Bulan Juni 2017, saya bersama beberapa teman yang tergabung dalam tim Film for Change mengadakan riset audio visual tentang situasi kehidupan masyarakat Desa Oenbit, Timor Tengah Utara, NTT. Beberapa sasaran riset yang kami lakukan adalah kondisi sosial, ekonomi kreatif, potensi alam, isu lingkungan, termasuk di dalamnya kebudayaan atau tradisi masyarakat setempat. Banyak hal yang kami dapatkan. Khususnya di bidang kebudayaan, salah satu dari beberapa tradisi masyarakat di sana adalah menenun.

Pada umumnya, menenun adalah salah satu tugas utama kaum perempuan. Di masa lalu, perempuan yang tidak mampu menenun tidak akan diizinkan untuk menikah. Sebab di dalam menenun, tersirat filosofi kehidupan manusia. Ada keyakinan bahwa kemampuan menenun selembar kain tais  (sarung perempuan), beti  (sarung laki - laki) dan bet'ana (selendang) pertanda bagi seorang perempuan yang sudah mampu dan matang menenun kehidupan.

"Oh, dia sudah bisa menenun. Artinya dia pun sudah boleh menikah" kalimat canda ini seringkali ditujukan kepada perempuan muda yang sudah mampu menenun. Perempuan sebagai ciptaan yang diberi rahim oleh Usi Neno  (Yang Tak Terjangkau, Yang Transenden, Tuhan) diberi tugas mulia untuk mengandung dan melahirkan anak - anak manusia. Keyakinan ini pun yang melatarbelakangi peran penting sosok perempuan dalam menenun. Sebagaimana menenun kehidupan, hanya di dalam rahim perempuan benih - benih tumbuh menjadi manusia. Oleh karenanya, hanya perempuan yang mampu "melahirkan" tenunan - tenunan dengan motif sarat makna. Motif - motif tenunan warisan para moyang masih tetap dipertahankan hingga saat ini. Modifikasi hanya terjadi pada pilihan warna. 

Sebagai usaha mempertahankan warisan budaya tersebut, mereka membentuk beberapa kelompok tenun. Ibu - ibu menenun dua kali seminggu, sedangkan bimbingan bagi anak - anak perempuan dilakukan sekali, seminggu. Inisiatif ini pun menjadi sumber ekonomi kreatif masyarakat. Koleksi kain hasil tenunan siap dijual kepada siapa saja. Namun sayang, mereka kesulitan jaringan pasaran. Sesekali dan secara kebetulan, kain - kain itu terjual. Tetapi semangat mereka tidak pernah padam. Sekalipun tidak terjual, masih bisa digunakan pada saat menjalankan ritual adat atau hari - hari raya keagamaan (inkulturasi).

Menariknya, ibu - ibu tidak hanya fokus menenun tapi menyempatkan diri untuk melatih para gadis. Ada kegelisahan dari para orang tua akan perkembangan zaman yang semakin menjauhkan anak - anak dari tradisi. Busana -busana modern tampak lebih menggiurkan daripada hasil karya tangan ibu - ibu penenun. Meminimalisir problem tersebut, harus ada gerakan walau kecil jangkauannya. Salah satu wujudnya adalah membentuk kelompok tenun.

"Zaman berkembang pesat, tidak berarti melunturkan citra dan kecintaan terhadap budaya, peradaban harus tetap dibangun. Budaya luar boleh masuk, tetapi jangan sampai menghancurkan wujud dan nilai -nilai budaya kita." 

* * * *

12 - 06 - 2018

Sumber foto: Galeri Foto Pribadi

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading