Siapa yang tidak tahu dengan nama Shakespeare? William Shakespeare, nama lengkapnya, menulis banyak sekali sandiwara yang tentu hingga saat ini masih dikenang. Siapa yang tidak tahu tentang salah satu sandiwara yang ditulisnya, Romeo dan Juliet? Kisah cinta yang penuh tragedi. Tapi ternyata tidak hanya Romeo dan Juliet, kisah cinta yang penuh tragedi, kisah tragedi lainnya adalah Hamlet. Hamlet ditulis oleh William Shakespeare sekitar pada tahun 1599-1601, menceritakan kisah pembalasan dendam yang dilakukan oleh Hamlet untuk sang ayah yang meninggal karena dibunuh oleh saudaranya sendiri, yaitu pamannya Hamlet. 


Mengambil latar di Denmark, seorang raja tiba-tiba saja meninggal, dan saudara dari sang raja naik tahta, Raja Claudius. Claudius tidak naik tahta dengan cara yang sah, akan tetapi dia membunuh saudaranya sendiri, yaitu ayahnya Hamlet. Selain itu, dia juga menikahi istri dari saudaranya dan ibu dari keponakannya, Gertrude. Kejadian ini membuat Hamlet merasa sangat marah dan sedih.


Dalam kemarahnnya, Hamlet mengucapkan:

Must I remember? why, she would hang on him,

As if increase of appetite had grown

By what it fed on: and yet, within a month -

Let me not think on't - Frailty, thy name is woman! -

A little month, or ere those shoes were old

With which she follow'd my poor father's body...


Hamlet marah karena ibunya, Gertrude, menikahi pamannya Claudius dalam waktu satu bulan setelah kematian ayahnya. Pidato ini menggambarkan atribusi kelemahan karakter dari satu wanita tertentu kepada kaum wanita.


Di sini kisah ini mulai jatuh ke dalam lubang yang dalam. Beberapa teman Hamlet mengaku melihat hantu yang mengaku sebagai ayahnya Hamlet hingga Hamlet sendiri melihat hantu ayahnya. Salah satunya adalah sahabat baiknya, Horatio.

Hamlet: What,look’d he frowningly?

Horatio: A countenance more in sorrow than in anger.

Pepatah ini memiliki arti secara langsung, maksudnya adalah seseorang memandang sesuatu lebih dengan kesedihan daripada amarah.


Hantu ayahnya itu meminta Hamlet untuk membalaskan dendam untuknya pada Claudius yang telah membunuhnya. Banyak cara yang dilakukan oleh Hamlet untuk menjebak Claudius. Hamlet berpura-pura gila untuk menjebak Claudius. Selain itu, Hamlet juga menyewa aktor untuk mementaskan kisah yang ditulisnya tentang seseorang yang membunuh raja dengan memasukkan racun ke dalam telinganya, sayangnya Claudius tidak menyaksikannya hingga akhir karena rasa bersalah yang muncul.


Hamlet juga menghadapi Claudius secara langsung dan bertanya kepada Claudius mengenai kematian ayahnya. Tapi Claudius tetap saja bungkam dan hal ini membuatnya marah. Sayangnya amarahnya juga melahirkan tragedi lain. Saat dia melihat seseorang bersembunyi di balik tirai, dia segera menusuknya karena amarah. Sialnya yang ditusuk bukan sembarang orang, melainkan penasihat Claudius, Polonius. Ayah dari wanita yang dicintainya, telah dibunuh. Hal ini membuat kedua anak Polonius, Laertes dan Ophelia berkabung. Ophelia yang sesungguhnya telah jatuh cinta pada Hamlet,menjadi gila karena kejadian ini, dan segera bunuh diri, menenggalamkan diri di sungai.

Hamlet yang telah dikirim dengan kapal ke Inggris oleh Claudius untuk mengusir dari Denmark, kabur dari kapal, kembali ke Denmark. Pada saat yang sama, pemakaman Ophelia pun dilaksanakan. Dalam prosesi pemakaman Ophelia ini, Laertes menyampaikan pesan terakhirnya:

Laertes: Lay her i’ the earth: And from her fair and unpolluted flesh May Violet spring! I tell thee, churlish priest, A ministering angel shall my sister be, When thou liest howling.


To minister maksudnya adalah melayani, atau bertindak sebagai pelayan. Jadi a ministering angel maksudnya adalah orang yang baik hati, memberikan bantuan dan kenyamanan.


Sekembalinya Hamlet ke Denmark, tanpa sengaja dia melihat prosesi pemakaman Ophelia dan karena sedih hatinya, dia meloncat ke dalam liang kubur Ophelia. Laertes yang melihat kejadian ini, menjadi penuh amarah, dan ingin membalas kematian ayahnya. Dia pun menantang Hamlet duel pedang.


Racun pun bekerja dalam duel ini. Claudius telah melumuri pedang Laertes dengan racun, selain itu, juga meracuni anggur Hamlet. Pada dua putaran pertama, Hamlet berhasil mengalahkan Laertes. Untuk menyemangati putranya, Gertrude meminum anggur Hamlet yang telah diberi racun. Pada putaran ketiga, Laertes berhasil melukai Hamlet dengan pedang berlumuran racunnya. Akan tetapi, Hamlet bertukar pedang dengan Laertes,dan berhasil melukai Laertes dengan pedang beracun itu. Sebelum kematian menjemputnya, Laertes mengakui bahwa dia bersengkokol dengan Claudius untuk membunuhnya. Hamlet pun membunuh Claudius. Tapi pada akhirnya Gertrude dan Hamlet mati karena racun yang sama. Pada akhirnya, kisah ini berakhir dengan tragedi tak berujung. Semuanya mati. Tidak ada yang hidup.


Selain pepatah di atas, ada beberapa pepatah dan frase juga yang cukup dikenal dan sering digunakan.

Dialog pada Act 1, Scene 2:

HAMLET:

Thrift, thrift, Horatio! the funeral baked meats

Did coldly furnish forth the marriage tables.

Would I had met my dearest foe in heaven

Or ever I had seen that day, Horatio!

My father! - methinks I see my father.

HORATIO:

Where, my lord?

HAMLET:

In my mind's eye, Horatio.


In my mind's eye memiliki arti ingatan atau imajinasi visual seseorang.


Dialog Ophleia pada Acr 1 Scene 3:

I shall the effect of this good lesson keep,

As watchman to my heart. But, good my brother,

Do not, as some ungracious pastors do,

Show me the steep and thorny way to heaven;

Whiles, like a puff'd and reckless libertine,

Himself the primrose path of dalliance treads,

And recks not his own rede.

Primrose path di sini dimaksud adalah rute yang menyenangkan melalui hidup, kesenangan dan disipasi.


Dialog pada Act 1 Scene 5:

"I could a tale unfold, whose lightest word would harrow up thy soul, freeze thy young blood, make thy two eyes, like stars, start from their spheres, thy knotted and combined locks to part and each particular hair to stand an end, like quills upon the fretful porpentine."


Rasa takut yang digambarkan hingga membuat rambut berdiri.


Dialog Hamlet pada Act 3, Scene 1:

To be, or not to be: that is the question:

Whether 'tis nobler in the mind to suffer

Dalam dialog ini Hamlet bertanya apakah lebih baik hidup atau mati?



Dialog oleh Claudius pada Act 3, Scene 3:

Were thicker than itself with brother’s blood?

Is there not rain enough in the sweet heavens

To wash it white as snow? Whereto serves mercy

But to confront the visage of offence?

And what’s in prayer but this twofold force,

Putih alami. Apa yang lebih baik untuk melambangkan putih daripada salju? Tidak hanya intensitas warna pada hari musim dingin yang cerah, tetapi juga kemurnian salju yang belum diangkut dipanggil oleh simile. Shakespeare menggunakan asosiasi ini untuk efek yang baik sejernih salju yang digerakkan.


Dialog oleh Hamlet pada Act 3, Scene 4:

And marshal me to knavery. Let it work,

For ’tis the sport to have the engineer

Hoist with his own petard. And ’t shall go hard,

But I will delve one yard below their mines,

And blow them at the moon. Oh, ’tis most sweet

Apa maksudnya? Jelas artinya adalah terluka oleh alat yang ingin digunakan untuk melukai orang lain.


Dialog Hamlet pada Act 5, Scene 1: “Alas, poor Yorick! I knew him, Horatio.”


Arti dari Alas, poor Yorick! I knew him, Horatio adalah mengenai kerapuhan dalam hidup ini.  Hamlet mengatakan ini di kuburan ketika melihat tenggkorak Yorick, seorang badut istana yang dikenalnya sejak masih kecil, dan dia bersedih untuknya. Sebagai seorang anak,Hamlet menemukan bahwa Yorick sebagai orang yang lucu dan menghibur, dan mereka selalu bermain bersama. Tapi sekarang Yorick telah menjadi mayat yang berbau busuk, di mana ingatan menyentuhnya membuat merasa Hamlet mual melihat keadaan Yorick setelah kematiannya. 



Sesungguhnya masih banyak lagi pepatah dan frase yang mungkin saja kita kenal, tapi sampai di sini dulu artikel ini. Semoga dapat bermanfaat bagi yang lain dan menambah informasi.


Pontianak, 11 Juni 2018

JJL



[Sumber Gambar: Subplot Studio]

[Sumber Referensi: Hamlet oleh William Shakespeare]



138 Like 382 Views  2 Shares   

Read more

Loading