Tepat sebulan yang lalu. Masih jelas teringat saat kutemani kamu terbaring di ruang HCU dengan infus dan beragam alat medis tertempel. Kau tampak begitu tak nyaman tapi jelas pula tak berdaya berontak.

Masih saja kudengar keluh kesah yang tak tega aku larang. Terus dan terus berlanjut, aku pun tak tahan lagi untuk tidak berkomentar,

"Ikhlaskan, berdamailah dengan dirimu, Sayang!"

"Ayang, bisa nggak aku minta gantian, sebentar saja."

Kalimat lirih itu akhirnya kudengar. Aku terdiam.

Mengejutkan, aku pun paham, semua memang seolah datang memberondong tanpa henti dan jeda.

Diagnosa awal preeklamsi, positif preeklamsi berat setelah hasil laboratorium menunjukan kandungan protein +3, delapan jam di ruang IGD, 2 hari di ruang inap tanpa perkembangan sesuai harap, keputusan secsio caesar dari dokter, sampai akhirnya pendarahan dan tensi yang tak juga turun menutup rangkaian yang mengantar kita bermalam di ruang high care unit yang jauh dari kata nyaman. Tepat sebulan lalu, 12 Mei 2018, atau sehari setelah anak laki-laki ke dua kita lahir.

Alhamdulillahi ala kulli hal, biiznillah anak kita sehat, terhindar dari resiko masuk NICU karena lahir sebelum waktunya. Masih ingatkah apa yang kukatakan, Sayangku?

"Semua akan berlalu. Kamu akan pulih lagi, kita akan tidur bareng lagi. Berempat, bahkan. Di rumah kita, tentu saja! Tapi sebelumnya,  ikhlaskanlah, kita harus melalui semua ini terlebih dahulu. Semua pasti berlalu, Sayangku."

Hari ini, bukankah benar kataku? Selama Allah masih mengembankan amanah terhadap kita, roda kehidupan akan terus bergulir melalui berbagai episodenya yang saling berganti. Berderet menunggu gilirannya untuk dilalui. Mampukah kita menolak? Sayangnya tidak. Dan tidak bisa pula hendak kita bertukar peran sebagaimana yang kau minta.

Bukan karena ini terlalu berat dan hanya Dilan yang sanggup. Tapi karena setiap kita bersanding dengan perannya masing-masing.

Tak ada yang terdzolimi karena semua sesuai kapasitasnya masing-masing. La yukallifullahu nafsan illa wus'aha. Saat kita melihat orang sebelah terkesan lebih ringan ujiannya, tahukah kita ujian lain apa yang tak dapat kita lihat darinya?

Bukankah aku sempat bercerita bahwa sehari sebelumya sempat kuberbincang dengan seorang bapak yang sudah 48 kali bolak-balik ke rumah sakit ini untuk mengantar anak bungsunya usia 3 tahun untuk kemoterapi karena terjangkit leukimia. Ada juga seorang bapak lainnya yang sudah hampir sebulan menunggu ibunya dirawat. Dunia ini tempatnya ujian, justru aneh jika Tuhan tak pernah menyapa kita.

Lantas, bagaimana harus kita sikapi? Meski tak pernah kau bertanya, aku tetap akan melanjutkan. Aku tak mau sakit yang kau rasa berbuah percuma, duka yang kau cerna hanya berujung pada amarah saja.

Sayangku, masalah terbesar kita adalah sulitnya bersyukur. Paling tidak, itu yang dikatakan Kang Atep, security di kantorku yang tak pernah berhenti berceloteh meski sedang berjaga. Sayangnya,  jika ditafakuri, memanglah benar seperti itu adanya.

Meski tak ringan, bukankah 9 hari bermalam di rumah sakit kemarin hanya sepersekian dari hari-hari normal yang kita jalani? Jika diingat lagi, betapa lebih banyak lagi saat sehat kita yang tak sering tersyukuri dan masih banyak lagi ujian kesempitan yang lebih berat tengah orang lain hadapi. Karenanya, bersyukur dan ikhlaskan kondisi yang tak dapat kita hindari.

Sayangku, semua akan menjadi kenangan pada akhirnya. Sebagaimana mimpi buruk yang sebulan lalu kita temui. Di tanggal yang sama sebulan kemudian, atau hari ini, bersyukur kita masih berkumpul di sini, menjalani lanjutan episode kehidupan yang tepat tujuh tahun lalu kita awali dengan dalam sehat dan banyak karunia lain yang mesti kita syukuri.

Teruntuk istriku, Annisaa Theresia Kusumadewi, terima kasih untuk kado terindah yang kembali Allah titipkan kepada kita, terima kasih untuk masa-masa indah dalam 7 tahun kebersamaan kita, dan semoga keberkahan selalu menyertai keluarga kita. Aamiin.. 


Bandung, 12 Juni 2018

Gambar: Dok. Pribadi

My beloved wife and my little son

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading