Assalamu’alaikum.. Kali ini saya akan mengupas salah satu tradisi kebudayaan unik daerah Gorontalo, tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan—cuma mau kasih tau, kali aja ada yang ingin tau saya tinggal di mana, wkwk.

Apa itu? Yup! Sudah jelas terbaca diawal Anda melihat artikel ini. Sudah pernah dengar tradisi Tumbilotohe? Adakah yang tahu?. Nah daripada penasaran, mari simak ulasan tentang si unik satu ini.

Tumbilotohe
berasal dari bahasa Gorontalo, yaitu: tumbilo artinya memasang dan tohe artinya lampu. Masyarakat Gorontalo menyebutnya “Malam Pasang Lampu”, yang dapat dinikmati setahun sekali yaitu sejak ba’da maghrib hingga waktu subuh saat tiga hari terakhir ramadhan.

Tumbilotohe sudah menjadi warisan kebudayaan Gorontalo yang terus dilestarikan secara turun temurun, masyarakat pun senantiasa menantikannya. Tak jarang pula, mereka para pendatang maupun turis asing takjub menikmati perayaan khidmat ini. Tradisi bertujuan untuk menyambut hari kemenangan umat muslim dan juga melepas detik-detik berakhirnya bulan suci ramadhan.  

Kilas balik perkiraan awal mulanya tumbilotohe, ternyata sudah ada sejak agama islam menyebar di Gorontalo sekitar abad ke-15. Lampu yang dipakai berubah setiap zamannya mengikuti perkembangan evolusi. Awalnya masyarakat terdahulu menggunakan
wango-wango sebagai penerangan, yaitu: lampu dari seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, lalu dibakar. 

Kemudian muncullah penerangan dari daun woka kering milik pohon palem yang diisi getah pohon dengan cara digulung, dinamakan
tohetutu. Mengingat masa itu belum ada minyak tanah, jadi bahan bakarnya masih menggunakan getah pohon. Lalu berkembang lagi dengan lampu padamala yang tercipta dari sumbu berupa kapas dan minyak kelapa, sementara wadahnya dari kelapa atau pepaya.

Saat awal ramadhan sampai hari sebelum tradisi ini digelorakan, ada yang sudah menjual botol kecil berisi minyak tanah dilengkapi sumbu untuk menyalakan api. Sejumlah botol juga disubsidikan oleh pemerintah di setiap wilayah dan desa setempat. Lampu botol itulah yang dipakai saat ini, semenjak pasokan minyak tanah sudah mudah didapatkan.  

Dinas Pariwisata turut ikut memeriahkan dengan menyelenggarakan perlombaan tumbilotohe se-kelurahan/kabupaten, juga Dinas Pendidikan yang mengimbau di sekolah-sekolah untuk turun berpartisipasi. Hal ini menjadi motivasi warga untuk memperindah wilayah masing-masing yang jika dilihat dari tempat tinggi, tampak menyatu dan syahdu. Di samping itu terdapat lomba bedug dan azan yang menambah nilai islam.

Tidah hanya lampu botol, berbagai macam lampu kekinian yang tinggal dicolok ke stop kontak (lampu listrik) juga dikombinasikan untuk menambah kesan modernisasi. Sehingga timbullah warna-warni gemerlap menerangi kota Gorontalo, walau bulan tidak lagi tampak saat-saat terakhir ramadhan. Lampu-lampu ini dipasang di sepanjang perjalanan, biasanya yang sering dilalui pengendara. Ada pula di kediaman sendiri, masjid, lapangan, bantaran sungai, persawahan, taman dan tempat lainnya yang mudah dijangkau.  

Source: instagram/melki_djalali
Source: instagram/adhywinata
Source: instagram/ariefgiasi
Referensi: 
https://regional.kompas.com/read/2018/06/08/13271611/tumbilotohe-tradisi-tua-gorontalo-menyambut-idul-fitri
https://id.wikipedia.org/wiki/Tumbilo_tohe
Cover: twitter/rio_larekeng

107 Like 265 Views     

Read more

Loading