Dunia kepenulisan tak akan lepas dari dunia penerbitan, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Rasanya sungguh disayangkan jika ide-ide hanya tersimpan di dalam lemari atau bahkan hanya di dalam benak penulis saja tanpa dipublikasikan. 

Antara menulis dan publikasi memiliki sebuah ikatan simbiosis mutualisme, di mana penulis membutuhkan publikasi, sedangkan dunia publikasi pun membutuhkan penulis sebagi sumber daya intelektual untuk memutar roda eksistensinya. 

Selain membutuhkan pengakuan atas karya-karyanya, seorang penulis mana pun tentu menetapkan target tertingginya dengan menerbitkan karyanya untuk memperoleh keuntungan finasnisal denga kata lain bisa berupa royalti atau honor, dan sebagainya. Dan menjadikan menulis adalah mata pencaharian yang dapat menunjang kehidupan. 

Untuk penulis terkenal, kebebasan finansial dari buku-buku best seller yang ditulisnya mungkin sudah bukan masalah lagi. Bahkan tak sedikit para penulis terkenal yang sukses di dunia kepenulisan dapat memperoleh penghasilan tinggi layaknya para konglomerat. Namun apa kabar dengan penulis pemula, yang baru saja merintis dan menjadikan menulis ladang penghasilan? Jangankan bukunya menjadi best seller, para penulis pemula ini masih berjuang agar naskahnya menembus persaingan ketat di meja redaksi. 

Kaitannya dengan publikasi dalam bentuk fisik ada banyak penerbit besar yang memburu naskah-naskah original dan memiliki potensi best seller untuk diterbitkan di bawah bendera percetaknnya, dan tak sedikit juga yang berani membayar mahal untuk itu. Namun tentu sebelumnya ada harga yang harus dibayar penulis hingga akhirnya sebuah naskahnya diterbitkan, yakni persaingan yang sangat ketat.  Atau jika tidak ingin bersaing di meja redaksi, penulis membayar harga berupa biaya yang tak sedikit untuk mencetak bukunya sendiri. Lalu mana yang menawarkan nilai lebih? 

Penerbit Mayor

Industri perbukuan sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu, sedangkan aktivitas mencetak buku sudah ada tepatnya di China saat abad ke-14 selang tak begitu lama setelah kertas untuk pertama kali ditemukan. 

Buku dianggap sebagai media paling efektif untuk mendokumentasikan ide maupun gagasan, sehingga meski penggagas telah tiada, idenya masih tetap hidup sepanjang masih ada yang membaca gagasannya. 

Di Indonesia sendiri industri perbukuan cukup berkembang baik, IKAPI mencatat terdapat paling tidak 1328 penerbit buku, yang sekitar 600an lebih berada di pulau Jawa, dan sisanya tersebar diseluruh penjuru nusantara. 

Bisnis buku sendiri cukup menjanjikan, meskipun minat membaca orang Indonesia menurut beberapa penelitian masih sangat rendah. Penerbitan buku sempat mengalami kejayaan di era sebelum ditemukannya internet dan menjamurnya media-media online yang dapat diakses masyarakat kapan saja dengan biaya yang relatif murah, di bandingkan mencetak buku. Namun demikian buku tetap bertahan hingga kini, karena ada beberapa tipe gagasan yang memang akan lebih afdol ketika dibukukan. 

Para penulis membidik penerbit-penerbit besar untuk membantu mencetak naskahnya sekaligus mendapatkan benefit dari idenya, karena bagaimana pun kekayaan intelektual tetap harus dihargai baik secara moril maupun materil. Mengapa penerbit besar? Karena lebih dapat menawarkan bayaran yang lumayan, selain menawarkan kemudahan self branding untuk berpeluang menjadi penulis terkenal. 

Pada penerbit besar atau yang disebut kini dengan istilah penerbit mayor, selain mencari naskah-naskah berkualitas juga memperhatikan minat pasar karena bagaimana pun biaya produksi yang dikeluarkan harus kembali menjadi keuntungan. 

Maka dari itu kadangkala penulis yang terlalu "idealis" tidak begitu cocok dengan penerbit mayor, karena selain mementingkan kebutuhan penulis akan gagasannya, juga mementingkan minat pembaca yang dalam hal ini adalah konsumen, yang kadang kala bisa saja bersebrangan. 

Persaingan untuk diterbitkan di penerbit mayor sangat ketat, mengingat setiap harinya mungkin belasan naskah menumpuk di meja redaksi untuk diseleksi. Sehingga biasanya naskah-naskah yang melewati tipe seleksi ini lebih dapat dipertanggungjawabkan, dibandingkan yang tanpa seleksi, meski tak mutlak seperti itu. 

Tentu saja penulis berbondong-bondong membidik penerbit mayor karena mereka tak perlu mengeluarkan apa pun agar naskahnya terbit, bahkan penulis dibayar untuk itu. 

Jenis pembayaran di penerbit mayor terbagi menjadi: jual putus dan royalti, untuk naskah yang berhasil lolos akan dihargai dengan sejumlah honor dengan teknik jual putus (naskah dibeli, selanjutnya seluruh hak atas naskah menjadi milik penerbit), atau royalti (selama buku itu masih dimanfaatkan maka penulis akan merasakan honor dari hasil karyanya, terlepas berapa besar bilangan rupiah yang didapat tergantung kesepakatan antara dua belah pihak dan bergantung keuntungan penjualan buku tentunya).

Self Publishing

Jika naskah tak kunjung dilirik penerbit, atau ditolak sana-sini. Kini ada alan pintas yang dapat ditempuh para penulis. Tanpa perlu melewati tahapan editing oleh editor penerbit maupun seleksi dengan penulis-penulis lain. Yakni, penulis dapat mencetak bukunya sendiri atau belakangan dikenal dengan istilah self publishing. 

Seperti namanya, mencetak sendiri tentu butuh perjuangan terutama dalam hal modal, berbeda dengan menerbitkan buku pada penerbit mayor, alih-alih di bayar, para penulis harus mengeluarkan uang untuk proses mencetak bukunya. 

Keuntungan menggunakan penerbitan mandiri ini adalah lepas dari kata seleksi, karena bagaimana pun isi bukunya, setiap penulis dapat mencetak naskahnya.

Dan jika ternyata bukunya laku di pasaran, maka keuntungan sepenuhnya milik penulis, tak perlu bernegosiasi dengan penerbit, karena biasanya percetakan yang digunakan untuk self publishing ini tak akan meminta imbalan apa-apa, semua sudah dibayarkan di muaka saat mencetak buku di tempatnya. Namun jika bukunya tidak laku, maka bersiap-siaplah mengalami kerugian, ini sama halnya seperti berdagang dengan buku sebagai komoditasnya. 

Maka kualitas isi buku tetap yang utama, untuk menentukan apakah bukunya laku dipasaran atau banyak yang membaca, atau bahkan sebaliknya. Semua kembali lagi pada selera pasar meskipun idealisme penulis mutlak tetap ada. 



Gambar: nbcnews.com

How do you react to this story?




Read more

Anda akan mendapatkan benefit jika saat mengunjungi konten ini dalam keadaan LOGIN . Silakan LOGIN atau DAFTAR untuk mendapatkan benefitnya.

Login untuk meninggalkan komentarmu

Loading