Trem. Trem adalah sarana transportasi dalam kota berbasis rel yang bentuknya menyerupai kereta. Ide awal penggunaan trem sebagai sarana transportasi di Batavia kala itu, digagas oleh Mr. J. Babut du Mares dimana proses pembangunan jalur tremnya dikerjakan oleh perusahaan Dumler & Co yang kala itu ditunjuk sebagai pelaksananya. Proses pembangunan jalur trem itu sendiri memakan waktu hampir 2 tahun. Dimulai pada tanggal 10 Agustus 1867 dan selesai pada tanggal 20 April 1869.


Trem di Jakarta sempat beberapa kali mengalami perubahan dari segi sumber tenaga yang menggerakkannya. Berikut ini adalah perkembangan trem di Jakarta terhitung sejak tahun 1869 sampai dengan tahun 1960:


1. Trem yang Digerakkan oleh Tenaga Kuda


Trem yang digerakkan oleh 3 - 4 tenaga kuda dan dikendalikan oleh seorang kusir ini pertama kali diperkenalkan di Batavia pada tanggal 20 April 1869. Saat itu trem dikelola oleh perusahaan Belanda yang bernama Bataviasche Tramweg Maatschappij (BTM). 


Trem ini memiliki kapasitas penumpang sebanyak 40 orang dengan tarif sebesar 10 sen per penumpang. Jam operasional trem setiap harinya dimulai pada pukul 5 pagi dan berakhir pada pukul 8 malam dengan rute Tanah Abang dan Jatinegara (Meester Cornelis). Rute Meester Cornelis melewati Pintu Air - Pasar Baru - Lapangan Banteng - Pasar Senen - Kramat - Jatinegara. 


Trem ini termasuk angkutan umum yang sangat digemari kala itu. Namun mengingat trem ini juga digerakkan oleh tenaga kuda, banyak orang yang kemudian mengeluhkan kotornya jalan-jalan di Batavia karena banyaknya kotoran kuda yang berceceran di jalan. Di samping itu, jarak tempuh yang cukup jauh, membuat banyak kuda yang akhirnya mati karena kelelahan. Tercatat 545 ekor kuda yang mati dalam kurun waktu 3 tahun sejak trem tersebut pertama kali dioperasikan.


2. Trem yang Digerakkan oleh Tenaga Uap


Trem uap atau disebut juga Steam Trem mulai beroperasi di Batavia pada tahun 1881. Trem ini berada di bawah naungan perusahaan Nederlandsch-Indische Tramweg Maatschappij atau Batavia Tramways Company. Trem yang beroperasi setiap hari sejak pukul 6 pagi hingga pukul 7 malam ini menetapkan tarif sebesar 20 sen bagi penumpang kelas 1, dan 10 sen bagi penumpang kelas 2 dan 3. 


Kelas 1 biasanya diperuntukkan bagi keturunan Eropa atau bangsa berkulit putih. Kelas 2 untuk keturunan Arab, India, Tionghoa dan bangsawan pribumi. Kelas 3 untuk pribumi dan hewan peliharaan seperti kambing. Dari perbedaan perlakuan penumpang trem inilah maka kita kini mengenal istilah 'kelas kambing'. 


Trem uap mampu menjangkau jarak tempuh yang lebih jauh dari trem kuda. Rutenya dimulai dari Pasar Ikan ke Gajahmada - Harmoni - Kramat - Pasar Baru - Lapangan Banteng lalu ke Meester Cornelis (Jatinegara) melewati Salemba dan Matraman. 


Pada trem uap generasi awal, sistem penguapan manual yang diterapkan pada trem, kadang membuat trem kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Hal ini kerap menjadi pemicu terjadinya kecelakaan. Sedangkan pada trem uap generasi berikutnya, lokomotif trem sudah dilengkapi dengan sebuah ketel yang disebut remise. Di pangkalan trem di kawasan Kramat, remise ini diisi dengan uap yang sudah jadi dan memiliki tekanan tertentu. Dalam satu kali pengisian, uap dalam remise tersebut dapat digunakan untuk menempuh perjalanan trem pulang pergi.


Namun sebagaimana halnya trem kuda,trem ini ternyata juga memiliki banyak kelemahan. Selain suaranya yang berisik, ketel uap ini juga mudah sekali kemasukan air saat cuaca hujan. Air yang masuk ke dalam ketel kerap menjadi penyebab mogoknya trem di tengah jalan dan akhirnya menyebabkan kecelakaan. 


Meski era trem listrik kemudian muncul pada tahun 1899, namun trem uap ini masih bisa dijumpai di jalan-jalan di Batavia hingga tahun 1933. Keberadaan trem uap mulai tersingkir ketika BETM dan DRISC/NITM ber-merger menjadi Bataviaasche Verkeer Maatschappij (BVM).


3. Trem yang Digerakkan oleh Tenaga Listrik


Trem yang beroperasi di bawah bendera perusahaan Nederlandsch-Indische Tramweg Maatschappij (NTM) dan Batavia-Electrisch Tram Maatschappij (BVM) ini pertama kali beroperasi pada tahun 1899. Trem ini cukup banyak diminati oleh masyarakat karena menjangkau hampir seluruh wilayah Batavia seperti Menteng, Kramat, Senen, Gunung Sahari dan Beos.


Tarif yang diberlakukan bagi kelas 1 untuk semua jurusan pada saat itu adalah sebagai berikut:

a. 20 sen untuk satu rit; 

b. 35 sen untuk dua rit;

c. 15 sen untuk sebagian rit;

d. abonemen bulanan.


Pada tahun 1960, trem ini resmi dihapuskan karena kerap menjadi biang keladi kemacetan di Jakarta dan dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan kota. Hal yang sungguh amat disayangkan, mengingat sejarah panjang trem sebagai salah satu sarana transportasi massal yang merakyat dan lekat dengan keseharian masyarakat Jakarta. 


[Sumber : diolah dari berbagai sumber]

[Sumber gambar: Berdikari Online]


134 Like 279 Views     


Loading