BARANGKALI ini semacam kebiasaan, bawah sadar sekaligus sepenuh sadar, bisa jadi. Karena itulah kebanyakan tulisan yang saya tayangkan di Plukme, apa pun ragamnya, cenderung berpanjang kata. Bahkan ada yang diusahakan pas sampai 1.000 kata, dengan menambahi atau mengurangi tulisan dari aslinya yang telah diketik di ms word.


Saya cenderung nyaman dengan kebiasaan ini, bukan untuk menyiksa yang baca melainkan untuk idealisme semata. Saya ingin puas dengan hasil tulisan sendiri, menuangkan secara lebih detail dalam keterbatasan kata yang disyaratkan Plukme. 1.000 kata itu adalah lahan eksplorasi yang menantang!


Kalaupun yang baca bosan dengan gaya panjang lantas ingin mengakhiri tanpa menyelesaikan pembacaan, itu adalah risiko dari buah idealisme saya.


Menulis membuat saya ingin mengungkapkan banyak hal, dan karena terbiasa menulis untuk dikirim ke media atau blog pribadi, maka saya cenderung membebaskan rasa dan pikir mengolah kata di ladang karya.


Kecenderungan untuk berpanjang ada di cerpen atau ulasan buku dan film, pun esai mengenai bahasan karya sastra.


Namun saya menyerah dengan ketentuan menulis cerpen untuk Kompas atau Tribun Jabar, soalnya panjang banget, gitu. Panjang bagi saya belum tentu masuk acuan panjang yang pas.


Saya sudah menayangkan 46 artikel di Plukme dan entah berapa banyak Splash alias status. Dan untuk status, ternyata saya kerap ingin berpanjang pula. Kalau sudah demikian membaginya ke dalam beberapa bagian dengan jarak tenggang waktu yang tak beruntun. Di atas 5 menit agar tak dianggap sebagai spam.


Kebanyakan artikel yang saya tayangkan di Plukme berpanjang-panjang. Di atas 300 kata. Saya kala baru bergabung dan menulis belum menyadari bahwa ada semacam kebebasan dalam hal jumlah kata, maka ambil amannya saja.


Lagi pula, kadang saya kecewa dengan artikel yang isinya, ya, gitu. Singkat dan kurang menjelaskan detail, jadi seakan kurang gereget.


Sudah 2 bulan saya gabung di Plukme dan bulatan tetap putih polos dengan santainya, ini juga salah saya yang bertahan dengan prinsip menulis secara serius dalam hal aplikasinya. Saya enggan menulis yang cuma sekadar lanturan curhat ngegalau. Saya ingin bisa memerhatikan konten.


Bukankah tulisan yang tayang di Plukme akan tahan lama dan bisa jadi dibaca banyak orang, karena setelah menayangkan saya akan langsung membagikan di beberapa akun media sosial macam Facebook, Twitter, dan G+.


Tayang di G+ bisa jadi akan terdeteksi dalam mesin pencari.


Dan saya percaya bahwa nama merupakan brand. Yang saya punya hanya nama yang tidak terkenal ini namun saya ingin produk yang dihasilkan (karya tulis) mewakili siapa dan bagaimana saya.


Pada akhirnya, apakah mereka akan melirik karya saya karena percaya pada nama atau mengabaikan karena dianggap tak penting benar.


Bagi yang sudah kenal bagaimana dan siapa saya mungkin akan bertahan untuk membaca karena ada semacam kepercayaan atau bonding (ikatan) yang terjalin. Apa pun bentuk tulisannya.


Hal itu berlaku pula pada persepsi saya terhadap beberapa teman lama, teman blogger pribadi yang saya kenal bagaimana nuansa tulisannya. Saya akan bertahan membacanya sekaligus turut menikmati hal yang layak dinikmati karena ada asas kebermanfaatan.


Mereka habis-habisan membuat konten dan membangun imej bahwa blog mereka mewakili siapa diri mereka.


Ada pertaruhan di sana, demi penghasilan, ada pula sekadar hobi untuk berbagi banyak hal yang berkaitan dengan pengalaman atau sekadar curahan perasaan.


Apa pun itu, saya salut pada mereka. Blogger yang benar-benar serius dalam berkarya, dan karya mereka selalu menggoda saya untuk sekadar singgah meluangkan waktu baca. Saya tak merasa rugi karena ada jalinan silaturahmi.


Di Plukme ini, saya tetap berkenan singgah pada sekian banyak Sobat Plukz yang membagikan karyanya. Tak peduli bagaimana hasil pembacaan saya terhadap mereka, saya percaya bahwa mereka punya tujuan dan tengah berproses dalam mencapai tujuan itu.


Dan sejauh karya tersebut bukan hasil saduran dari katalog atau brosur produk yang dituangkan tanpa polesan bahasa pemikiran sendiri, maka saya akan mengapresiasi.


Saya tak nyaman baca tulisan hasil transliterasi yang kacau susunan kalimat dalam bahasa Indonesianya. Apalagi yang menulis artikel dengan judul provokatif namun dari segi isi tak dipahami apa maknanya.


Sobat Plukz, janganlah lakukan hal yang di atas; karena mengejar kuantitas dengan cara mengabaikan kualitas akan membuatnya tak beroleh kepercayaan dari yang pernah baca.


Masih ada anggota baru yang tidak atau belum mencoba paham aturan main atau cara penulisan yang baik di Plukme ini. Entah apakah mereka lebih fokus menulis dan tak berinteraksi dengan sesama. Terlalu berorientasi pada benefit semata.


Jujur, saya bingung dengan penulis yang beruntun setia menayangkan artikel mengenai hal terbaru dari gawai namun bahasanya benar-benar kaku seperti bahasa katalog produk. dan bahkan tidak menyertakan sumber kutipan dari mana apalagi sumber gambar.


Layakkah saya percaya pada brand namanya?


Saya harap semoga saja pada akhirnya ia memperbaiki diri dan menggunakan keahliannya dalam memahami teknologi menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama.


Itulah mengapa konten pun harus kita perhatikan benar.



Konten yang tidak menarik akan ditinggalkan pembaca. Dan penulisnya yang tidak belajar dari kesalahan serupa dengan tetap mengulang akan merugi sendiri karena tidak berkembang sekaligus buang-buang waktu secara mubazir.



Selamat siang, Sobat Plukz. Mohon maaf jika ada kata dan kalimat yang dianggap tak berkenan.


#Cipeujeuh, 15 Mei 2018


~Gambar hasil paint sendiri~




179 Like 1K+ Views  3 Shares   

Read more

Sign in to leave your comment

Loading