Receh: remeh dan leceh. Hingga sering diremehkan dan dilecehkan. Itu yang terlintas dalam benak orang saat melihat uang koin. Recehan adalah uang kecil, bernilai rendah, tidak penting, bahkan yang ekstrem, dipandang hina. Benarkah ada orang yang berpikir demikian? Sepertinya iya di luar sana. Tetapi aku merasa, para Plukers di sini tidaklah begitu. Seperti halnya aku.

Uang receh masih kuanggap penting. Uang receh sering kusimpan rapi. Mengapa? Sebenarnya aku gemar menabung. Namun, kadang keadaan dan kebutuhan memaksa tidak bisa menyisihkan uang untuk mengisi celengan.

Apakah benar, tidak bisa menyisihkan uang sedikitpun? Jika memang tidak bisa menabung banyak, maka aku bertekad menyimpan uang recehan. Aku meletakkannya dalam kaleng bekas permen. Terutama receh dari kembalian saat belanja atau membeli sesuatu, pasti kuletakkan di kaleng—termasuk recehan dari suami juga. Hehe.

Peribahasa “sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” terwujud nyata. Uang recehan yang terkumpul beberapa lama bisa menambah uang belanja pada akhir bulan. Kali ini, aku juga terbantu untuk memenuhi kebutuhan Lebaran karena recehan. Alhamdulillah.

Bahkan, akhir-akhir ini aku pernah melihat iklan produk sebuah bank yang mau menerima uang recehan sebagai tabungan. Itu sangat membantu bagi perekonomian rakyat kecil. Apalagi saat masuk angin, pasti uang koin sangat dicari-cari untuk kerokan. Hehehe. Jadi, recehan itu penting kan?

Di medsos kekinian—terutama para penggiat bisnis MLM—sering menampilkan foto uang kertas berlembar-lembar. Warna merah, biru, hijau, dan ungu. Ya, kadang membuat kita tergiur. Tapi, entah mengapa aku pribadi kurang setuju pada cara seperti itu. Menurutku, vulgar dan kurang etis.

Jika memang berniat menggaet member, gunakan cara yang lebih santun dan elegan. Tampilkan manfaat atau benefit dari produk. Toh, trik bisnis boleh sama tapi rezeki orang beda-beda. Kalau member lain belum bisa mendapatkan untung sebanyak yang dijanjikan pada foto-foto uang itu, bagaimana? Bukankah menimbulkan kecemburuan sosial?

Memamerkan uang yang terlalu banyak di medsos—yang notabene adalah tempat umum—bisa juga menimbulkan tindak kriminal. Tidak aman kan? Lagipula apa manfaatnya? Harta bukan untuk difoto, dipamerkan dan dipajang, tapi untuk digunakan, disumbangkan, dan manfaat lainnya.

Lalu, bagaimana kalau memasang foto uang receh? Tentu lebih aman karena nominalnya tidak besar. Manfaat yang ingin kubagikan ialah motivasi. Catatan: foto uang recehan yang aku sertakan sudah digunakan untuk belanja kebutuhan pokok. Alhamdulillah, toko kelontong milik tetangga dekat rumah bersedia menerima pembayaran dengan uang receh. Jadi, tidak perlu malu.

Kita pasti pernah melihat berita pembeli sepeda motor di dealer menggunakan uang receh yang dia kumpulkan bertahun-tahun. Memang, aku belum bisa mengumpulkan sebanyak itu. Masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Uang receh tetap berguna dan berharga. Bisa membantu masalah ekonomi kita. Jadi, jangan lagi meremehkan dan melecehkan uang receh. 

Plukers pasti paham betapa pentingnya recehan. Salah satunya aku. Sejak bergabung di Plukme, aku makin menghargai recehan. Setiap tulisan dan postingan kita mendapat benefit. Mata uang yang berlaku adalah pluk. Setiap aktivitas kita mendapatkan sejumlah pluk, besarnya mulai satuan, belasan, puluhan, ratusan, sampai ribuan.

“Sedikit-sedikit mendapat benefit, lama-lama menarik dana” itulah yang berlaku di Plukme. Minimal sebesar 100.000 pluk untuk bisa mencairkan dana melalui nomor rekening. Wow, luar biasa kan? Motivasi recehan membuat kita semangat menulis dan berbagi manfaat. Makin berfaedah postingan kita, insya Allah Plukme makin besar menghargainya. Jadi, bisa mengikis kebiasaan spamming atau nyampah—menulis sesuatu yang tidak berfaedah di medsos.

Sejak kecil, orang tuaku mendidik untuk menghargai hal-hal kecil—termasuk recehan. Waktu anak-anak, aku pernah hampir membuang uang koin Rp 50. Saat itu perubahan nilai rupiah akibat krisis moneter, sekitar tahun 1998. Uang koin Rp 25 sudah tidak laku. Aku kira, uang Rp 50 juga akan bernasib sama.

Lalu, orang tua mengingatkanku bahwa uang Rp 50 masih berlaku. “Jangan dibuang begitu saja!” demikian nasihat mereka. Ya, walaupun sekarang uang koin Rp 50 sudah punah. Orang tuaku pun sering berkata, “Tanpa ada Rp 100, maka Rp 900 tidak akan genap menjadi Rp 1000.” Betul juga kan? Jadi, recehan itu penting!

Saat ini, nominal uang koin yang masih digunakan—meski yang terendah agak jarang—ialah Rp 100, Rp 200, Rp 500, dan Rp 1000. Itulah uang recehan yang masih kuanggap berguna. Begitu juga pluk di sini, meski sedikit sangat berharga sebagai apresiasi karya tulisan kita. Berada di Plukme membuat hati merasa bahagia.

Uang besar tidak akan ada tanpa uang kecil. Kesuksesan besar tidak akan diraih tanpa keberhasilan-keberhasilan kecil. Jadi, hargailah apapun mulai dari hal-hal kecil.  

Mulai sekarang, jangan remehkan, jangan lecehkan!

Save recehan!

Riski Diannita

Dokumen pribadi (uang koin dalam plastik berjumlah Rp 70.000)

155 Like 527 Views  4 Shares   

Read more

Loading