Saya kepergok oleh beliau. Gara-gara ikut komentar dalam artikelnya yang terkahir ini. Memang tidak pernah alpha kalau beliau membuat artikel, saya pasti membacanya. Muatan dalam isinya sederhana. Membaca, memahami dan menganalisa. Komentarnya beliau begini;

 

~Satu momentum mengandung berlaksa-laksa pengertian. Tinggal memetik, jadilah berparagraf-paragraf tulisan~


Dalam komentar ini saya mengambil kesimpulan bahwa beliau sedang mengingatkanku untuk kembali pada masa kemarin. Kembali pada pokok pembahasan yang kemarin dalam pertemuannya. Ingatan itu belum luntur. Masih menempel dalam atmosfir otak saya. Jeratan setiap ungkapan beliau memang sangat memantik otak saya untuk menjadi memori yang kuat dan mampu memiliki daya tampung yang luas.


File itu masih saya simpan dalam benak otak yang nyambung dengan hati. Dengan hati ini saya menyimpan file-file yang beliau transfer ke saya. Getaran file ini sangat kencang. Setiap apa yang beliau tuliskan selalu ada hubungan diantara beberapa file yang ada di hati saya. File ini inginnya memuncak dan ingin dimuntahkan dalam Microsoft word sebagai keranjang sampah otak saya.


Daya tarik artikel beliau memang memicu saya untuk membuang sampah-sampah ini. Maka, saya tuliskan saja file-file yang beliau transfer ke dalam bentuk tulisan ini. Tulisaan ini berdasarkan pengalaman sederhana. Kenapa? Pertemuan saya dengan beliau memang sangat bisa dirasakan. Saya bertemu, saya melihat, saya bersentuhan, saya salaman, saya berdialog, saya mendengarkan. Ini adalah pengalaman berpijak pada pertemuan.


Tidak lupa, beliau selalu mentransfer file itu secara jangkep. Utuh. Integral. Kalau memegang buah jambu ya jangan lupa melihat pohon, ranting, daun. Juga tanah, humus, akar bahkan sampai cacing tanahnya. Ini dialektika berpikir secara jangkep tanpa mengurangi. Juga tidak menambah-nambah. Utuh dan lengkap. Memandang sebuah objek tanpa membangkitkan potensi ruhani –gagal paham.


Saya minta beliau untuk menjelaskan secara gamblang. Sesuatu apapun yang sifatnya mudah serta berdekatan dengan duduk melingkar saya dengan beliau. Misalnya; menjelaskan kopi. Di dalam kopi terdiri dari beberapa objek. Gelas, gula, bubuk kopi. Untuk gamblang-nya, beliau tidak serta-merta langsung mengatakan ini kopi. Tetapi beliau berpikir mundur.


Cara berpikir mundur dan utuh telah menjadi wejangan hangat dalam diskusi itu. Air digodhok dalam kompor, tuangkan gula dalam gelas, taburkan bubuk kopi dalam gelas. Seduh gula, kopi yang berada di dalam gelas dengan air yang sudah digodhok matang. Jadilah ini kopi. Bukan ini gelas. Otak saya semakin dipicu untuk mengeluarkan keluhan-keluhan yang saya sering alami.


Daya tampung otak saya semakin meledak-ledak hingga tumpah dan berserakan. Bak truck kapasitas memuat pasir 5 kubik, di isi dengan 10 kubik –tumpah dijalanan. Kapasitas minim dalam otak tidak menjadi masalah menurut beliau. Malah menjadikan kesempatan emas untuk manampilkan dalam bentuk gambar berukuran besar dalam projector.


Tampilan gambar yang masih berukuran kecil di layar smartphone apabila mau lebih jelas lagi ya di tampilkan melalui hardware atau perangkat lain untuk lebih jelas. Misalnya projector tadi. Lebih gamblang, jelas, besar, daya tampung dan daya lihat semakin jelas. Mudah dipahami, di cerna, di amati setiap gerak-geriknya. Otak pun semakin mudah untuk menampung dari setiap gambaran yang ditangkap.


Ngangsu kawruh lebih gamblangnya lagi mencari ilmu. Dialog dengan beliau tidak ada habisnya. Ada saja yang menjadi perbincangkan. Duduk melingkar ditemani kopi. Jagongan membahas ngalor ngidul. Saya katakan jelas. Tidak ada pembahasan yang tidak jelas. Semuanya gamblang.


Demikianlah ngangsu kawruh dari segala pengetahuan yang saya serap dari beliau. Saya tuntut beliau untuk mengeluarkan ajiannya, tetapi masih saja belum bisa. Karena menurut beliau ini sudah ajianku. Dari semua penjelasan, yang paling penting adalah beliau tidak pernah merasa benere dhewe. Toh kebenaran itu juga ada benar menurut sendiri dan benar yang sejati.


Mempertahankan kebenaran dirinya sendiri, menurut beliau malah akan menimbulkan persoalan yang serius dan tidak berujung. Saling menguatkan, bahkan sampai saling mengejek. Itu manusia tidak “merasa”. Kalau manusia yang “merasa”, tentu tidak akan seperti itu. Berbeda dengan benar yang sejati. Benar sejati inilah yang sekarang ditempuh bersama dalam jagongan. Bahwa beliau manusia “merasa”.


Beliau balas dendam bertanya. “Kamu sebagai manusia itu posisinya berada dimana? Apakah di “adalah”, “semoga”, “pasti”, atau di “insya Allah”,?. Ya kalau saya jawab pertanyaan itu ya berada di saya sendiri pak. Jawabku demikian. Begini lho Pin.


Petani padi misalnya. Menanam padi itu cukup mudah. Perawatan yang benar sesuai dengan aturan menanamnya, ya pasti juga keluar buahnya. Sekarang, petani itu tahu atau tidak kalau nanti bisa panen? Ya tidak tahu. Petani itu kan menanam serta merawat. Urusan panen atau tidak, itu Tuhan.


Tuhan menuntut petani itu untuk merawat, artinya untuk selalu berusaha dan berjuang. Hidup ini adalah perjuangan. Perjuangan sampai titik akhir. Tuhan juga tidak menuntut manusia untuk selalu sukses. Yang dituntut oleh Tuhan adalah berjuang sampai titik darah penghabisan.


Jagongan ngangsu kawruh. Satu momentum dapat merangkai berparagraf-paragraf tulisan. []

Kamar depan, 15 Mei

ilustrasi; pixabay


196 Like 810 Views  1 Shares   

Read more

Sign in to leave your comment

Loading