Beberapa hari yang lalu, saya mencukur rambut saya di pangkas rambut Debi yang berada sekitar 15 menit dari rumah saya apabila mengendarai sepeda motor. Pak Debi, pemilik pangkas rambut itu, merupakan tukang cukur langganan saya. Saya biasa mencukur rambut di sana apabila rambut saya sudah panjang. Seingat saya, pangkas rambut tersebut sudah berdiri sejak saya duduk di kelas dua atau tiga sekolah dasar. Jadi, saya sudah mencukur rambut saya di tempat Pak Debi sejak sekolah dasar hingga sekarang saya kuliah.


Pak Debi sendiri memiliki penampilan berewok dengan rambut tipis yang hampir sulah di atas kepalanya. Orangnya sangat pendiam. Memang, Pak Debi memang terkenal irit bicara dengan pelanggannya. Selalu begitu. Mungkin hanya saya yang memperhatikan hal ini, dari dulu sampai sekarang, Pak Debi memiliki wajah yang membosankan. Seingat saya, dia jarang atau dapat dikatakan tidak pernah tersenyum. Kedua matanya selalu tampak seperti orang yang menahan kantuk berat.


Kadang, ketika pengunjung sedang ramai dan saya harus antri untuk mendapatkan giliran cukur rambut, saya memperhatikan wajah membosankan Pak Debi ini sambil tersenyum-senyum sendiri. Saya jadi bertanya-tanya kok bisa ya Pak Debi memiliki penampilan yang seperti itu. Inilah perkiraan jawabannya! Pertama, Pak Debi memang bosan dengan pekerjaannya sebagai tukang cukur rambut. Dia sudah menjadi tukang cukur rambut selama belasan tahun atau bisa jadi lebih dari itu. Tapi, dia tidak bisa berhenti karena itulah satu-satunya keahlian yang dikuasainya. Lagi pula, Pak Debi juga harus menghidupi istri dan anak-anaknya.


Kedua, Pak Debi mungkin sedang lelah. Pangkas rambut Debi biasa buka tujuh hari dalam semingu dari pukul delapan pagi sampai menjelang magrib. Ada puluhan orang yang rambutnya dicukur Pak Debi setiap hari. Dalam bekerja, dia memiliki seorang pegawai. Istri dan anak-anaknya juga ikut membantu di bagian kasir. Begitulah! Menurut saya, Pak Debi mungkin lelah dengan jadwal kerjanya yang tanpa hari libur. Soalnya, jika dia tutup pada hari Minggu, pelanggannya yang hanya punya waktu libur pada hari itu pasti sangat kecewa, lalu tidak datang lagi ke tempatnya. Akibatnya, dia pun kehilangan pendapatan. Pak Debi mungkin juga begadang pada malam hari untuk menonton Dunia dalam Berita. Soalnya, dalam beraktivitas, Pak Debi selalu ditemani secangkir kopi di dekatnya.


Ketiga, ini asumsi yang sejauh ini dapat saya terima, wajah membosankan Pak Debi memang sudah gayanya. Hahaha ....


Meski memiliki wajah membosankan dan hanya berprofesi sebagai tukang cukur, Pak Debi selalu profesional dengan pekerjaannya. Itu terbukti dari caranya bekerja. Dia akan mempersilahkan orang yang pertama datang ke tempatnya untuk dicukur rambutnya terlebih dahulu. Artinya, untuk bisa cukur rambut, kita harus antri. Tidak peduli apakah kamu pejabat, guru, kepala sekolah, bos, pegawai biasa, teman dekat, ataupun pengemis di jalanan. Pangkas rambut yang lain, saya kira juga begitu.


Ketika pelanggan sudah duduk di atas kursi tempat cukur, Pak Debi akan menanyai terlebih dahulu gaya rambut yang diinginkan pelangan. Setelah itu, dia baru mulai memangkas. Pak Debi memiliki tubuh tinggi semampai. Hal itu memudahkannya dalam bekerja. Setelah mencukur rambut, Pak Debi akan bertanya apakah pelanggannya ingin dipijat. Jika iya, maka Pak Debi akan menggurut kepala dan punggung pelanggan. Ah, rasanya sungguh nikmat! Tapi, jika tidak, ya tidak apa-apa. Pak Debi akan mencuci rambut pelanggannya dengan sampo di bak khusus cuci rambut yang ada di tempat pangkasnya. Setelah selesai, maka pelanggan boleh pulang dengan syarat harus bayar dulu tagihannya.


Setiap pelanggan membayar dengan harga beragam mulai Rp10.000 hingga Rp20.000 sesuai usia pelanggan. Jika yang dicukur itu adalah mahasiswa seperti saya, maka upahnya adalah Rp18.000. Bayangkan saja, dalam satu hari pangkas rambut Debi menerima 20 orang, dan tiap orang harus bayar Rp10.000, maka dalam satu hari Pak Debi menerima pendapatkan Rp200.000. Artinya, dalam sebulan, Pak Debi bisa mendapatkan uang Rp6 juta. Itu baru pendapatan yang terendahnya lho. Jika pelanggannya lebih dari 20 orang tiap hari, dan tiap pelanggan memberikan uang Rp15.000, Rp18.000, dan Rp20.000, maka pendapatan Pak Debi pasti lebih dari itu. Pak debi sendiri memili satu-dua orang karyawan. Artinya, jika dibagi dengan karyawannya, pendapatan Pak Debi masih melebihi UMR Kota Padang. Bagaimana kamu berminat menjadi tukang cukur atau barbershop profesional seperti Pak Debi? Coba saja!


Tapi, sebenarnya, apa pun profesi kamu, jika dilakukan dengan profesional, pasti akan mendatangkan hasil yang lumayan. Minimal, kepuasan hati pasti akan kamu dapatkan. Tapi, kamu harus tetap berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Seperti kata salah satu orang bijak, "Jika saya adalah tukang sapu jalanan, maka saya akan melakukan pekerjaan saya sebaik mungkin. Sebab, jika nanti saya meninggal, saya pasti akan diingat orang bahwa saya dalah tukang sapu terbaik di dunia." Hehehe ....


*) Pak Debi adalah nama samaran.


*) Ditulis di Padang, sambil nunggu dosen bimbingan, 5 Juli 2018


Foto dari pexels.com/Midia



148 Like 1K+ Views     

Read more

Sign in to leave your comment

Loading