Hai Plukers, sudah menulis hari ini?


Sore ini, tiba-tiba saja muncul beberapa pertanyaan di benak Kyna. Pertanyaan itu adalah … sebenarnya, siapakah yang bisa disebut seorang penulis? Apakah penulis itu hanya untuk mereka yang bisa menulis dengan aturan tata bahasa yang baik? Atau malah hanya mereka yang sudah menerbitkan karya berupa buku dan sudah terjual?


Lalu bagaimana dengan Kyna? Bolehkah Kyna disebut penulis? Padahal Kyna tak paham benar cara menulis yang baik. Kyna juga tak begitu paham tata bahasa yang benar, apalagi menerbitkan sebuah buku lalu dijual. Apa itu artinya Kyna tak boleh disebut penulis?


Apa sebegitu inginnya Kyna disebut penulis? Tidak, Kyna malah merasa belum layak disebut penulis karena tiap mendengar kata “Penulis” otomatis Kyna langsung terbayang sosok Agatha Christie. Tapi Kyna yakin pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan bagi beberapa orang. Pertanyaan siapa? Tentunya mereka yang senang menulis tapi belum punya karya jual sama sekali. Salahkah jika mereka berharap disebut penulis?


Terlepas dari pengertian “Penulis” yang benar dan Kyna tidak tahu. Bagi Kyna, penulis itu tak ubahnya seperti pemilik pabrik. Pasti plukers bingung, apa hubungannya penulis dan pemilik pabrik? Hmm, ini sih hanya pendapat Kyna, entah kamu setuju atau tidak.


Menurut Kyna, semua orang yang punya karya tulis layak baca boleh saja disebut penulis. Tak peduli hasilnya seperti apa, bagus atau tidak, disukai atau tidak, asal sudah memproduksi suatu tulisan maka dia adalah penulis dan dia pemilik pabriknya sendiri. Ya, pabrik dari karya-karyanya.


Kenapa pabrik ya? Mungkin karena dalam pabrik terjadi beragam proses. Dalam pabrik biasanya terjadi proses dari suatu barang masih mentah hingga menjadi produk jadi yang siap jual. Nah kira-kira begitulah proses menulis itu berlangsung di dalam pikiran si pemilik pabrik. Pemilik pabrik mengumpulkan beragam barang mentah berupa ide abstrak, kemudian ditambahkan lagi dengan tambahan lain, bisa berupa ilmu atau riset mengenai ide yang akan dituangkannya.


Selain bahan-bahan tersebut, pabrik perlu apa lagi ya untuk menghasilkan produk? Tentunya perlu peralatan, dalam menulis seorang pemilik pabrik perlu peralatan berupa otak untuk berpikir dan hati untuk memberikan sentuhan emosional dalam tulisannya. Sang pemilik juga perlu mencurahkan waktu dan tenaga agar pabriknya tetap beroperasi dengan baik.


Lalu setelah produk itu jadi bagaimana? Tentunya pemilik harus berpikir bagaimana mengemas produknya dengan baik. Pemilik juga harus mempertimbangkan untuk menyortirnya, sebelum produk dijual dan sampai ke konsumen. Proses menyortir ini Kyna ibaratkan sebagai proses editing. Jadi jangan terburu-buru mempublishnya sebelum kamu yakin betul sudah tidak ada ‘cacat’ di dalamnya. Selesai sampai disini? Tentu tidak, masih ada hal penting yang terakhir.


Setelah produk dinilai layak dan siap jual, tentu produk itu perlu nama. Ya, bisa dibilang merk dagang. Dalam karya tulis, merk dagang bisa diibaratkan dengan judul tulisan. Judul tulisan harus merepresentasikan produknya, jangan gunakan judul yang tidak ada hubungannya dengan produkmu alias clickbait. Jika kau lakukan, maka kau telah melakukan tindak penipuan terhadap konsumen. Konsumen bisa marah dan tidak melirik produkmu lagi loh. Apakah sekarang sudah selesai? Hmm, sabar dulu, ini belum sepenuhnya selesai.


Setelah produkmu beredar dipasaran dan sampai pada konsumen kamu juga harus bersiap-siap mendengar pendapat konsumenmu. Jika mereka merespon baik maka jadikan itu sebagai motivasi untuk tetap produktif. Tapi jika responnya negatif, maka kamu harus bersiap memperbaiki keluhan konsumen agar produk terbarumu menjadi lebih baik dari yang sebelumnya dan tetaplah produktif.



Nah sekarang baru benar-benar selesai. Jadi sudah siap mengumpulkan bahan dan memulai pabrik milikmu Plukers?



Salam Absurd by Kyna
Cover by Pixabay.com/ Prettysleepy2


How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading