisa menyadari ada ide-ide yang berseliweran bagaikan debu di jalanan. Kebanyakan dari ide-ide tersebut hanya numpang lewat karena dianggap sebagai hal biasa oleh empunya. Tapi di momen-momen tertentu, atas izin dari yang Maha Kuasa, kita bisa menganggap suatu ide yang datang sebagai hal yang keren, sehingga tergerak untuk mewujudkannya dalam sebuah karya rill.


Beruntunglah mereka yang benar-benar terampil mengikat ide, lantas menindaklanjutinya dengan menulis, merumuskan, mempelajari, menemukan fakta dan data, berinovasi, lalu menghasilkan karya bagi kemaslahatan umat manusia. Tapi apakah ide brilian hanya diberikan pada orang-orang pilihan semata?


Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak.


Untuk jawaban “Ya”, kita terkesima dengan keberadaan para nabi dan rasul, para wali serta orang-orang pilihan yang tercatat dalam sejarah karena berhasil merealisasikan ide (berupa wahyu, ilham, karomah dan hal-hal abstrak lainnya) ke dalam wujud nyata, menginspirasi banyak orang, bahkan menjadi “viral” karena berdampak manfaat dan bahagia bagi banyak orang.


Bisa juga jawabannya “Tidak”, karena nyatanya Tuhan Maha Adil semua manusia juga punya hak untuk menelurkan karya eksklusif yang memesona, sesederhana apapun karya itu. Ketika melihat orang-orang hebat yang punya karya yang mengagumkan, kita sering berpikir, apalah saya yang hanya manusia biasa ini? Adakah ide-ide kita yang direalisasikan ke dalam ragam karya akan berguna untuk kemajuan dunia?


Kalau mau berprasangka baik—dan berprasangka baik itu sangat dianjurkan—pasti jawabannya “Ya”. Berkarya adalah wujud rasa syukur kepada Allah karena telah mengoptimalkan ragam potensi yang ada dalam diri. Ketika disiplin berkarya, sesederhana apapun, maka Tuhan berjanji akan menambah nikmat-Nya, memberi keberuntungan untuk kita, pun jadi meningkat kualitas diri kita. Syukur Nikmat.


Ketika kita terus berupaya membaguskan diri, bukankah kita juga telah memberi sumbangan yang bagus untuk dunia, karena kita adalah bagian dari dunia yang berharga.


Kita boleh saja terkesima dengan orang-orang hebat itu. Tapi kita juga harus sadar bahwa diri kita pun istimewa dan Tuhan pasti punya alasan untuk masih memberi kita hidup hingga detik ini. Jika ide itu nyatanya tak tampak bisa memperbaiki dunia secara instan dan meng-global, yakinlah bahwa pasti ide yang kita realisasikan itu tak akan menguap dan lenyap begitu saja.


Akan ada orang-orang yang bahagia ketika kamu membuat karya, sesederhana apapun karya itu. Entah itu ibumu, bapakmu, sahabat-sahabatmu, atau dirimu sendiri. Jangan takut untuk merealisasikan ide. Jangan pula malas. Percaya dirilah!


*Lagi dan lagi, self-talk!


Sumber Gambar: https://pixabay.com/id/ide-fantasia-berpikir-tertulis-2924175/



278 Like 412 Views     

Read more

Loading