Sepulang dari lelahnya bekerja kemarin malam, aku coba duduk di depan TV. Niatnya tidak mau menyalakan karena ingin tenang sebentar. Maklum pulang kerja kan pengennya pikiran adem ya? Ku ambil segelas air putih dan meminumnya pelan-pelan. Bahkan pada situasi seperti ini air putih terasa sangat menyegarkan. Lalu kaleng biskuit melambai-lambai ingin dibuka, akhirnya ku ambil sedikit dan ku kunyah pelan.

Penasaran dengan tayangan TV, aku mengambil remote  lalu memencet tombol on. Yang muncul adalah sederet iklan kopi, iklan kebutuhan rumah tangga, dan macam-macam iklan lainnya. Aku ganti channel, sekarang yang di tayangkan orang-orang tertawa melihat orang lain jatuh dalam video. Aku ganti lagi, di stasitun TV ini masih iklan berderet, lalu ku temukan salah satu acara yang jadwal tayangnya masih belum atau dituliskan “segera”. Mengungkap cerita-cerita kriminal dengan gambaran iklan yang menurutku agak sedikit “menakutkan”. Atau barangkali ini pendapatku saja, yang memang anti sekali mendengar, melihat dan ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa begitu.

Jujur, setiap kali ada berita kriminal, yang menggambarkan tetek bengek peristiwanya, aku sedikit ngeri. Apalagi jika ada adegan reka ulang yang vulgar menggambarkan situasinya. Hiii... Ngeri karena entah itu pagi, siang, malam seolah dunia ini yang disorot adalah orang jahatnya. Sementara orang-orang baik terlupa. Entah kenapa berita kriminal punya banyak tempat untuk di bahas di media cetak maupun TV. Sampai-sampai, Aira, keponakanku yang baru bisa membaca kadang menemukan konten berita yang kurang layak dibaca anak-anak. Bahkan, pernah makan siangku terganggu karena salah satu berita di stasiun TV menyiarkan berita tidak senonoh dan membuatku terpaksa menutup mata dan telinga Aira dan menggantinya ke stasiun lain. Karena tidak sengaja Aira memencet tombol ke channel tersebut.  

Benarkah dunia sebegitu kelamnya? Sehingga tontonan di TV yang menginspirasi jauh lebih sedikit dibanding yang kelam begitu? Atau hanya perasaanku saja dan aku terlalu berlebihan pada perasaan itu?

Aku takut, kita menganggap hal-hal seperti itu menjadi “biasa” karena kita terbiasa mendengar, merasa dan melihat. Aku takut, kita menjadi tidak lagi menganggap kejahatan seperti yang sering diberitakan tidak lagi menganggap hal itu sebagai “kejahatan” lagi.

Lebih sederhananya, jika kamu hidup di pasar dengan para preman yang setiap hari berbicara kotor, maka telingamu sering kemasukan kata-kata kotor. Maka dimungkinkan yang keluar dari mulutmu adalah kata-kata kotor. Jika sudah begitu, maka kamu tidak menganggap kata-kata kotor itu adalah kata-kata yang menjijikan karena telah “biasa” dengannya.

Jika diibaratkan demikian, maka hal yang bisa jadi amat menjijikan akan menjadi “biasa” saja. Ketakutan itu muncul padaku, terutama saat aku menonton TV bersama Aira, keponakanku. Aku takut keponakanku secara tak sengaja dimasuki gambar, kata, tontonan negatif yang kemudian mempengaruhinya saat dewasa nanti, menganggap itu hal biasa dan na’dzubillah… aku tidak ingin membayangkannya lagi. Maka saat menonton TV dengan Aira, aku ekstra ketat mengawasi.

Aku mulai berkomitmen pada diriku sendiri, mencoba untuk tidak menonton lagi acara-acara berbau kriminal yang mengulang kembali reka adegan peristiwa kejahatan tertentu. Ngeri sekali, bagaimana jika hal itu menyakiti hati mereka atau keluarga mereka yang juga pernah mengalami peristiwa tersebut, lalu teringat kembali?  

Sebagai penonton, pintar-pintarnya memilih tayangan yang tidak membuat jiwa kita menjadi keruh. Semoga nantinya masih banyak stasiun TV yang memberikan lebih banyak acara positif daripada menyorot masalah kejahatan melulu. Semoga di media cetak pun sama, ingin sekali rasanya membaca hal yang menyenangkan khususnya di pagi dan malam hari. Saat akan berangkat dan setelah lelah bekerja. Berita dengan konten tersebut mungkin perlu. Tapi tidak perlu panjang-panjang, dan tidak perlu sampai detail sekali. Aduh ngeri apalagi jika di tayangkan terus menerus, pagi-siang-malam.

Makanya aku setuju sekali dengan Plukme! yang akan men-delete konten berbau negatif karena, semakin bayak hal negatif masuk, lama-lama bisa jadi kita tidak menganggap hal itu “negatif” lagi.

Berbagilah yang positif, di pagi, siang atau pun malam. Karena jika yang di bagikan positif, maka getaran alam ini pun akan merespon positif dan tentu dipantulkan lagi ke kita dengan hasil positif. Pernah ku buat arikel yang berdampak serupa dengan judul Kecil Tapi Besar Getarannya. Berbuat baiklah, sebarlah yang baik sekecil apapun, karena getaran itu akan dirasakan seisi alam, sampai kembali lagi pada kita.

Sekian plukers. Semoga bermanfaat. 


#berbagikebaikan

#deletekontennegatif

#jadipribadipositif


Sumber gambar : https://pixabay.com/en/users/analogicus


151 Like 1K+ Views     

Read more

Sign in to leave your comment

Loading