Sebagai penulis, tentu merupakan suatu hal yang membanggakan jika karyanya bisa menembus penerbit mayor. Penerbit mayor adalah penerbit besar, yang menerbitkan buku dari banyak penulis baik berupa cetak maupun ebook. Contoh : Gramedia, Mizan, Bentang Pustaka, Republika, dan berbagai imprint atau anak perusahaan mereka. 

Penulis yang hasil karyanya diterbitkan oleh penerbit mayor, memiliki kesempatan besar untuk menjadi terkenal dan hasil karyanya dibeli oleh banyak orang. Yang mempromosikan buku itu adalah tim marketing dari penerbit, namun si penulis juga harus ikut mempromosikan. 

Buku hasil terbitan mayor bisa menembus toko buku dan jika beruntung, akan dijajar di etalase atau masuk jajaran Best Seller untuk menarik minat pembeli. Tentu saja itu adalah prestasi yang membanggakan apabila buku kita bisa dilihat dan dinikmati banyak orang. Bahkan jika beruntung, buku itu bisa diangkat ke layar lebar. 

Itu semua keuntungan sekaligus mimpi dari mayoritas penulis. Diterima oleh penerbit mayor seperti membuka pintu banyak peluang. Karya-karyanya akan mudah diterima oleh penerbit tanpa harus berjuang mati-matian seperti sebelumnya. 

Tapi saya disini ingin sekali membahas mengenai "rasa" dari karya penulis sebelum diterbitkan dan setelah diterbitkan. Semenjak hadirnya sebuah platform menulis gratis dari Kanada dengan basic warna oranye, jutaan penulis di seluruh dunia bisa mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi bakat kepenulisan mereka secara bebas disana. 

Ya, benar sekali. Bebas dalam arti bebas, terserah, apapun isi konten yang hendak dituangkan oleh penulis, platform itu memberi kebebasan. Tentu saja ada plus minusnya. Dari segi plus, penulis bisa menjangkau titik paling sensitif dari imajinasinya, sampai melampaui batas-batas yang mungkin tak akan bisa diwujudkan jika diterbitkan oleh penerbit mayor. Dari segi minus, terkadang banyak kontes yang berisi terlalu vulgar dan justru merusak plot dan inti cerita. 

Selama saya berkecimpung di dunia oranye, banyak sekali novel yang kualitasnya tak kalah bagus dengan hasil terbitan mayor. Bahkan kalau saya bilang, rasanya lebih greget dan bikin ketagihan. Yang saya maksud adalah dari segi isi, alur, konflik, plot twist, dan eksekusi ending. Untuk adegan-adegan eksplisit hanyalah bumbu penyedap atau sekedar toping saja. Kalau diibaratkan makanan, novel bagus disana diracik dengan bumbu lengkap, rasa pas, aroma menggoda, pokoknya bikin ketagihan terus. 

Memang sedikit susah menemukan novel gratis berkualitas diamond di sana. Harus sabar dan hati-hati. Banyak yang hanya clickbait saja. Judul, cover, sinopsis bagus, tapi isi bikin pembaca tak segan langsung menutup dan meremove nya dari library. Kalau itu makanan, cuma bentuk dan warnanya saja yang indah. Tapi begitu diicipi, rasanya hambar atau tidak karu-karuan. Bikin pusing. 

Tapi jika sudah menemukan yang bagus, dijamin deh, novel terbitan mayor pun kalah. Apalagi jika penulisnya pintar membuat plot twist atau cliffhanger, dijamin sukses mengaduk emosi pembaca. Tak sekali dua kali saya menemukan novel yang alurnya runtut, bahasa enak, susah ditebak, dan eksekusi bagus, baik itu novel Indonesia maupun novel luar negeri. 

Di sana juga penulis bisa langsung berinteraksi dengan pembaca, bahkan memberikan masukan, saran, atau semangat saat penulis terkena writer block. Dukungan untuk mengajukannya ke penerbit mayor pun besar saat novel itu benar-benar berkualitas bagus. 

Dan disinilah perubahan rasa itu terjadi. Saat novel langsung diterbitkan oleh penerbit mayor dari awal, tanpa mampir di platform manapun, pembaca tak akan bisa merasakan perubahan rasa itu. Berbeda jika novel itu berasal dari platform gratis yang dilirik penerbit. Rasa yang utuh, akan diubah oleh editor menjadi seperti yang diinginkan oleh penerbit. 

Banyak pemangkasan disana-sini. Adegan yang menurut mereka tidak penting harus dihapus. Terkadang karena sudah melebihi jumlah maksimal halaman, penulis terpaksa kembali memangkas isi novelnya lagi. 

Hasilnya? Begitu novel meluncur di pasaran, hujan kritik di Goodreads beserta hujatan, makian, nyinyiran, dan olok-olok seperti jebolnya air comberan dalam bendungan. Pembaca yang sebelumnya pernah membaca di platform pun mengeluh, rasanya beda. Ada banyak bagian yang missed, yang membuat rasa berubah menjadi hambar. Tak lagi segurih dan selezat dulu. 

Inilah kenapa terkadang saya lebih suka membaca di platform oranye, karena rasanya masih utuh. Tapi itu juga tidak bagus untuk penulis, karena mereka tak akan mendapatkan royalti seperti di penerbit mayor. Hanya mendapatkan vote dan views saja. 

Menulis untuk penerbit mayor memang seperti di kontes memasak. Waktu terbatas, dikejar-kejar deadline, dilarang ini itu, dilarang terlalu blak-blakan, namun harus terlihat indah dan rapi. Tak peduli jika rasanya hancur sekalipun. 

Tapi itu semua hanyalah pendapat pribadi saya yang menyukai kebebasan dalam berkarya. Saya suka rasa yang tajam, pedas, dan tidak ditahan-tahan, tidak seperti novel-novel terbitan penerbit mayor. Selera saya mungkin berbeda jauh dengan selera para penikmat sastra yang menyukai bahasa teka-teki, yang lebih suka membaca novel dengan bahasa-bahasa sinonim yang tak lazim di telinga saya. 

Semua kembali pada selera masing-masing, bukan? Dan saya lebih suka tema-tema yang ekstrim, seperti tentang psikopat, paranormal, supernatural, psychic, misteri pembunuhan, atau mental disorder. Haaahhh, mungkin memang selera saya aneh. Bagaimana dengan selera kamu? 

***

Alya Feliz 

12062018 

Sumber gambar : pinterest.com/LittleBookCupcakes


128 Like 294 Views     

Read more

Loading