Passion itu panggilan jiwa. Makanya tiap orang pasti beda. Nggak ada istilahnya meniru passion orang lain. Ah, si A passionnya di bidang arsitektur keren banget. Aku ikutan juga ah. Nggak bisa. Passion itu bukan kunci jawaban yang bisa dicontek. Passion itu jujur. Datangnya murni dari hati masing-masing. Meskipun maksa meniru orang lain, atau dipaksa untuk mengikuti orang lain, kalau jiwanya nggak terpanggil, ya nggak bakal jadi.

Bedakan Passion dengan Antusiasme Sesaat

Kadang memang hal ini bisa membingungkan karena bisa jadi yang kita kira passion itu ternyata nggak lebih dari sekadar antusiasme sesaat. Misalnya, ada orang yang emang passionnya di bidang batu-batuan. Dia seneng banget, bahagia banget kalau ngomongin batu, mencari-cari batu langka. Tahu segala macam jenis dan manfaatnya, sampai ke mendesain batu itu menjadi perhiasan yang lucu-lucu. Sementara ada orang yang juga sempat menyukai batu-batuan saat batu akik ngetren, tapi kemudian mendadak lupa setelah batu akik nggak ngetren lagi.


Pada kasus orang pertama, hal itu bisa disebut passion, karena dia memang suka sebelum hal itu menjadi tren, dan tetep suka meskipun sudah nggak ngetren lagi. Sementara di kasus orang kedua, hal itu bukan passion, melainkan antusiasme sesaat yang didorong oleh pengaruh tren.


Makanya untuk mengetahui sesuatu itu memang passion atau bukan, perlu waktu agak lama untuk menelaahnya. Hal apa yang bisa kita kerjakan dalam jangka waktu lama dan nggak bikin kita merasa bosen. Hal apa yang buat kita gampang aja rasanya melakukannya, bisa melakukan itu selama berjam-jam sehari tanpa merasa lelah. Hal apa yang ibaratnya bikin kita jatuh cinta lagi dan lagi.

Nggak Selalu Berkaitan dengan Bakat dan Hobi

Passion nggak selalu berkaitan dengan bakat atau hobi. Meskipun kamu berbakat di satu bidang, tapi nggak berminat di bidang itu, ya berarti bukan passion. Atau dibalik, kamu passionate di bidang itu meski nggak berbakat, ya itu tetap passion. Mungkin? Mungkin banget. Aku dari kecil tuh passionate banget di bidang musik. Pengen jadi penyanyi. Tapi bakatku yaa gitu deh. Suara nggak bagus banget, main alat musik juga ngepas-ngepas aja. Aku nggak punya bakat alami itu. Tapi apa itu membuatku berhenti dari mencintai musik? Enggak. Aku berusaha terus. Latihan dan terus berusaha jadi lebih baik. Nggak capek, nggak bosen.


Begitu juga dengan hobi. Well, pada banyak kasus, passion bisa sejalan dengan hobi sih, tapi nggak selalu. Misalnya aku nih, di waktu senggang, kalau aku lagi kelewat selo banget banyak waktu, aku hobi merajut. Tapi merajut jelas bukan passionku sama sekali karena kalau merajut itu aku merasa lelah dan bosen luar biasa. Paling aku merajut itu kalau lagi lelah, pengen mundur sejenak dari aktivitas rutin, pengen menenangkan diri (karena buatku merajut itu meditatif), atau sekadar lagi pengen selingan aktivitas.

Passion Itu Spesifik

Passion juga nggak selalu otomatis berkaitan di setiap bidang. Misal, aku suka nulis. Aku bisa nulis berjam-jam dan itu membuatku bahagia. Tapi blogging, itu lain soal. Soalnya ngeblog itu lebih dari sekadar nulis. Ngeblog itu meliputi perencanaan, pengaturan template, SEO, dan lain sebagainya, dan aku paling males ngurusin hal-hal kayak gitu. Kalau blogku mendadak eror tampilannya jadi berantakan, dijamin aku bakalan stress dan males posting. Itulah alasan kenapa aku bisa aktif banget posting di Plukme atau di sosmed tapi jarang posting di blog. Hahaha.


Atau satu contoh lagi, aku suka jualan. Tapi masih tergantung jualannya apa dulu. Kalau fashion, aku bisa semangat empat lima berangkat pagi pulang malem, malem masih lembur bikin laporan, input nomor resi pengiriman dan lain sebagainya tanpa merasa lelah. Tetep ceria biasa. Tapi begitu aku disuruh jualan misalnya asuransi atau produk perbankan lain, aku mendadak merasa seperti disiksa. Dan nggak bisa. Rasanya susah banget. Kok bisa, hayoo? Padahal kan sama-sama jualan.


Itulah. Pada satu orang aja passion bisa lebih spesifik. Nggak mentang-mentang aku suka jualan, trus aku udah pasti bisa jualan segala macem hal. Coba deh, suruh aku jualan kursi atau saham. Aku pasti akan merasa keberatan.


Nha apa lagi beda orang. Pasti jauh lebih beda lagi. Makanya seperti di awal tadi aku bilang, passion itu bukan sesuatu yang bisa ditiru. Passion itu ditemukan. Nggak bisa kita asal ngikutin idola. Wah, mbaknya beauty vlogger itu keren banget yah, aku ikutan ngevlog beauty juga ah. Atau wah, Chef Juna itu ganteng banget ya, aku ikutan mau masak juga ah.


Bukan gitu. Kalau emang dipaksa, ya hasilnya bakal kelihatan maksa juga. Atau nggak akan bertahan lama karena kamu bosen.

“Emang ngomongin passion gunanya buat apa sih, Pel?”

Buat hidup. Hahaha. Di zaman persaingan ketat seperti sekarang, hidup bisa terasa lebih berat dari rindu kalau kita menjalaninya nggak berdasarkan passion. Sejak awal kuliah dulu aku udah mulai kerja-kerja, jadi udah cukup menelan pahit getirnya kerja nggak sesuai passion. Atau salah mengira sesuatu itu passion tapi ternyata bukan. Makanya sekarang bisa menemukan the true passion itu aku merasa sungguh bersyukur. Mungkin memang nggak akan bikin aku kaya mendadak, tapi seenggaknya aku udah berada di jalur yang tepat.


Jadi udah ya. Pesanku, nggak usah memaksakan diri. Ikuti panggilan hati. Mendeteksi sesuatu itu memang passion atau bukan sebenernya gampang aja kok.

Cara Mengenali Passion

Pertama, itu emang asli panggilan hatimu apa kamu tiba-tiba kepengen melakukan itu karena melihat orang lain sudah melakukannya terlebih dulu? Terinspirasi dari orang lain memang nggak salah kalau itu pada akhirnya memang menuntunmu pada passionmu yang sesungguhnya. Tapi harus diperhatikan lagi itu beneran panggilan hati atau antusiasme sesaat karena niru-niru?


Kedua, kamu bosen nggak setelah beberapa lama melakukan itu? Mungkin di awal-awal memang semangat banget, berasa penuh energi melakukannya sampai kamu sempat berpikir “Ini nih! Ini passion yang selama ini kucari-cari.” Kalau hal itu berlaku dalam jangka waktu yang lama, maka selamat, itu memang passionmu yang sesungguhnya. Tapi kalau beberapa waktu kemudian kamu merasa lelah dan bosan, maka mungkin kamu belum beruntung. Coba lagi!


Ketiga, kalau kamu masih kebanyakan alasan untuk melakukannya, besar kemungkinan itu bukan passion. Kalau memang passion, kamu akan dengan senang hati dan suka rela melakukannya tanpa disuruh. Nggak harus didorong-dorong dan dimotivasi segala kamu pasti udah pengen melakukannya. Bisa jadi kalau agak lama nggak melakukannya kamu malah merasa kangen. Tapi kalau kamu masih banyak alasan “Entar dulu deh, anu deh, ini deh. Habisnya bla bla bla,” besar kemungkinan itu bukan passion. Nggak usah dipaksakan. Move on saja.


Demikianlah pemirsa, postingan ini kutulis dengan segala keterbatasan pengetahuan dan memang berdasarkan pada opini pribadi semata. Plukers beda pendapat atau pandangan denganku? Boleh banget, nggak dilarang. Utarakan saja di kolom komentar yaa.


Akhir kata, setuju nggak setuju, tetap love you.

Image credit: pixabay.com/xiarimemecha


116 Like 231 Views  2 Shares   

Read more

Loading